Hadapi Ancaman Kabut Asap, ITB dan ULM Hadirkan Sistem Aman Kabut Asap di SMPN 19 Banjarbaru

BANJARBARU — Menjawab ancaman polusi udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap menyelimuti wilayah Kalimantan Selatan, tim gabungan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) resmi meluncurkan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk "Implementasi & Sosialisasi Sistem Aman Kabut Asap" di Kota Banjarbaru pada 27 hingga 28 September 2026. Aksi kolaboratif lintas perguruan tinggi ini dipimpin langsung oleh pakar Teknik Kimia sekaligus perwakilan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, Prof. Dr. Zeily Nurachman, M.S. Dalam pelaksanaannya, beliau didampingi oleh tim ITB yang beranggotakan Dr. Reza Aditama, S.Si., M.Si., Dadan Gunawan, Nisa Refika, serta Awal Wahyu Rahmadi, S.Ds. Dari pihak mitra lokal, tim ULM diperkuat oleh akademisi Teknik Pertambangan, Dr. Sari Melati, S.T., M.T., bersama dua mahasiswa, Hikmah Himasapta dan Zulfikar. Agenda bersama ini berfokus pada pemasangan teknologi purifikasi udara inovatif di ruang kelas, edukasi mitigasi paparan polutan kepada sivitas akademika sekolah, serta penjajakan kerja sama strategis lintas instansi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

 

Kabut asap musiman telah lama menjadi tantangan ekologis dan kesehatan tahunan yang membayangi produktivitas warga di Kota Banjarbaru. Kelompok rentan, khususnya anak-anak dan pelajar yang menghabiskan sebagian besar harinya di dalam ruang kelas, sering kali terpaksa menghirup udara dengan konsentrasi partikulat berbahaya (particulate matter) seperti PM2.5 dan PM10. Partikel mikro ini memiliki dampak buruk jangka panjang pada sistem pernapasan dan penurunan konsentrasi belajar. Berangkat dari kegelisahan tersebut, tim gabungan ITB dan ULM memusatkan implementasi percontohan teknologi tepat guna mereka di SMPN 9 Banjarbaru.

 

Langkah awal implementasi teknis dilakukan dengan menerapkan pendekatan berbasis data. Sebelum perangkat pembersih udara dioperasikan, tim melakukan pengukuran komparatif terhadap kadar polutan lingkungan. Sensor kualitas udara dipasang di area luar ruangan (luar gedung sekolah) dan di dalam salah satu ruang kelas yang dijadikan lokasi uji coba. Pengukuran awal ini menjadi rujukan dasar (baseline) untuk mengetahui seberapa jauh partikel asap dari lingkungan sekitar mampu menyusup masuk ke dalam ruang aktivitas belajar-mengajar.

 

Setelah parameter dasar tercatat, perangkat inovasi "Sistem Aman Kabut Asap" mulai dipasang dan diaktifkan. Sistem purifikasi ini dirancang secara khusus untuk mampu menyaring partikel berbahaya secara cepat, menjaga laju sirkulasi udara tetap segar, sekaligus mempertahankan tingkat konsumsi energi yang efisien sehingga ramah digunakan oleh fasilitas pendidikan. Pengukuran kualitas udara tahap kedua segera dilakukan pasca-aktivasi sistem. Hasil pembacaan instrumen menunjukkan penurunan konsentrasi polutan yang sangat drastis di dalam ruangan kelas, menciptakan zona aman (clean air room) yang sejuk dan terlindung dari kepungan asap luar. Keberhasilan verifikasi langsung di lapangan ini membuktikan bahwa rekayasa teknologi sederhana namun presisi dapat menjadi tameng efektif bagi sekolah-sekolah di wilayah rawan bencana kabut asap.

 

Inovasi teknologi tidak akan bertahan lama tanpa adanya transfer pengetahuan yang berkesinambungan. Oleh karena itu, tim kolaborasi melanjutkan agenda dengan menyelenggarakan sesi sosialisasi interaktif bagi para siswa dan tenaga pendidik SMPN 9 Banjarbaru. Edukasi ini dikemas secara aplikatif agar para siswa tidak hanya mengenal cara kerja alat, tetapi juga memahami konsep dasar bahaya polusi, cara membaca indeks kualitas udara, serta langkah-langkah mitigasi praktis yang bisa diambil saat indeks polusi mencapai tingkat berbahaya. Melalui transfer wawasan ini, para pelajar diarahkan untuk menjadi agen perubahan muda (agents of change) yang mampu menularkan kesadaran lingkungan kepada keluarga dan tetangga di lingkungan tempat tinggal masing-masing, bahkan mereplikasi teknik purifikasi mandiri secara sederhana di rumah.

 

Pihak sekolah menyambut kedatangan tim dan penerapan teknologi ini dengan antusiasme yang tinggi. Kepala SMPN 9 Banjarbaru, Maria Yovita Candra Dewi, S.Si., M.Pd., menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian sivitas akademika ITB dan ULM terhadap keselamatan anak didiknya. Beliau mengungkapkan bahwa gangguan asap di musim kemarau kerap mengganggu stabilitas jam belajar dan mengancam kesehatan siswa. Kehadiran ruang kelas dengan udara yang telah dimurnikan memberikan rasa aman baru bagi para pengajar dan orang tua murid. Pihak sekolah pun menaruh harapan besar agar program ini dapat diperluas sehingga seluruh ruang belajar di SMPN 9 Banjarbaru nantinya dapat terlindungi oleh sistem serupa.

 

Tidak berhenti di lingkup sekolah, misi pengabdian masyarakat ini melangkah lebih jauh menuju integrasi kebijakan publik melalui audiensi resmi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru. Rombongan tim ITB dan ULM disambut secara langsung oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Banjarbaru, Sugiyono. Pertemuan ini difokuskan pada pemaparan hasil uji coba lapangan di SMPN 9 Banjarbaru, keunggulan teknis Sistem Aman Kabut Asap, serta potensi sinergi untuk penanganan bencana polusi udara dalam skala kota.

 

Pihak BPBD Banjarbaru menyambut hangat gagasan ini dan menyatakan komitmen penuh untuk mendukung keberlanjutan program. Sugiyono menegaskan bahwa kolaborasi riset perguruan tinggi dengan pemerintah daerah adalah kunci dalam menciptakan solusi mitigasi bencana yang cepat dan tepat sasaran. Pihak BPBD membuka peluang kemitraan untuk membantu menyosialisasikan, melatih, serta mendorong replikasi sistem purifikasi udara ini ke sekolah-sekolah lain dan fasilitas umum prioritas di seluruh penjuru Banjarbaru saat status siaga kabut asap ditetapkan.

 

Sinergi yang terbangun antara ITB, ULM, SMPN 9 Banjarbaru, dan BPBD menjadi bukti nyata bagaimana riset akademik mampu melintasi batas laboratorium dan hadir langsung menjawab persoalan mendesak di tengah masyarakat. Dengan perpaduan riset berbasis sains, keterlibatan aktif institusi pendidikan, dan dukungan otoritas penanggulangan bencana daerah, teknologi Sistem Aman Kabut Asap ini diharapkan mampu menjadi model percontohan nasional dalam menciptakan lingkungan belajar yang tangguh, sehat, dan bebas ancaman kabut asap di masa depan.

SDGs : #SDG3 #SDG4 #SDG11 #SDG13 #SDG17

111

views

01 October 2026