BANDUNG – Center for Remote Sensing Institut Teknologi Bandung (CRS ITB) kembali menunjukkan peran aktifnya dalam menyelesaikan permasalahan urban yang mendesak melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat Tahun 2025. Kegiatan strategis ini diketuai langsung oleh Dr. Agung Budi Harto, yang juga menjabat sebagai Kepala CRS ITB. Dalam pelaksanaannya, Dr. Agung didukung oleh tim pelaksana yang terdiri dari Like Hana Purba, Cokro Santoso, Ar’rafi Malika Ardy, dan Elva Ummah Ni’matal. Tim ini bergerak sinergis membawa misi pemutakhiran data persampahan Kota Bandung melalui pendekatan teknologi spasial canggih.
Latar belakang inisiatif ini merespons kondisi krisis pengelolaan sampah yang kian kompleks di Kota Bandung. Perubahan kebijakan kuota ritasi menjadi tonase di TPA Sarimukti menyebabkan penumpukan sampah di berbagai sudut kota. Dr. Agung Budi Harto menyoroti bahwa upaya pemerintah daerah seperti program Kang Pisman dan Kawasan Bebas Sampah selama ini terkendala oleh kurangnya data rinci. "Saat ini data timbulan sampah masih dalam bentuk agregat kawasan. Kita memerlukan rincian hingga tingkat RT/RW bahkan bangunan untuk pengambilan kebijakan yang presisi, bukan sekadar asumsi," tegas Dr. Agung mengenai urgensi kegiatan ini.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim CRS ITB mengembangkan sistem pemetaan berbasis GeoIntelligence. Kegiatan yang berlangsung intensif dari Agustus hingga Oktober 2025 ini berfokus pada pemetaan kondisi penanganan sampah di level mikro, termasuk analisis frekuensi pengangkutan dan jalur armada. Teknologi ini memungkinkan tim untuk memprediksi timbulan sampah di tingkat bangunan secara akurat. Lokasi yang menjadi fokus utama adalah wilayah dengan kepadatan tinggi dan akses terbatas, yakni Kelurahan Kopo dan Babakan Asih di Kecamatan Bojongloa Kaler.
Melalui serangkaian tahapan mulai dari audiensi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Focus Group Discussion (FGD), hingga survei lapangan, tim berhasil mengidentifikasi kesenjangan pelayanan yang signifikan. Berdasarkan analisis data, wilayah seperti Batununggal dan Sukajadi memiliki performa penanganan sampah yang optimal. Sebaliknya, Kecamatan Bojongloa Kaler memiliki performa rendah akibat padatnya permukiman dan akses jalan yang sempit. Temuan lapangan di Kopo dan Babakan Asih bahkan menunjukkan fakta mengejutkan: sekitar 25 persen wilayah tersebut belum terjangkau layanan pengangkutan sampah, padahal potensi timbulan sampah mencapai 1 ton per RW setiap harinya.
Sebagai output konkret dari kegiatan ini, tim CRS ITB tidak hanya menyajikan peta masalah, tetapi juga solusi teknis. Tim merekomendasikan penempatan 11 titik pengangkutan komunal di Kelurahan Kopo dan 18 titik di Babakan Asih. Rekomendasi titik komunal ini dirancang untuk mengatasi kendala aksesibilitas armada di gang-gang sempit, sehingga pengangkutan menjadi lebih efisien. Dengan integrasi data primer dan prediksi Machine Learning, solusi berbasis GeoIntelligence ini diharapkan mampu mendukung Pemerintah Kota Bandung mewujudkan pengelolaan sampah yang presisi, berkelanjutan, dan kolaboratif.