Aktivitas masyarakat Desa Sumpur Kudus, atau juga disebut Nagari Sumpur Kudus, Selalu berhubungan dengan kelestarian hutan. Hutan menjaga persediaan air dan memberikan mata pencaharian bagi masyarakat nagari. Tak heran jika pelestarian hutan masuk ke dalam peraturan adat masyarakat setempat. Bahkan, sejak 2018, Nagari Sumpur Kudus diberi amanah untuk melakukan berbagai kegiatan yang menunjang pelestarian hutan, seperti patroli rutin, penanaman pohon, pendataan vegetasi, dan juga respon cepat penebangan liar. Selain aktivitas pelestarian dan pengawasan hutan, masyarakat nagari juga mengembangkan hutan untuk budidaya rotan. Masyarakat menanam, merawat, dan memanen berbagai jenis tanaman rotan yang pertumbuhannya sangat bergantung pada kesehatan hutan.
Oleh karena itu, pada 2023, masyarakat nagari memulai upaya meningkatkan infrastruktur untuk mendukung kegiatan di hutan yang semakin banyak. Mereka mendirikan pos patroli hutan sederhana untuk memudahkan kegiatan di kawasan hutan. Pos ini menjadi tempat yang aman untuk bermalam, menaruh perlengkapan, dan berkegiatan lainnya.
Masalah yang dihadapi Warga
Padatnya kegiatan di dalam hutan dengan medan yang sulit, tentu memiliki tantangan tersendiri. Akses yang sulit membuat fasilitas umum sulit mencapai kawasan pos patroli. Diantaranya adalah suplai listrik dan penerangan. Padahal, suplai listrik digunakan oleh para petani untuk penerangan dan peralatan selama beraktivitas di hutan seperti memanen rotan, mengawasi hutan, melestarikan hutan, dan lain-lain. Di malam hari, para petani juga menggunakan listrik untuk penerangan dengan lampu kepala. Di siang hari, listrik digunakan untuk mengisi daya peralatan dan gadget yang diperlukan. Hal ini tentu menjadi kebutuhan yang penting bagi mereka.
Tidak adanya suplai listrik memperumit keadaan karena mereka harus bergantung pada baterai sebagai sumber energi utama. Namun, baterai memiliki kapasitas daya yang terbatas dengan harga yang tidak murah. Dalam seminggu, para petani dapat menghabiskan sekitar 5-6 juta rupiah untuk membeli baterai. Selain itu, baterai dan sumber listrik seperti power supply portable mempersulit perjalanan karena menambah barang yang harus dibawa melalui medan yang sulit.
“Dalam sebulan, paling tidak satu atau dua minggu kita berkegiatan di dalam hutan. Dalam satu bulan itu kita bisa mengeluarkan 6 juta (rupiah) untuk membeli baterai dan sebagainya.” Ujar salah satu petani rotan yang aktif berkegiatan di hutan Desa Sumpur Kudus.
Bantuan dari Tim Pengabdian Masyarakat ITB
Mengetahui permasalahan ini, tim dari Institut Teknologi Bandung bekerja sama dengan warga setempat untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik di pos patroli. Pada tahun 2024 silam, tim pertama telah berhasil memasang pembangkit listrik tenaga pikohidro (PLTPH), yaitu pembangkit listrik tenaga air skala kecil, yang memanfaatkan aliran air debit kecil di sekitar pos patroli. Namun, pembangkit tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan listrik di pos dan kebutuhan penerangan di jalur rotan. maka dari itu, tim tersebut kembali di tahun 2025 untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut.
Pada tahun ini, tim memasang beberapa alat baru. Yang pertama adalah panel penerangan jalur rotan. Panel penerangan dipasang di empat titik penting pada jalur rotan. Keempat titik ini terdiri dari tempat yang sering digunakan untuk istirahat atau tempat yang berpotensi membuat tersesat. Panel ini ditenagai oleh aki agar dapat bekerja tanpa perlu memasang kabel yang panjang. Yang membuat panel ini berbeda dari yang lain, panel ini memiliki fitur menyala otomatis ketika ada orang yang lewat di dekatnya. Uniknya lagi, panel-panel penerangan ini sudah memiliki kemampuan Internet of Things (IoT). Panel-panel ini dapat berkomunikasi satu sama lain untuk mengindikasikan sisa daya dalam aki dan dikirimkan ke panel monitoring di pos patroli. Ketika daya sudah lemah, panel monitoring akan memberikan indikator lampu dan suara peringatan sehingga para petani atau petugas yang ada di pos bisa menukarkan aki pada panel penerangan dengan aki yang dayanya sudah diisi dengan listrik di pos. dengan begitu, para petani tahu kapan dan titik penerangan mana saja yang akinya harus diganti. Inovasi ini menggunakan teknologi untuk membuat panel penerangan lebih awet dan memudahkan pemeliharaan.
Alat kedua yang dipasang oleh tim ini adalah perangkat pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). PLTS dengan kapasitas produksi 400 Wp (Watt peak) ini dipasang untuk menunjang suplai listrik dari pembangkit pikohidro yang dipasang setahun sebelumnya. PLTS dihubungkan dengan jaringan listrik dari pembangkit pikohidro sebagai backup terhadap pembangkit pikohidro. Sistem listrik juga menggunakan teknologi saklar otomatis yang akan mengganti sumber listrik jika listrik dari pikohidro sedang habis. PLTS dipasangkan pada tiang-tiang kayu di dekat pos untuk memudahkan pemeliharaan dan instalasi. Instalasi PLTS ini diharapkan akan memenuhi kebutuhan listrik untuk lampu penerangan di pos, mengisi daya aki panel penerangan, dan juga mengisi daya alat-alat lain yang diperlukan para petani.
Selain memasang PLTS, tim ini juga melakukan pemeliharaan dan penyempurnaan sistem pembangkit pikohidro yang sudah ada. Warga setempat juga turut membantu membuatkan jalur air khusus dan juga penyaring agar suplai air ke pembangkit pikohidro lebih stabil dan bersih. Tim juga memberikan delapan buah lampu kepala yang dayanya bisa diisi ulang untuk para petani dan petugas yang sering melalui jalur ini. Pemasangan PLTS bersama dengan pembangkit pikohidro sebagai sumber listrik untuk panel penerangan dan lampu kepala ini menjadi bentuk pemanfaatan teknologi energi baru terbarukan sebagai solusi kebutuhan listrik untuk skala lokal.
Tim program pengabdian masyarakat ini dipimpin oleh Dr. Bryan Denov, S.T., M.T. dari Kelompok Keahlian Teknik Ketenagalistrikan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB. Tim ini terdiri dari beberapa dosen dan teknisi laboratorium dari Institut Teknologi Bandung, yaitu:
Selain itu, enam mahasiswa dari program studi teknik elektro dan teknik tenaga listrik STEI ITB juga menjadi bagian dari program ini melalui skema Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM). Enam mahasiswa yang berpartisipasi dalam pembuatan dan pemasangan alat-alat ini adalah Gregorius Yoga robianto, Habibie Muhammad Ghifari, Hilary Evelyn Tjandra, Muhammad Luthfii Alghazali, Rafie Naufal Halimi, Taqidito Ilham Pratama. Tim ini bergerak di bawah koordinasi dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (DRPM ITB). Tim juga melibatkan aktivis pengelolaan rotan lestari “Jelajah Rattan”, diwakili oleh Muhammad Alfath Kurniadi, dan juga warga setempat.
Bryan, pemimpin tim pengabdian masyarakat ini, berharap program ini memberikan manfaat untuk semua pihak yang terlibat di dalamnya. “Harapannya untuk desa ini semoga semakin maju. Untuk mahasiswa dan dosen-dosen juga di program ini bisa memberikan pengalaman yang bermanfaat. Intinya semoga semua sukses dan lancar, aamiin,” Ucap Bryan ketika diwawancara saat perjalanan.
Harapan Warga terhadap Pengembangan Berikutnya
Warga sekitar dan para petani merespon program ini dengan baik. Mereka turut mendukung dan berpartisipasi dalam pemasangan dan pemeliharaan seluruh perangkat yang ada sepanjang program ini berlangsung. Mereka berharap pengembangan Desa Sumpur Kudus dapat terus berlanjut. Mereka juga berterima kasih kepada ITB yang sering mengirimkan tim untuk pengembangan desa ini.
Pak Datuak, mewakili tim patroli Lembaga Pemelihara Hutan Nagari (LPHN) Sumpur Kudus, merasa sangat terbantu dengan program ini. Ia mengatakan, “Sebelumnya kami tidak mempunyai listrik dalam melaksanakan tugas sebagai pemelihara kehutanan sosial Sumpur Kudus. Alhamdulillah adanya pikohidro dan panel surya telah membantu tugas kami sebagai tim patroli LPHN Sumpur Kudus. Sebelumnya lampu penerangan di posko sangat terbatas. Dengan penopang listrik ini, alhamdulillah lampu bisa menyala sampai siang. Ditambah lagi dengan lampu di titik-titik trek perjalanan akan sangat membantu kami dalam menjaga kehutanan sosial Sumpur Kudus.”
Alfath, sebagai aktivis pengelola rotan Desa Sumpur Kudus, mengaku bahwa dampak jangka panjang dari pemasangan penerangan dan PLTS ini akan sangat besar. Selain membantu ketersediaan listrik untuk keperluan budi daya rotan, hal ini juga membantu kegiatan pelestarian hutan yang dilaksanakan oleh warga setempat. Ia juga menyebutkan bahwa warga sangat terbuka terhadap pengembangan pengabdian masyarakat berikutnya di Nagari Sumpur Kudus.
“Kalau ditanya kebermanfaatan ini (program pengabdian masyarakat ITB) luar biasa. Kita sangat berterima kasih kepada teman-teman dari ITB. Dampaknya dirasakan jangka panjang. Kalau kita lihat lebih dalam lagi, kita (dengan program ini) sangat support keberlangsungan hidup warga sekitar sekaligus upaya konservasi hutan dan menjaga biodiversity. Kami sangat terbuka untuk ide-ide lain dari teman-teman ITB” Ujar Alfath
Warga setempat berencana untuk menghidupi kembali sektor pariwisata di Nagari Sumpur Kudus. Saat ini, Nagari Sumpur Kudus terdaftar sebagai desa wisata. Bahkan, pada tahun 2023, Desa Sumpur Kudus berhasil mencapai peringkat 300 besar di Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) yang diadakan oleh Kemenparekraf. Warga berharap pengembangan teknologi energi baru terbarukan dapat dikembangkan hingga masuk ke sektor pariwisata desa ini. Salah satunya adalah dengan melaksanakan penyediaan energi baru terbarukan di beberapa titik pariwisata, terutama di lokasi wisata kolam renang yang rencananya akan direvitalisasi sebelum dibuka untuk umum.
Andri, wali nagari atau kepala desa di Nagari Sumpur Kudus, mengucapkan terima kasih banyak dan berharap ITB dapat membantu penyediaan listrik di tempat wisata. “Alhamdulillah kontribusi ITB ke nagari kami dampaknya sangat banyak. Terima kasih banyak. Harapannya dengan program ini, sumber air dan sumber alamnya tetap alami dan terjaga dengan baik. Kami juga berharap ITB bisa membantu kami untuk sumber listrik seperti ini di tempat wisata kami di jalur pendakian tadi.” Ujarnya saat diwawancara di pos patroli.
PLTS dan penerangan di trek hutan
Pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan panel penerangan IoT di Nagari Sumpur Kudus menjadi bentuk nyata kolaborasi institusi pendidikan dengan masyarakat untuk pengembangan solusi energi yang bersih dan berkelanjutan dalam skala lokal. PLTS ini menggunakan 4 buah panel surya yang secara keseluruhan memberikan daya maksimal 400 Wp (Watt peak). Daya listrik DC yang dihasilkan kemudian masuk ke modul Maximum Power Point Tracking (MPPT) untuk mengendalikan pengisian baterai. Baterai yang digunakan adalah baterai LiFePO4 atau biasa disebut LFP berkapasitas 12V 100 Ah. Daya dari baterai kemudian diubah menjadi listrik AC yang stabil menggunakan inverter dan listrik disalurkan ke beban seperti lampu dan perangkat elektronik. Sistem listrik ini dapat mengelola daya dengan lebih baik dengan kapasitas penyimpanan yang lebih besar. Selain itu, sistem kelistrikan ini juga menggunakan pengamanan elektrik menggunakan circuit breaker dan juga fuse agar aman dari korsleting listrik. Dengan begitu, penggunaan listrik lebih aman dan andal.
Penghubungan sistem listrik PLTS dengan pembangkit pikohidro dilakukan dengan menggunakan saklar otomatis yang disebut ATS. Saklar ini bekerja untuk mengubah sumber listrik yang digunakan jika sumber utama tidak memberikan listrik. Dengan begitu, saat listrik pembangkit pikohidro habis akibat kurangnya debit air atau terganggu sampah, sistem akan otomatis menggunakan listrik dari sistem PLTS. Dengan begitu, pemanfaatan listrik dapat berjalan tanpa gangguan.
Sistem panel penerangan menggunakan lampu strip LED sepanjang 2 meter di sebelah kanan dan kiri. Strip lampu ini dipasangkan ke pohon terdekat sekaligus menjadi penanda arah jalur berikutnya. Fitur nyala otomatis pada panel ini akan menyala ketika ada orang yang menghampiri dan akan mati ketika orang tersebut pergi. Fitur ini bekerja secara otomatis menggunakan sensor gerakan passive infrared sensor (PIR) yang dihubungkan dengan Arduino Nano. Sensor ini hanya mendeteksi radiasi inframerah dari manusia dan hewan. Namun, alat ini juga dilengkapi dengan tombol manual untuk menyalakan lampu secara manual jika petugas ingin beristirahat sebentar di dekat panel. Sensor ini membuat operasi panel penerangan lebih praktis dan hemat energi.
Selain itu, panel penerangan memiliki fitur IoT berbasis komunikasi nirkabel protokol LoRa. Sistem komunikasi ini dapat mengirimkan pesan di medan hutan pada rentang jarak maksimal 400 meter antar satu devais dengan devais lainnya. Sistem komunikasi ini digunakan untuk mengirimkan data persentase daya aki dalam masing-masing panel penerangan ke panel monitoring di posko patroli. Panel monitoring akan memberikan notifikasi berbentuk lampu indikator dan juga buzzer suara untuk memberitahu petugas untuk segera mengganti aki pada panel terkait dengan aki yang dayanya sudah penuh.
Pemasangan PLTS dan panel penerangan ini bertujuan untuk menunjang hasil hutan bukan kayu (HHBK) dari hutan Nagari Sumpur Kudus. Dengan adanya listrik dan penerangan di area hutan, aktifitas penjagaan hutan dan budi daya rotan sehari-hari akan lebih mudah. Perjalanan petugas dan petani di malam hari pun akan lebih aman dan tidak rawan tersesat.
Kalangan pemuda juga diharapkan bisa lebih aktif untuk turut berkontribusi dalam mengembangkan industri lokal ini. Dengan adanya listrik, para pemuda dapat memanfaatkan teknologi dan sosial media untuk membantu menyebarkan kesadaran akan pentingnya menjaga hutan dan menambah ketertarikan pemuda untuk beraktifitas di alam. Dengan begitu, kegiatan penjagaan hutan dan industri rotan ramah lingkungan ini dapat terus berlanjut.
Yusuf, salah satu warga sekaligus tim yang membantu pemasangan alat, mengatakan bahwa pemasangan fasilitas listrik dan penerangan di jalur rotan sangat membantu aktifitas dan menurutnya menambah daya tarik pemuda untuk berkreasi memanfaatkan keahliannya di bidang teknologi informasi untuk kepentingan pelestarian hutan dan industri HHBK ramah lingkungan. “aktifitas kami biasanya menjaga hutan dan membawa hasil rotan. PLTS dan panel penerangan rasanya akan membuat para pemuda lebih tertarik untuk beraktivitas di hutan. Dengan adanya alat ini, harapannya hutan akan lebih terlindungi dengan baik,” Ujar Yusuf.