Hadirkan Sains Kegempaan di Ruang Kelas SMA

Penulis:
Dr. Ir. Zulfakriza, S.Si., M.T.
KK Geofisika Global
Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan

Prof. Dr.Sc. Ir. Andri Dian Nugraha, S.Si., M.Si.
Dr. Shindy Rosalia, S.T., M.T.
Rexha Verdhora Ry, S.T., M.T., Ph.D.
Prof. Dr. Antonius Nanang Tyasbudi Puspito, M.Sc.

 

Wilayah Indonesia, secara tatanan tektonik berada di zona pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia: Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Posisi ini menempatkan Indonesia dalam jalur Cincin Api Pasifik, kawasan dengan aktivitas seismik dan vulkanik tertinggi di dunia, sekaligus menjadikan gempa sebagai bagian tak terhindarkan dari kehidupan sehari-hari puluhan juta penduduknya — bukan hanya di zona-zona yang selama ini dikenal rawan seperti Sumatra bagian barat, selatan Jawa, Nusa Tenggara, atau Sulawesi, tetapi hampir di seluruh penjuru negeri.

Ironisnya, tingginya potensi bahaya ini belum sepenuhnya diimbangi oleh pemahaman yang memadai di kalangan generasi muda. Di banyak sekolah menengah atas, gempa bumi masih diajarkan secara sepintas sebagai bagian dari materi geografi atau kebumian, tanpa pengalaman langsung yang membuat siswa benar-benar memahami mengapa dan bagaimana gempa terjadi, apalagi bagaimana bersikap tepat ketika guncangan datang. Akibatnya, ketika gempa benar-benar terjadi, respons yang muncul sering kali berupa kepanikan, bukan tindakan yang terlatih.

Kondisi ini kontras dengan apa yang telah lama diterapkan di Jepang, negara yang kondisi tektoniknya tak jauh berbeda dari Indonesia. Di sana, pendidikan kesiapsiagaan bencana atau bousai kyoiku telah menjadi bagian rutin kurikulum sejak jenjang sekolah dasar, ditandai dengan peringatan tahunan Bousai no Hi setiap 1 September beserta Pekan Kesiapsiagaan Bencana (Bousai Shuukan). Siswa Jepang terbiasa menjalani simulasi gempa secara berkala: merunduk dan berlindung di bawah meja, lalu dievakuasi secara tertib begitu guncangan mereda. Hasilnya terekam nyata dalam peristiwa gempa dan tsunami besar Tohoku 2011 — yang dikenal sebagai "Miracle of Kamaishi" — ketika hampir seluruh siswa sekolah dasar dan menengah di Kota Kamaishi selamat berkat kebiasaan evakuasi mandiri yang telah mereka latih bertahun-tahun sebelumnya.

Kesenjangan literasi kebencanaan semacam inilah yang mendorong Pusat Penelitian Mitigasi Bencana (PPMB) Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menghadirkan pendekatan serupa: belajar gempa lewat pengalaman langsung, bukan sekadar teori di papan tulis, melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk "Seismometer Goes to School": Edukasi dan Mitigasi Bahaya Gempa untuk Pelajar SMA di Jawa Barat. Program yang berlangsung sepanjang Maret hingga Juni 2026 ini didukung oleh skema Community Development EQUITY Program – World Class University Tahun Anggaran 2025–2026.

Program ini menyasar Jawa Barat, provinsi dengan tatanan tektonik yang sangat aktif: wilayah ini berada pada zona interaksi Lempeng Indo-Australia dan Busur Sunda, bagian dari Lempeng Eurasia, yang bergerak dengan laju sekitar 70 milimeter per tahun. Pergerakan tersebut membentuk sejumlah sesar aktif di daratan, dan dampaknya nyata dirasakan — dalam lima tahun terakhir tercatat gempa M5,6 Cianjur (2022), gempa Sumedang (2023), dan gempa Kertasari (2024). Data repositori Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode Januari–Juli 2025 turut menunjukkan sebaran episenter yang padat di Jawa Barat bagian selatan dan tengah.

"Intensitas kejadian gempa di Jawa Barat merupakan sebuah keniscayaan, untuk itu diperlukan upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana gempa. Salah satu langkahnya adalah penguatan kesadaran masyarakat melalui edukasi sumber dan bahaya gempa," demikian disampaikan tim peneliti dalam laporan program.

Menyasar Tiga Sekolah Mitra

Program menjangkau tiga sekolah di Jawa Barat, masing-masing dengan sesi pembelajaran tatap muka selama tiga jam:

  • Rabu, 4 Maret 2026 — Sekolah Alam (SM) Bandung, Kota Bandung
  • Senin, 9 Maret 2026 — SMA Negeri 1 Cileunyi, Kabupaten Bandung
  • Jumat, 12 Juni 2026 — SMA Negeri 3 Kuningan, Kabupaten Kuningan

Setiap kunjungan diawali audiensi resmi bersama pihak sekolah untuk menyelaraskan jadwal, logistik ruangan, hingga jalur evakuasi internal, sehingga simulasi yang dilaksanakan benar-benar sesuai kondisi nyata masing-masing sekolah.

Belajar Gempa dari Rekaman Geolini

Materi disampaikan melalui tiga modul: edukasi literasi gempa dan sumber bahayanya di Jawa Barat; pemaparan gelombang gempa lewat seismogram langsung menggunakan instrumen seismometer IoT bernama Geolini; serta simulasi tanggap darurat evakuasi, di mana siswa mempraktikkan protokol Drop, Cover, and Hold On di bawah meja kelas, dilanjutkan evakuasi terstruktur menuju titik kumpul.

Bagian yang paling menarik perhatian siswa adalah sesi jump test — ketika lompatan atau langkah kaki mereka sendiri di dekat alat langsung tergambar sebagai gelombang pada layar seismometer. Momen sederhana ini terbukti efektif mengubah persepsi siswa terhadap geofisika, dari ilmu yang dianggap rumit menjadi sains aplikatif yang dekat dengan keselamatan mereka sehari-hari.

Hasil Terukur dan Film Dokumenter

Evaluasi cepat pascakegiatan mencatat peningkatan pemahaman siswa lebih dari 45% terkait parameter gempa dan mekanisme perlindungan diri yang benar, termasuk pentingnya menjauh dari kaca dan melindungi kepala saat gempa terjadi.

Gambaran serupa terekam dari kuesioner evaluasi yang diisi siswa kelas X dan XI SMA Negeri 3 Kuningan seusai kegiatan. Nyaris seluruh responden menyatakan kegiatan ini menambah pengetahuan mereka tentang kegempaan, dan menilainya bermanfaat secara keseluruhan. Tidak satu pun butir penilaian yang jatuh di bawah kategori baik — sebuah indikasi bahwa pendekatan belajar lewat pengalaman langsung diterima dengan antusias oleh siswa.

Yang tak kalah penting, siswa menilai penjelasan mengenai cara kerja seismometer dan fungsinya dalam pemantauan kegempaan mudah dipahami, dan mereka mengaitkan materi tersebut dengan kondisi lingkungan tempat mereka tinggal — sinyal bahwa gempa tidak lagi dipandang sebagai fenomena yang jauh, melainkan risiko yang melekat pada keseharian.

Sejumlah siswa juga menuliskan bahwa hal baru yang paling mereka ingat adalah pengetahuan bahwa penentuan lokasi gempa membutuhkan pembacaan gelombang P dan gelombang S sekaligus dari banyak stasiun pengamatan, bukan satu informasi tunggal. Yang lain mencatat perubahan perilaku yang sangat spesifik: tetap berlindung di bawah meja sampai guncangan benar-benar berhenti sebelum keluar ruangan, menjauhi kaca, dan melindungi kepala. Bagi sebagian dari mereka, ini juga kali pertama melihat langsung perangkat pendeteksi getaran gempa.

Adapun catatan perbaikan yang disampaikan siswa hampir seragam dan bersifat metodologis, bukan substantif: kegiatan diminta dibuat lebih interaktif, dengan diskusi kelompok kecil, permainan, atau ice breaking di sela pemaparan. Masukan ini menjadi bahan penyesuaian modul untuk replikasi program di sekolah-sekolah berikutnya.

Untuk memperluas dampak agar tidak berhenti di tiga sekolah mitra, tim juga memproduksi film dokumenter "Seismometer Goes to School" yang merekam keseluruhan proses kegiatan dari audiensi, antusiasme siswa saat jump test, visualisasi data gelombang Geolini secara real-time, hingga simulasi evakuasi mandiri. Film ini kini dapat diakses publik melalui kanal YouTube DPMK ITB di tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=QgqJVH4iPiE

Rencana Keberlanjutan

Tim pelaksana merekomendasikan tiga langkah lanjutan untuk memperbesar dampak program: pertama, penempatan unit sensor Geolini secara permanen di sekolah-sekolah mitra yang terintegrasi dengan laboratorium fisika atau geografi; kedua, replikasi program ke wilayah dengan zona sesar aktif lain seperti Cianjur, Sukabumi, dan Subang, atau daerah di luar Jawa Barat; dan ketiga, distribusi berkala film dokumenter pembelajaran gempa.

Program "Seismometer Goes to School" menegaskan bahwa literasi kebencanaan paling efektif ditanamkan bukan lewat sosialisasi satu arah, melainkan lewat pengalaman langsung saat siswa dapat melihat sendiri bagaimana bumi yang mereka pijak sesungguhnya bergerak, dan bagaimana mereka bisa tetap selamat ketika guncangan itu datang.

SDGs : #SDG4

44

views

06 October 2026