Penulis
Dr. Megawati Zunita, S.Si., M.Si.
Banyaknya sampah plastik yang terbawa arus menumpuk di pesisir pantai Pulau Balai, sebuah pulau kecil yang merupakan salah satu pulau dari Kepulauan Banyak, Kabupaten Singkil. Tim ITB membawakan teknologi terapan, pembuatan paving block dari plastik, sekaligus menjawab kebutuhan infrastruktur trotoar yang juga menjadi tantangan.
Desa Pulau Balai didasarkan pada data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Aceh Singkil yang menunjukkan tingginya timbunan sampah plastik di wilayah tersebut, yakni mencapai 668 ton per tahun di Kecamatan Pulau Banyak. Plastik menjadi jenis sampah terbanyak kedua dengan 22%.
Kondisi ini sempat mendapat sorotan dari Kementerian Lingkungan Hidup antara lain karena salah satu potensi pulau ini adalah sektor pariwisata, selain mata pencaharian umumnya masyarakat sebagai nelayan. Padahal, Pulau Balai sebagai sebuah pulau di Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, yang berfungsi sebagai pusat administrasi dan aktivitas masyarakat di wilayah tersebut.
Sebagai bagian dari wilayah kepulauan, Pulau Balai memiliki beberapa objek wisata bahari seperti terumbu karang, serta berjenis-jenis ikan serta biota laut lainnya seperti lobster, sehingga kegiatan wisata memancing dapat dikembangkan di pulau ini. Selain itu ombak sekitar pulau yang relatif lebih tenang dibandingkan dengan pulau lainnya, sangat sesuai untuk wisata menyelam, snorkeling dan kayaking.
Pulau Balai yang merupakan salah satu daerah 3T atau daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar pada saat yang bersamaan memiliki tantangan pengembangan dan pemeliharaan infrastruktur. Kepala Desa Pulau Balai, Rudi Ansari menyatakan, pihaknya terus berusaha mengatasi persoalan sampah plastik dan kerusakan jalan yang sebagiannya menggunakan paving block, menjadi tantangan utama pengembangan desa.
Dalam berupaya menjawab tantangan tersebut, tim Ganesha Operation Plastic (GaneOpTic) ITB menawarkan jalan dalam penangangan masalah sampah plastik dan infrastruktur di Desa Pulau Balai melalui peningkatan kapasitas dan penyerahan mesin pembuatan paving block dari sampah plastik. Program ini didanai melalui Program Pengabdian Masyarakat Bottom Up Tahap II Tahun 2025 ITB.
Tim GaneOpTic ITB, terdiri dari beberapa dosen peneliti dan mahasiswa dari berbagai universitas diketuai oleh Dr. Megawati Zunita, S.Si., M.Si dari teknik kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) yang beranggotakan Viona Aulia Rahmi, ST., MT dan Ir. Rozar Rayendra, ST.,MT dari Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Mulyana, ST.,MT dari Universitas Insan Budi Utomo (UIBU), mahasiswa magister teknik kimia ITB yaitu Nur Azura Lubis, ST dan Firda Ellysa, ST serta mahasiswa teknik mesin Universitas Malikussaleh (Unimal) yaitu Ogi Oreza Sativa.
Program ini berlangsung selama 18-20 Agustus 2025, dengan agenda penyerahan alat smelter, pemaparan materi dari dosen UMRI dan UIBU serta praktik pembuatan paving block oleh mahasiswa ITB dan Unimal. Tim GaneOpTic menyerahkan dan melatih warga menggunakan alat smelter, sebuah inovasi teknologi untuk mengubah sampah plastik menjadi paving block yang bernilai ekonomis.
Tidak hanya menyerahkan alat, mereka juga memberikan pelatihan penggunaan smelter kepada warga. Proses pembuatannya pun diperlihatkan secara langsung. Pada prosesnya, plastik dilelehkan, dituangkan ke cetakan, lalu direndam hingga menjadi paving block siap pakai.
Warga Desa Pulau Balai tampak antusias mengikuti praktik ini karena bisa melihat bagaimana sampah plastik yang biasanya hanya menumpuk, kini bisa diubah menjadi produk bermanfaat. Alat smelter yang dioperasikan di Pulau Balai ini, diharapkan dapat membantu masyarakat mengolah sampah plastik.
Produk paving block yang dihasilkan dari olahan smelter ini tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh warga setempat, tetapi juga berpotensi menjadi usaha desa yang bernilai ekonomi dengan menjualnya ke desa lain.
Selain pelatihan, kegiatan ini juga menghadirkan sesi diskusi seputar pengelolaan sampah plastik. Narasumber membawakan tema-tema penting mulai dari manfaat daur ulang, menjaga laut bebas sampah, hingga mendorong desa mandiri.
Sesi pemaparan materi disampaikan oleh Mulyana, S.T., M.T. tentang daur ulang plastik, Viona Aulia Rahmi, S.T., M.T. dengan tema "Laut bebas sampah," dan Ir. Rozar Rayendra, S.T., M.Sc. tentang pemberdayaan masyarakat. Setelah itu, tim mahasiswa memberikan pelatihan langsung di TPS3R desa, yang mencakup praktik peleburan plastik hingga pencetakan paving block.
Suasana pun berlangsung hidup karena warga banyak bertanya tentang peluang pemanfaatan teknologi ini di lingkungannya. Kehadiran pihak pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan perangkat desa turut menambah semangat kolaborasi yang terjalin.
Kepala Desa Pulau Balai, Rudi Ansari, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada tim GaneOpTic dan seluruh pihak yang terlibat. Menurutnya, langkah ini sangat membantu desa dalam mengatasi persoalan sampah plastik yang cukup tinggi di wilayah mereka.
Harapannya, teknologi ini bukan hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha desa melalui produksi paving block. Dengan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, Desa Pulau Balai kini mulai menapaki jalan menuju desa bebas sampah plastik dan lebih mandiri.
Ia menilai program ini sangat membantu desa dalam mengatasi persoalan samdpah plastik dan kerusakan jalan yang selama ini menjadi tantangan utama. Dampak yang dirasakan oleh warga sangat terasa dengan kehadiran Tim GaneOpTic ITB karena masalah sampah dan kerusakan jalan yang tidak kunjung selesai telah menemukan titik terang.
Hal ini selaras dengan yang disampaikan oleh Plt. Kabid PSLB3PP DLH Aceh Singkil, Sabran, S.T dalam sambutannya. Dengan hadirnya program GaneOpTic, Desa Pulau Balai kini memiliki harapan baru dalam mengatasi persoalan sampah plastik sekaligus memperbaiki infrastruktur jalanan desa.
Inovasi paving block berbahan dasar plastik daur ulang tidak hanya menjawab masalah lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Dalam penerapannya lebih luas, diharapkan program ini dapat mencakup ke wilayah lain, khususnya daerah 3T yang memiliki tantangan serupa. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberlanjutan program.
Dengan demikian, inovasi sederhana namun berdampak besar ini dapat menjadi contoh nyata penerapan teknologi tepat guna demi lingkungan yang lebih bersih, ekonomi desa yang lebih mandiri, serta terciptanya jalanan yang lebih baik untuk masyarakat.*
Sesi pelatihan pembuatan paving block diikuti masyarakat Pulau Balai dengan penuh antusia. Dikoordinir langsung oleh Ketua Tim, Dr. Megawati Zunita beserta tim mahasiswa pelatihan berlangsung di TPS3R Pulau Balai.
Pelatihan mencakup pengenalan fungsi alat, pengaturan suhu dan perlengkapan, hingga praktik langsung proses pembuatan paving block dari sampah plastik, dengan tahapan:
- Plastik bekas yang telah dipilah dan dikeringkan dilelehkan di dalam wadah smelter
- Plastik yang telah meleleh, dituangkan dalam cetakan berbentuk segi enam,
- Cetakan direndam dalam bak air, hingga dilepaskan dari cetakan dan menjadi paving block yang siap digunakan.
Peralatan pembuatan paving blok:
Sesi pelatihan pembuatan paving block diikuti masyarakat Pulau Balai dengan penuh antusia. Dikoordinir langsung oleh Ketua Tim, Dr. Megawati Zunita beserta tim mahasiswa pelatihan berlangsung di TPS3R Pulau Balai.
Pelatihan mencakup pengenalan fungsi alat, pengaturan suhu dan perlengkapan, hingga praktik langsung proses pembuatan paving block dari sampah plastik. Kegiatan praktik pembuatan paving block dari limbah plastik dilakukan di Pulau Balai, Aceh Singkil, sebuah wilayah kepulauan dengan karakteristik iklim pantai tropis. Wilayah ini memiliki suhu lingkungan rata-rata 27-32°C, dengan kelembaban tinggi (70-90%) dan paparan sinar matahari yang intens. Kondisi ini mengakibatkan potensi tinggi untuk menghasilkan limbah plastik sebagai akibat dari kegiatan distribusi logistik rumah tangga dan antar pulau, sementara sistem pengelolaan limbah masih terbatas. Oleh karena itu, inovasi pengolahan limbah plastik menjadi paving block merupakan solusi praktis yang tepat.
Tahapan Praktik Pembuatan Paving Block yang dilakukan di Pulau Balai, Aceh Singkil.
1. Persiapan dan Pemilahan Bahan Baku
Limbah plastik yang dikumpulkan pertama-tama dipilah berdasarkan jenisnya (umumnya HDPE, LDPE, dan PP sebagai termoplastik yang dapat dilebur kembali). Pemilahan penting untuk menjaga konsistensi karakteristik peleburan dan kekuatan produk akhir. Setelah dipilah, plastik dibersihkan dari kotoran seperti pasir, residu organik, atau garam laut (mempertimbangkan kondisi pantai), kemudian dikeringkan. Proses pengeringan sangat penting karena kadar air dapat menyebabkan gelembung udara selama peleburan
2. Proses Peleburan di Pabrik Peleburan GaneOptic
Plastik kering dimasukkan ke dalam wadah pemanas Peleburan GaneOptic, yang dilengkapi dengan sistem pengontrol suhu. Suhu operasi diatur sesuai dengan jenis plastik:
- LDPE: ±110–130°C
- HDPE: ±230–260°C
- PP: ±260–280°C
Dalam praktik lapangan, suhu operasional umumnya dijaga dalam kisaran 200–280°C untuk memastikan plastik meleleh sempurna dan homogen tanpa degradasi termal. Peleburan berlangsung dalam kisaran 20–40 menit tergantung pada volume material. Pengadukan dilakukan secara berkala untuk memastikan distribusi panas yang seragam dan menghasilkan plastik cair yang kental dan homogen.
3. Menuang ke dalam Cetakan
Setelah plastik benar-benar meleleh, plastik cair panas dituangkan perlahan ke dalam cetakan berbentuk segi enam. Bentuk segi enam dipilih karena memiliki daya rekat yang baik saat ditempatkan di lapangan, meningkatkan stabilitas dan distribusi beban. Proses menuang harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari terbentuknya rongga udara yang dapat mengurangi kekuatan mekanik paving block.
4. Proses Pendinginan
Cetakan yang telah diisi dengan plastik cair kemudian direndam dalam baskom berisi air untuk mempercepat proses pendinginan (quenching). Mengingat suhu lingkungan Pulau Balai yang relatif tinggi, proses pendinginan alami akan memakan waktu lebih lama, sehingga perendaman air membantu mempercepat pengerasan dan menjaga stabilitas bentuk. Pendinginan memakan waktu sekitar 10–20 menit hingga material mengeras sepenuhnya.
5. Melepas dari Cetakan dan Penyelesaian
Setelah material mengeras sepenuhnya dan mendingin, paving block dapat dilepas dari cetakan. Produk kemudian diperiksa secara visual untuk memastikan tidak ada retak, deformasi, atau cacat. Jika perlu, dilakukan penggerindaan sisi sederhana. Blok paving yang memenuhi standar visual dan kekuatan dasar siap digunakan untuk jalan setapak, taman, halaman rumah, dan fasilitas umum kelas ringan di Pulau Balai.
Peralatan pembuatan paving blok:
Komposisi Material Campuran Paving Block Plastik
Dalam praktik pembuatan paving block menggunakan Smelter GaneOptic, material utama yang digunakan adalah limbah termoplastik, yang digunakan sebagai pengikat (binder) pengganti semen. Komposisi campuran dirancang untuk mencapai kekuatan mekanik yang memenuhi standar teknis sekaligus tetap ekonomis dan dapat diaplikasikan di Pulau Balai, Aceh Singkil.
1. Komposisi Material (berdasarkan berat)
Komposisi umum yang digunakan dalam praktik adalah:
Pada beberapa formulasi, dapat ditambahkan:
Abu sekam padi/pengisi halus mineral (opsional): 5-10% dari total campuran (untuk meningkatkan kepadatan dan kekuatan tekan).
Plastik berfungsi sebagai pengikat, yang akan meleleh pada suhu 200–280°C dan melapisi partikel pasir. Setelah pendinginan, plastik mengeras dan mengikat agregat secara mekanis, membentuk struktur komposit yang padat.
2. Peran Masing-masing Komponen
Penggunaan pasir yang benar-benar kering sangat penting, terutama dalam kondisi Pulau Balai yang memiliki kelembaban tinggi, sehingga tidak terbentuk rongga selama proses peleburan.
Kualitas Paving Block Berdasarkan SNI 03-0691-1996 (Mutu B – Jalan Tipe B)
Klausul SNI 03-0691-1996 pada paving block merujuk pada klasifikasi kuat tekan dan tingkat penyerapan. Untuk Mutu B (digunakan untuk pelataran parkir atau jalan lingkungan dengan beban sedang), persyaratan utamanya adalah:
1. Kuat Tekan (Kekuatan Tekan)
Rata-rata minimum : ≥ 20 MPa
Tidak ada sampel individu yang kurang dari 17 MPa
Paving block berbahan dasar plastik pada campuran 30–40% plastik dan 60–70% pasir, hasil uji kuat tekan laboratorium umumnya berada pada kisaran: 20–25 MPa, tergantung pada tingkat homogenitas campuran dan proses pencetakan. Nilai ini telah memenuhi kriteria Mutu B, sehingga paving ini dapat digunakan untuk jalan lingkungan, area parkir ringan, dan fasilitas umum berukuran menengah.
2. Penyerapan Udara
Mengacu SNI: Penyerapan udara maksimum untuk Mutu B adalah ≤ 6%
Maka, karena matriks pengikatnya adalah plastik, yang bersifat hidrofobik (tidak menyerap udara), paving block plastik umumnya memiliki penyerapan udara jauh, dibandingkan paving semen, yakni sekitar: 1–3%. Oleh karena itu, paving ini sangat cocok untuk daerah pesisir, termasuk Pulau Balai yang memiliki kelembaban tinggi dan paparan udara laut.
3. Ketahanan Lingkungan Wilayah Pesisir
Kelebihan lain dari plastik paving block adalah sebagai berikut:
Semua keunggulan tersebut menjadikannya sangat relevan untuk wilayah kepulauan.
Evaluasi Kualitas Produk di Pulau Balai
Dengan formulasi dan proses produksi yang tepat (suhu 200 - 280 °C, pencetakan homogen, pendinginan optimal), paving block yang dihasilkan:
Produk ini merupakan solusi konstruksi berkelanjutan yang memanfaatkan limbah lokal, sekaligus mengurangi jumlah limbah plastik yang berpotensi mencemari ekosistem pesisir Aceh Singkil.