Penulis:
Dr. Ir. Mustika Dewi, M.Si.
Rekayasa Pertanian SITH ITB
KK Bioteknologi Mikroba
Di tengah hamparan hutan Desa Metut, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, sekelompok warga berkumpul mengelilingi pohon gaharu. Mereka tidak sedang menebang pohon atau memanen hasil hutan. Sebaliknya, mereka belajar menyuntikkan inokulan ke batang pohon untuk merangsang pembentukan gubal gaharu yang bernilai ekonomi tinggi. Di lokasi yang sama, sebagian warga lainnya mempraktikkan cara mengubah limbah biomassa menjadi biochar dan asap cair yang bermanfaat bagi pertanian. Pemandangan ini menjadi gambaran nyata bagaimana ilmu pengetahuan dapat hadir langsung di tengah masyarakat untuk menjawab kebutuhan lokal.
Desa Metut merupakan salah satu wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) di Indonesia. Lokasinya yang jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi membuat masyarakat menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari akses teknologi hingga peluang pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal. Namun, keterbatasan tersebut sesungguhnya menyimpan potensi besar apabila didukung dengan inovasi yang tepat.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa SITH ITB bersama berbagai mitra, masyarakat Desa Metut diperkenalkan pada serangkaian teknologi sederhana namun berdampak besar. Fokus utamanya adalah pemanfaatan sumber daya alam yang telah lama tersedia di sekitar mereka, terutama gaharu dan biomassa.
Gaharu merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu paling bernilai di dunia. Produk ini digunakan sebagai bahan parfum, kosmetik, hingga kebutuhan ritual dan kesehatan di berbagai negara. Nilai jual gubal gaharu berkualitas tinggi dapat mencapai harga yang sangat mahal. Namun, tidak semua pohon gaharu secara alami menghasilkan gubal. Dibutuhkan proses infeksi tertentu yang memicu pembentukan resin aromatik di dalam batang pohon.
Selama ini banyak petani menanam gaharu dengan harapan memperoleh keuntungan di masa depan, tetapi sering kali terkendala kurangnya pengetahuan mengenai teknik pembentukan gubal. Akibatnya, pohon yang telah tumbuh bertahun-tahun belum tentu menghasilkan produk bernilai tinggi. Di sinilah teknologi inokulan dan teknik injeksi memainkan peran penting. Dengan pendekatan berbasis riset, masyarakat dapat memahami cara mempercepat dan mengoptimalkan pembentukan gaharu tanpa harus bergantung sepenuhnya pada proses alami yang tidak menentu.
Selain pengembangan gaharu, teknologi biochar juga menjadi bagian penting dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Biochar merupakan arang hasil proses pirolisis biomassa yang memiliki banyak manfaat bagi tanah dan tanaman. Bahan bakunya dapat berasal dari limbah pertanian maupun limbah kehutanan yang selama ini sering dianggap tidak bernilai. Melalui pelatihan yang diberikan, masyarakat belajar mengubah limbah tersebut menjadi produk yang bermanfaat sekaligus bernilai ekonomi.
Manfaat biochar tidak hanya terbatas pada peningkatan kesuburan tanah. Struktur porinya yang unik mampu membantu tanah menyimpan air dan unsur hara lebih lama sehingga tanaman dapat tumbuh lebih baik. Di wilayah pedesaan yang bergantung pada sektor pertanian, teknologi ini berpotensi mengurangi biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.
Pelatihan juga mencakup pemanfaatan produk turunan lain dari proses pirolisis, yaitu asap cair. Produk ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk mendukung kegiatan pertanian secara lebih ramah lingkungan. Dengan demikian, satu proses teknologi mampu menghasilkan beberapa produk yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus lingkungan.
Keberhasilan program semacam ini tidak hanya diukur dari jumlah pelatihan yang terlaksana. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kapasitas masyarakat untuk mengelola sumber daya alam secara mandiri. Ketika warga memahami teknologi yang sesuai dengan kondisi lokal, mereka memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan usaha berbasis potensi desa tanpa harus bergantung pada sumber daya dari luar.
Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak selalu harus dimulai dari investasi besar atau teknologi yang rumit. Sering kali, solusi terbaik justru berasal dari penguatan potensi yang sudah ada. Pohon gaharu yang tumbuh di hutan desa, limbah biomassa yang sebelumnya terbuang, dan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun dapat menjadi fondasi ekonomi yang kuat apabila dipadukan dengan hasil riset dan inovasi perguruan tinggi.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat setempat menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini. Setiap pihak membawa peran yang berbeda namun saling melengkapi. Perguruan tinggi menyediakan inovasi dan pendampingan ilmiah, pemerintah mendukung kebijakan dan fasilitasi, sedangkan masyarakat menjadi pelaku utama yang menjalankan dan mengembangkan teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman di Desa Metut menunjukkan bahwa wilayah 3T bukanlah daerah yang kekurangan potensi. Tantangan utamanya justru terletak pada akses terhadap pengetahuan, teknologi, dan jejaring pendukung. Ketika ketiga aspek tersebut dapat dihadirkan secara tepat, masyarakat mampu mengubah sumber daya lokal menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan daerah, kisah dari Desa Metut memberikan pelajaran penting. Pemberdayaan masyarakat bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan membuka akses terhadap keterampilan dan inovasi yang dapat terus berkembang setelah program selesai. Gaharu dan biochar hanyalah dua contoh. Yang sesungguhnya sedang dibangun adalah kepercayaan diri masyarakat untuk mengelola masa depan mereka sendiri dengan memanfaatkan kekayaan alam yang dimiliki secara berkelanjutan.
Langkah Penting Agar Program Berkelanjutan
1. Membentuk kelompok usaha desa
2. Menjaga keberlanjutan sumber daya
3. Mengembangkan produk turunan
4. Memanfaatkan pemasaran digital
5. Membangun kemitraan
6. Menyiapkan generasi muda
7. Mengembangkan pusat pelatihan desa
8. Memperkuat dokumentasi dan evaluasi
Mengapa Pendekatan Ini Penting?