Tim dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) telah sukses melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Implementasi Desain Media Pembelajaran Interaktif untuk Meningkatkan Kualitas Belajar di SDN 02 Matotonan, Mentawai”. Kegiatan ini dipimpin oleh ketua tim Dr. Kukuh Rizki Satriaji, M.T. (FSRD ITB) dengan melibatkan anggota tim FSRD ITB lainnya, yaitu Yogie Candra Bhumi, M.Ds., Hatif Adiar Almantara, M.Ds., dan Natas Setiabudhi Daryono Putra, M.Sn. Program ini juga terwujud berkat kolaborasi lintas lembaga bersama mitra akademis dan praktisi, yakni Nandang Septian, M.Ds. dari ISI Yogyakarta, serta Andi Abdul Qodir, M.Ds. dan Ahyaita Nurulloh, S.Par. dari Karasa Bandung. Selain itu, empat mahasiswa ITB turut aktif bergabung dalam kegiatan ini, yaitu Eljihadi Alfin, M.Ds., Ilyan Baharijansah Nugraha, Pharas Wanodja Wening Sukma, dan Charly (catatan: nama yang dicetak tebal merupakan mahasiswa yang belum/tidak memiliki gelar akademis tercantum). Seluruh rangkaian program ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Masyarakat Skema Bottom-Up ITB Tahun 2026 dengan dukungan pendanaan penuh dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada 27 Juli hingga 2 Agustus 2026 di SDN 02 Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Sebagai salah satu daerah yang masuk dalam kategori wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), SDN 02 Matotonan membutuhkan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu membangkitkan motivasi, kebebasan berpikir, serta kreativitas siswa. Melalui media desain, permainan interaktif, dan ekspresi seni, tim pengabdian FSRD ITB berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang segar dan partisipatif bagi anak-anak di pedalaman Mentawai.
Rangkaian Modul & Aktivitas Utama Kegiatan
Dipimpin oleh Dr. Kukuh Rizki Satriaji, M.T., siswa diajak untuk mengenali denah ruang kelas mereka sendiri. Anak-anak diminta mengevaluasi posisi duduk yang paling disukai dan kurang disukai. Selanjutnya, mereka mengekspresikan gagasan tata ruang dengan menyusun model flatpack miniatur mebel dan fasilitas kelas.
“Kami ingin siswa memahami bahwa ruang kelas bukan sesuatu yang hanya mereka terima begitu saja. Ketika diberi kesempatan menyusun ruangnya sendiri, muncul gagasan kreatif yang sangat beragam dan mencerminkan karakter mereka,” jelas Dr. Kukuh.
Nandang Septian, M.Ds. dari ISI Yogyakarta memandu siswa untuk memetakan seluruh area sekolah. Dari pemetaan tersebut, terungkap bahwa perpustakaan dan lapangan menjadi lokasi terfavorit, sedangkan fasilitas toilet dinilai kurang nyaman. Berangkat dari temuan ini, siswa diajak menuangkan gagasan visual mereka melalui gambar denah dan rancangan toilet ideal yang bersih dan nyaman.
Yogie Candra Bhumi, M.Ds. memperkenalkan media permainan modular yang dirancang khusus untuk melatih kecerdasan spasial, koordinasi motorik, kemampuan pemecahan masalah (problem solving), serta imajinasi anak. Siswa diajak merakit berbagai bentuk eksploratif melalui potongan-potongan komponen modular secara kooperatif.
Aktivitas seni visual dipimpin oleh Andi Abdul Qodir, M.Ds. dari Karasa Bandung. Tim mengajak seluruh siswa merancang mural bertema suasana sekolah dan cita-cita masa depan. Gagasan gambar anak-anak kemudian dipindahkan ke dinding sekolah sepanjang 20 meter dengan tinggi 1,5 meter. Selama dua hari, siswa, mahasiswa, dan tim dosen bahu-membahu mengecat dinding tersebut.
“Kami ingin mural ini tumbuh dari gagasan anak-anak Matotonan. Mereka ikut menggambar dan mewarnai, sehingga hasil akhirnya bukan hanya menjadi hiasan sekolah, tetapi juga karya yang mereka rasakan sebagai milik bersama,” ungkap Andi Abdul Qodir, M.Ds.
Di luar agenda formal di sekolah, tim FSRD ITB beserta mitra juga berinteraksi hangat dengan masyarakat dan tokoh warga setempat. Kegiatan ini berkembang menjadi ruang belajar dua arah—di mana tim pengajar membagikan ilmu metode desain dan seni partisipatif, sementara tim juga menyerap nilai-nilai kearifan lokal serta ketangguhan masyarakat Mentawai. Harapannya, media pembelajaran interaktif yang telah diimplementasikan dapat menjadi stimulus berkelanjutan bagi kualitas pendidikan di SDN 02 Matotonan.
Referensi :
https://www.koran-gala.id/gala-edu/58717493072/fsrd-itb-ajak-siswa-sdn-02-matotonan-mentawai-belajar-kreatif-lewat-desain-dan-seni