Penulis:
Dr. Bagas Dwipantara Putra
Assistant Professor in Urban Planning and Design Research Group
SAPPK ITB.
Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Barat menggelar program pengabdian kepada masyarakat di Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Program ini menyasar pengentasan kemiskinan melalui tiga pendekatan utama, yaitu pengembangan potensi wisata sungai, penanaman bambu untuk konservasi lingkungan, serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) warga setempat. Kegiatan pengabdian ini melibatkan pemerintah desa, kelompok masyarakat, pelaku usaha lokal, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi ini menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan di daerah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di lapangan pada rentang bulan Oktober 2025 hingga Mei 2026 di Desa Cijambu, Kabupaten Bandung Barat.
Desa Cijambu dipilih sebagai lokasi intervensi karena memiliki potensi sumber daya alam yang belum tergarap optimal, sementara sebagian besar warganya masih berada dalam kategori masyarakat berpenghasilan rendah. Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, tim dari ITB dan Bappeda Jabar merumuskan pendekatan pembangunan berbasis potensi lokal (asset-based development) agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat desa.
Dr. Bagas Dwipantara Putra, selaku Ketua Tim Pengabdian Masyarakat SAPPK ITB, menjelaskan bahwa program ini dirancang tidak hanya sebagai bantuan sesaat, melainkan sebagai upaya membangun kapasitas warga agar mampu mengelola sendiri potensi ekonomi di wilayahnya. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan participatory mapping untuk memetakan potensi dan masalah desa sebagai awalan untuk mengidentifikasi dan karakteristik Desa Cijambu.
Rangkaian kegiatan diawali dengan survei lapangan dan penggalian potensi bersama masyarakat setempat. Dari hasil identifikasi awal, tim menemukan bahwa pengembangan ekonomi Desa Cijambu memerlukan perhatian pada tiga aspek utama, yaitu potensi wisata alam, konservasi kawasan aliran sungai, serta penguatan kapasitas usaha mikro warga.
Dari hasil participatory mapping, dari tim ITB dan Bappeda Provinsi Jabar bersama Kepala Desa Cijambu, perangkat desa, dan perwakilan kelompok masyarakat menemukan adanya potensi lokal yang besar di Desa Cijambu, mulai dari pertanian, peternakan, bahkan wisata alam, namun pengembangannya masih terbatas karena pengelolaan yang belum optimal. “Cijambu bisa dibilang kaya, bahkan ada puluhan sampai ratusan ternak di sini,” ujar Pak Ayi Muhidin selaku Kepala Desa Cijambu.
Pengembangan Wisata Sungai
Salah satu fokus utama program adalah pengembangan potensi wisata alam berbasis sungai yang berada di kawasan Desa Cijambu. Sejak sebelum dilakukan pengabdian ini, di Cijambu masih belum berkembang terkait wisata ini yang salah satunya karena keterbatasan akses, namun masyarakat dapat melihat bahwasanya terdapat potensi untuk pengembangan wisata sungai. Oleh karena itu, tim pengabdian melakukan pemetaan potensi lanskap, penataan akses menuju lokasi wisata, serta pendampingan kepada kelompok masyarakat yang akan mengelola destinasi tersebut secara mandiri. Konsep wisata yang dikembangkan mengedepankan prinsip perancangan waterfront yang dikembangkan menjadi Riverfront Tourism, yakni memanfaatkan keindahan alam tanpa merusak kelestarian lingkungan sekitar dan kegiatan yang dikembangkan berfokus pada sungai.
Kegiatan kontruksi dilakukan dengan perbaikan akses menuju tepi sungai dari pintu utama yang berlokasi di dekat jalan utama. Akses ini dipilih karena memberikan pemandangan yang indah dengan melewati area persawahan. Di bagian akhir, ditepi sungai, direncanakan sebagai tempat wisata yang bisa digunakan oleh wisatawan untuk piknik, bermain air, dan menikmati pemandangan. Objek wisata ini nantinya akan dikelola secara mandiri oleh warga masyarakat. Selain menjadi sumber pendapatan baru bagi warga, keberadaan destinasi wisata ini diharapkan nantinya dapat membuka lapangan kerja di sektor jasa, seperti pemandu wisata lokal hingga penyediaan kuliner khas desa.
Penanaman Bambu untuk Konservasi dan Ekonomi
Program pengabdian juga mencakup kegiatan penanaman bambu di area-area yang berfungsi sebagai penyangga daerah aliran sungai (DAS) dan kawasan tangkapan air di sekitar waduk. Penanaman bambu dipilih karena perannya yang ganda, yaitu berfungsi ekologis untuk mencegah erosi dan menjaga ketersediaan air, bambu juga memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai bahan baku kerajinan dan konstruksi.
Ke depan, hasil panen bambu ini diproyeksikan dapat menjadi bahan baku tambahan bagi UMKM lokal, khususnya perajin golok, sehingga tercipta rantai pasok bahan baku yang lebih berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada sumber dari luar desa.
Penguatan UMKM Lokal
Pada aspek penguatan ekonomi mikro, tim pengabdian memberikan pendampingan kepada empat kelompok UMKM unggulan Desa Cijambu, yaitu perajin golok, produsen gula aren, pengolah manisan, dan produsen kerupuk. UMKM ini sebelumnya sudah berkembang, namun masyarakat mengatakan bahwasanya masih terbatas dalam proses produksi dan pemasaran. Dari permasalahan tersebut, tim pengabdian ITB melakukan pendampingan yang mencakup perbaikan kualitas produk, standardisasi kemasan, hingga strategi pemasaran agar produk-produk tersebut dapat menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk melalui platform digital.
“Produksi yang bisa kita hasilkan cukup besar, tapi hambatannya itu di sisi modal dan marketing. Untuk golok sekarang sulit untuk menjual lebih,” kata Pak Yusup Supriatna selaku Sekretaris Desa Cijambu.
Perwakilan Bappeda Provinsi Jawa Barat menyampaikan bahwa program ini sejalan dengan agenda besar pemerintah provinsi dalam menekan angka kemiskinan di wilayah-wilayah tertinggal, termasuk di Kabupaten Bandung Barat. Kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti ITB dinilai penting untuk menghadirkan pendekatan berbasis riset dan data dalam merancang intervensi pembangunan desa.
Harapan Keberlanjutan Program
Masyarakat menyambut positif program yang sedang berjalan dan menyampaikan sejumlah harapan, antara lain keberlanjutan pendampingan pemasaran produk UMKM, dukungan promosi destinasi wisata ke tingkat kabupaten dan provinsi, serta bantuan dalam menjembatani komunikasi dengan pemerintah daerah untuk pengembangan infrastruktur pendukung.
Dalam rangka memperkuat koordinasi lintas sektor, tim juga melakukan audiensi dengan perwakilan Bappeda Provinsi Jawa Barat dan pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Dalam diskusi tersebut, disampaikan bahwa program ini sejalan dengan agenda besar pemerintah provinsi dalam menekan angka kemiskinan di wilayah-wilayah tertinggal, dan berpotensi menjadi model yang dapat direplikasi di desa-desa lain dengan karakteristik serupa.
Tim pengabdian menegaskan bahwa program di Desa Cijambu akan terus dipantau melalui pendampingan lanjutan, agar hasil yang telah dicapai tidak berhenti pada tahap awal saja. Sinergi antara ITB, Bappeda Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Desa Cijambu, dan masyarakat setempat diharapkan dapat menjadi model pengentasan kemiskinan berbasis potensi lokal yang dapat direplikasi di desa-desa lain dengan karakteristik serupa.