GeoIntelligence System untuk Data Strategis Persampahan

Penulis: 
Dr. Agung Budi Harto
Center for Remote Sensing ITB

Latar Belakang

Kota Bandung menghadapi tantangan sampah seiring urbanisasi dan pertumbuhan populasi yang terus meningkat. Ketergantungan pada TPA Sarimukti dengan praktik open dumping mendominasi dan menyebabkan degradasi lingkungan dan risiko kesehatan masyarakat. Respons pemerintah melalui UU No. 18/2008 dan Perda No. 9/2018 yang menekankan tanggung jawab bersama antara pemerintah dengan partisipasi masyarakat, seperti Kang Pisman, Kawasan Bebas Sampah dan bank sampah untuk meningkatkan kesadaran.  Pada Tahun 2025, tumpukan sampah yang menumpuk di berbagai lokasi dan sudut Kota Bandung mencerminkan permasalahan pengelolaan sampah yang semakin kompleks. Menurut data dari UPTD Pengelolaan Sampah Kota Bandung, salah satu pemicu utama adalah perubahan pembatasan kuota ritasi menjadi tonase di TPA Sarimukti. Hal tersebut menjadi Pekerjaan Rumah bersama karena membutuhkan upaya bersama melalui peran pemerintah dalam political will dan infrastruktur, peran akademisi dalam riset dan inovasi, serta keterlibatan masyarakat.

Untuk mengoptimalkan upaya penanganan sampah yang berbasis data dan kondisi di lapangan, lokasi sumber sampah beserta kondisi penanganannya, serta jumlah timbulan sampah di tingkat RT/RW hingga bangunan, menjadi penting untuk perencanaan yang lebih akurat, namun saat ini data tersebut belum tersedia secara rinci, masih dalam bentuk agregat per kawasan. Oleh karena itu, Institut Teknologi Bandung (ITB) turut mendukung penanganan sampah di Kota Bandung melalui Kegiatan Pengabdian Masyarakat Tahun 2025, melalui Center for Remote Sensing ITB (CRS-ITB) dengan menginisiasi pemetaan kondisi penanganan sampah Kota Bandung di level RT/RW, termasuk frekuensi pengangkutan sampah dan jalurnya, serta pengembangan model prediksi timbulan sampah di tingkat bangunan dengan memanfaatkan teknologi GeoIntelligence. Sebagai Kepala CRS ITB sekaligus yang memimpin kegiatan ini, Dr. Agung Budi Harto menyatakan bahwa pendekatan ini diharapkan dapat memberikan solusi berbasis data dan teknologi untuk mengatasi tantangan pengelolaan sampah secara lebih presisi dan berkelanjutan.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Dr. Agung Budi Harto, Prof. Ketut Wikantika, Dr. Eng. Anjar Dimara Sakti bersama tim, yaitu Like Hana Purba, Cokro Santoso, Ar’rafi Malika Ardy, Elva Ni’matal Ummah, pada bulan Agustus hingga Oktober 2025, melalui serangkaian tahapan yang mencakup audiensi bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Bandung untuk membahas koordinasi kebijakan, konsolidasi data guna mengintegrasikan informasi agregat menjadi lebih rinci, Focus Group Discussion (FGD) untuk mendalami permasalahan dari berbagai perspektif, audiensi dengan masyarakat Kelurahan Kopo dan Babakan Asih di Kecamatan Bojongloa Kaler guna mendapat aspirasi dan kondisi lapangan, survei lapangan untuk pengumpulan data primer secara langsung, analisis hasil survei menggunakan teknologi GeoIntelligence, serta diseminasi dan sosialisasi hasil akhir kepada seluruh pemangku kepentingan demi penerapan solusi yang berkelanjutan.

Melalui kegiatan audiensi bersama dengan masyarakat Kelurahan Kopo dan Babakan Asih, diketahui bahwa masyarakat sudah berupaya untuk turut bekerja sama dalam melakukan penanganan sampah dari rumah melalui sistem swakelola masyarakat di level RW, namun masih terdapat beberapa kendala bila terjadi penumpukan sampah di TPS maka sampah yang berasal dari sumber atau rumah akan menumpuk juga, selain itu tak jarang juga terjadi konflik sosial akibat terdapatnya masyarakat yang bukan dari kelurahan tersebut membuang sampahnya secara sembarangan pada wilayah mereka, sekalipun sudah diupayakan untuk melakukan pendisplinan. Saat musim hujan, terdapat beberapa area yang berada di sekitar sungai akan mengalami banjir karena luapan air yang terjadi akibat sampah yang menyumbat aliran air. Ditambah juga dengan kondisi area yang cukup padat dan jalan yang terbatas, beberapa lokasi di area ini masih sulit terjangkau untuk dilakukan pengumpulan sampah, sehingga sampah yang berasal dari rumah sangat berpotensi dibuang sembarangan dan atau dibuang ke suatu area saat masyarakat mobilisasi keluar dari rumah.

Hasil Kegiatan

Berdasarkan data eksisting yang diperoleh pada tahun 2023, tingkat pelayanan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) hingga di tingkat RT/RW di Kota Bandung menunjukkan variasi antarwilayah, yang dapat dilihat pada Gambar di bawah. Diketahui bahwa performa pelayanan tertinggi terdapat di Kecamatan Batununggal, Bandung Kulon, dan Sukajadi yang telah mencapai cakupan dan efisiensi pengangkutan sampah yang optimal, sementara pelayanan masih belum optimal di Kecamatan Cibeunying Kidul, Kiaracondong, serta Bojongloa Kaler. Khususnya di Kecamatan Bojongloa Kaler, sebagai kawasan padat penduduk dengan sejumlah kawasan permukiman kumuh dan aksesibilitas jalan yang sangat terbatas, kondisi ini menjadi tantangan utama dalam proses pengumpulan sampah, sehingga memerlukan pendekatan khusus untuk meningkatkan efektivitas penanganan sampah di Kota Bandung.

Sejalan dengan aspirasi masyarakat yang disampaikan sebelum melakukan kegiatan survei lapangan, hasil pemetaan dari hasil survei lapangan di Kelurahan Kopo dan Babakan Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, ditunjukkan pada Gambar berikut, ditemukan sekitar 25 persen wilayah masih belum terjangkau oleh layanan pengangkutan sampah (bangunan berwarna merah), sehingga menimbulkan potensi penumpukan sampah yang berkepanjangan dan memerlukan intervensi prioritas. Ditambah dengan kondisi mayoritas masyarakat hampir 70% belum pernah mengikuti sosialisasi pengelolaan sampah, terdapat juga bangunan yang masih mencampur sampah dari sumber, yang ditandai dengan warna kuning pada peta. Area yang ditandai juga dengan warna kuning dan hijau, merupakan area terlayani penanganan sampah, dimana di Kelurahan Kopo mencapai angka 72,7% dan Babakan Asih mencapai 75,2%.

Selain itu, juga dilakukan pemetaan pengangkutan sampah dan frekuensinya, serta estimasi timbulan sampah di tingkat bangunan, melalui integrasi data primer dari survei lapangan dengan prediksi berbasis Machine Learning, yang memungkinkan evaluasi dan perencanaan pengelolaan sampah menjadi lebih akurat, efisien, dan berbasis teknologi GeoIntelligence. Berdasarkan hasil pemodelan pada gambar berikut, diketahui bahwa Kecamatan Bojongloa Kaler, dengan potensi tidak terlayani yang cukup tinggi, memiliki potensi timbulan sampah yang tinggi. Di Kelurahan Kopo dan Babakan Asih terdapat potensi timbulan harian mencapai 1 ton di setiap RW. Hal tersebut mengonfirmasi aspirasi masyarakat mengenai penumpukan sampah secara kuantitatif, yang mencakup kapasitas pengelolaan yang masih terbatas, dengan kondisi pemukiman kumuh yang aksesbilitasnya terbatas serta penduduk yang padat, area Kelurahan Kopo dan Babakan Asih rentan dengan konflik sosial maupun bencana lingkungan akibat penumpukan sampah.

Untuk meningkatkan upaya penanganan sampah di Kelurahan Kopo dan Babakan Asih, kegiatan pengabdian masyarakat ini menghasilkan rekomendasi berupa 11 titik potensial di Kopo serta 18 titik di Babakan Asih. Titik-titik tersebut diperoleh melalui hasil survei lapangan yang secara dominan berada di area dengan aksesibilitas terbatas dan berdasarkan informasi dari masyarakat merupakan area yang sering terjadi penumpukan sampah. Area ini dapat disepakati bersama dan dijadikan lokasi pengangkutan sampah secara komunal, sehingga memungkinkan pengangkutan sampah yang lebih efisien bagi masyarakat Kota Bandung di wilayah padat dengan aksesibilitas terbatas tersebut.

Pada tahap desiminasi hasil kegiatan pengabdian masyarakat bersama pihak masyarakat yang diwakili oleh pengurus Kelurahan dan Pemerintah Kota Bandung, yang diwakili oleh pihak UPTD Pengelolaan Sampah SWK Tegallega, disampaikan bahwa data dan informasi yang diperoleh menjadi masukan yang baik untuk basis data dalam perencanaan hingga evaluasi pengelolaan sampah dari sumber oleh UPTD. Pemerintah Kota berharap kegiatan ini dapat diduplikasi dan terus dikembangkan di area lain sehingga Kota Bandung memiliki basis data berbasis lokasi dalam melakukan penanganan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.

SDGs : #SDG13

185

views

31 March 2026