Diagnosis Pendidikan: FMIPA ITB Temukan Bottleneck Kemampuan Matematika Siswa di Kawasan Cekungan Bandung (Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Sumedang & Cimahi

BANDUNG – Tim Mathematics Excellence Recognition Award (MathERA) dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB), bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, merilis hasil komprehensif Pemetaan Kompetensi Matematika. Kegiatan yang berlangsung pada 3-4 dan 10-11 Februari 2026 ini melibatkan sampel lebih dari 6.600 siswa dari berbagai Sekolah SD dan SMP Negeri serta Swasta yang tersebar di lima wilayah, yakni Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, Kota Bandung, dan Kota Cimahi.

Kegiatan ini dipimpin oleh Prof. Dr. Edy Tri Baskoro selaku Ketua Pelaksana, dengan dukungan tim ahli yang terdiri dari:

  • Prof. Woro Setya Budhi, Ph.D.
  • Prof. Dr. Irawati
  • Prof. Hilde Astiyatun, Ph.D.
  • Prof. Dr. Agus Yodi Gunawan
  • Dr. Gantina Rachmaputri, S.Si., M.Si.
  • Dr. Suhadi Wido Saputro, S.Si., M.Si.
  • Dr. Eric, S.Si., M.Si.
  • Dr. Fajar Yulianto, S.T., M.T.
  • Dr. Maharani Ahsani Ummi
  • Muhammad Islahuddin, S.Si., M.Sc.
  • Dr. Aditya Purwa Santika, S.Si., M.Si.
  • Prof. Dr. M. Salman A.N.
  • Oki Neswan, Ph.D.
  • Afif Humam, M.Si.
  • Dr. Mochamad Apri, S.Si., M.Sc.
  • Dr. Elvira Kusniyanti, S.Si., M.Si.
  • Dr. Arnalis Yahya, M.Si.
  • Dr. Erma Suwastika, S.Si., M.Si.
  • Adilan Widyawan Mahdiyasa, S.Si., M.Si., Ph.D.
  • Dr. Adhe Kania, S.Si., M.Si.
  • Dr. Finny Oktariani
  • Arif Rifai, S.T., M.T.

Transformasi Paradigma Pembelajaran Berbeda dengan evaluasi konvensional, pemetaan ini menggunakan pendekatan Item Response Theory (IRT) untuk mengukur kemampuan laten siswa secara akurat melalui spektrum kompetensi mulai dari pemahaman konseptual hingga pemecahan masalah.

Hasilnya kurang memuaskan; distribusi kemampuan siswa SD didominasi level rendah ke menengah, dengan hanya 1,79% siswa yang mampu mencapai level penyelesaian masalah tingkat tinggi. Kondisi ini memburuk di jenjang SMP, di mana level tertinggi hanya dicapai oleh 1,17% siswa.

Menanggapi hal ini, Prof. Dr. Edy Tri Baskoro menegaskan, "Temuan ini mengkonfirmasi pola yang konsisten dengan studi internasional seperti PISA maupun asesmen nasional. Mayoritas siswa kita masih kuat di prosedur, tetapi belum terlatih secara sistematis dalam penalaran dan pemecahan masalah. Ini bukan sekadar isu hasil belajar, melainkan isu paradigma pembelajaran." Beliau juga menyoroti bahwa peningkatan jenjang pendidikan belum secara signifikan meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.

Aljabar Sebagai Hambatan Utama Data mengungkap bahwa kemampuan Aljabar menjadi titik lemah utama di kedua jenjang, dengan rata-rata skor SD sebesar 31,79 dan SMP sebesar 27,00 dari skala 100.

Dr. Gantina Rachmaputri, selaku narahubung MathERA, menyebut Aljabar sebagai bottleneck pendidikan. "Aljabar adalah bottleneck utama. Jika siswa lemah di Aljabar sejak SD, maka kesulitan di SMP dan seterusnya hampir pasti terjadi," jelasnya. Melalui pemetaan ini, diharapkan intervensi pendidikan ke depan dapat lebih tepat sasaran guna memperbaiki struktur kemampuan matematika siswa secara mendalam.

Komitmen Masa Depan Sebagai penutup, tim menekankan pentingnya evaluasi yang berorientasi pada kualitas bernalar. "Tim MathERA FMIPA ITB berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan sistem evaluasi dan pembelajaran matematika yang berorientasi pada kualitas berpikir dan bernalar. Di sinilah kunci meningkatkan daya saing bangsa di era sains dan teknologi," pungkas tim.

SDGs : #SDG4 #SDG8 #SDG10

237

views

09 May 2026