BANDUNG, DPMK ITB – Dalam rangka menindaklanjuti kerja sama antara Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT) dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), diperlukan penguatan kolaborasi yang lebih konkret dan berkelanjutan. Kolaborasi tersebut difokuskan pada pengembangan inovasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), penguatan kelembagaan, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) guna mendukung pembangunan desa dan daerah tertinggal.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, delegasi Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT) Kemendesa PDT melakukan kunjungan kerja ke Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB pada Rabu (17/6/2026). Pertemuan berlangsung di Kantor DPMK ITB, Gedung CRCS Lantai 7, Kampus Ganesha ITB, Bandung.
Dalam pertemuan tersebut, Ditjen PPDT Kemendesa PDT memaparkan arah kebijakan percepatan pembangunan daerah tertinggal yang salah satunya dijalankan melalui kolaborasi dengan International Fund for Agricultural Development(IFAD) dalam Program Indonesia Food Systems and Infrastructure for Villages in Disadvantaged Areas (IFSIV). Program ini berfokus pada perbaikan pola konsumsi masyarakat melalui pengembangan sistem pangan yang memanfaatkan pangan lokal di daerah.
Program ini merupakan bagian dari pelaksanaan mandat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, khususnya Asta Cita ke-6, yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pengentasan kemiskinan. Implementasinya menjadi salah satu sasaran strategis dalam Rencana Strategis (Renstra) Kemendesa PDT 2025–2029 yang menargetkan percepatan pembangunan di 30 daerah tertinggal.
Selain itu, program tersebut juga diselaraskan dengan Rencana Aksi Percepatan Pembangunan Papua (RAPPP)melalui tiga fokus utama, yaitu Papua Sehat, Papua Cerdas, dan Papua Produktif, sebagai upaya mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah Papua. Dalam implementasinya, program ini menjangkau 15 kabupaten, yang terbagi ke dalam 52 klaster dan mencakup 400 desa. Dari jumlah tersebut, terdapat 293 desa tertinggal dan sangat tertinggal (termasuk 260 desa fokus PKPN), 93 desa berkembang, 13 desa maju, dan 1 desa mandiri. Lokasi sasaran program tersebar di Kabupaten Teluk Bintuni, Manokwari Selatan, Teluk Wondama, dan Maybrat di wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya; Supiori, Waropen, Mamberamo Raya, dan Jayawijaya di wilayah Papua; Boven Digoel, Asmat, dan Mappi di wilayah Papua Selatan; serta Nias Utara, Sabu Raijua, Sumba Tengah, dan Sumba Barat Daya sebagai wilayah pendukung percepatan pembangunan di luar Papua.
Kunjungan kerja Ditjen PPDT Kemendesa PDT dipimpin oleh Fince Decima Hasibuan, S.STP., M.Si., selaku Direktur Penyerasian Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Daerah Tertinggal, didampingi oleh staf direktorat, yaitu Zimmy Permana Sembiring, Aldora Nuary W., dan Allendoa Pangestu Ramlan F.
Rombongan diterima oleh jajaran DPMK ITB yang diwakili oleh Dr.rer.nat. David Prambudi Sahara, S.T., M.T., selaku Deputi Direktur Bidang Pengabdian Masyarakat; Selvie Amriani, S.Si., M.T., Kepala Subdirektorat Program, Monitoring, dan Evaluasi; Ferdyansyah Poernama, Kepala Seksi Pengelolaan Pengabdian Masyarakat; serta tim Program Pengabdian Masyarakat, yaitu Nisa Refika, S.Si., Rizal Bagus Nur Achmad, S.T., M.Kom., dan Awal Wahyu Rahmadi, S.Ds.
Pada kesempatan tersebut, DPMK ITB menyampaikan komitmen penuh untuk mendukung berbagai program strategis yang diinisiasi oleh Kemendesa PDT. Dukungan tersebut akan diwujudkan melalui pemanfaatan kapasitas akademik ITB, pengembangan inovasi berbasis riset, penguatan kapasitas masyarakat, serta penyediaan layanan kepakaran yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah tertinggal.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini, kedua belah pihak sepakat untuk segera menyusun Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara DPMK ITB dan Ditjen PPDT Kemendesa PDT guna memperkuat sinergi serta memastikan implementasi program berjalan secara efektif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di daerah tertinggal.