Sebagai bentuk komitmen nyata dalam penerapan sains dan teknologi bagi masyarakat pesisir Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar Program Pengabdian Masyarakat (PPM) Bottom Up 2026 bertajuk “Monitoring dan Konservasi Penyu Berbasis Digital melalui Pelatihan Aplikasi Partisipatif Masyarakat Pesisir Sabu-Raijua”. Program unggulan ini diketuai oleh Prof. Dr. Mutiara Rachmat Putri (Dosen ITB) dan berpusat di Desa Eilogo, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rangkaian program yang berlangsung sejak awal tahun hingga November 2026 ini mencapai puncaknya pada agenda sosialisasi dan workshop lapangan tanggal 27–31 Juli 2026. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan sinergi lintas lembaga yang erat, mencakup periset dari PRIMA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mahasiswa S1, S2, dan S3 Program Studi Oseanografi serta Sains Kebumian ITB, dosen Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan (MSP) Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Cendana (Undana), serta garda terdepan masyarakat lokal yakni Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) dari Desa Deme, Desa Waduwalla, Desa Dainao, dan Desa Bodae.
Mengenal Penyu sebagai "Insinyur Ekosistem Laut"
Dalam pelaksanaan pelatihan dan edukasi literasi bahari, Prof. Mutiara Rachmat Putri menegaskan bahwa penyu bukanlah sekadar hewan laut biasa, melainkan "insinyur alami ekosistem laut". Sama halnya dengan insinyur manusia yang mendesain dan merawat infrastruktur teknologi, penyu bekerja secara alami memelihara keseimbangan serta daya dukung lingkungan laut Sabu Raijua. Fungsi vital penyu bahkan dimulai saat ia mendarat di pesisir; cangkang telur hasil penetasan menyuplai nutrisi organik berharga bagi pasir dan tumbuhan pesisir.
Di kawasan perairan Sabu Raijua, khususnya pantai Desa Eilogo, tercatat ada 4 spesies penyu utama yang rutin mendarat dan bertelur:
Digitalisasi Konservasi dan Aksi Penyelamatan Lapangan
Tantangan utama perlindungan satwa dilindungi di pulau-pulau terluar adalah keterbatasan jangkauan pemantauan fisik. Melalui PPM ITB, warga lokal dan anggota Pokmaswas dilatih memanfaatkan aplikasi digital berbasis partisipatif (citizen science). Dengan aplikasi ini, warga dapat mencatat titik koordinat penemuan sarang, jenis penyu yang mendarat, hingga melaporkan indikasi ancaman predator atau pencurian telur secara cepat dan terintegrasi.
Keberhasilan integrasi teknologi dan kesiapsiagaan masyarakat ini terbukti langsung pada workshop lapangan di pantai Desa Eilogo pada Kamis dini hari (30/7/2026). Tim gabungan dari ITB, Undana, BRIN, dan Pokmaswas berhasil mengidentifikasi pendaratan penyu dan menyelamatkan sebanyak 116 butir telur penyu untuk dipindahkan ke lokasi inkubasi semi-alami yang aman.
Dampak Jangka Panjang dan Harapan Masa Depan
Melalui pendampingan digital ini, ITB bercita-cita membangun kemandirian konservasi berbasis komunitas. Warga Sabu Raijua tidak hanya menjadi penonton, tetapi subjek utama penjaga kelestarian bahari. Sinergi antara pengetahuan akademik dan kearifan lokal diharapkan menjadi acuan model konservasi pesisir digital yang dapat direplikasi di kawasan pesisir Indonesia lainnya.
Referensi :
https://kupang.tribunnews.com/regional-ntt/973714/ppm-itb-di-sabu-raijua-warga-dilatih-lindungi-penyu-berbasis-digital