Hak Atas Air di Batas Timur: Teknologi Filtrasi Pasir Lambat Hidupkan Asa Warga Telaga Sari

MERAUKEMiga Magenika Julian, S.T., M.T., dosen dari Kelompok Keahlian Hidrografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, memimpin sebuah misi kemanusiaan yang krusial di ujung timur Indonesia. Bersama tim lintas disiplin dari tiga universitas besar, Miga menginisiasi program penyediaan air bersih di Desa Telaga Sari, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke. Kegiatan ini bukan sekadar instalasi alat, melainkan sebuah perjuangan memenuhi hak dasar manusia yang telah terabaikan selama puluhan tahun.

Perjalanan menuju lokasi bukanlah perkara mudah. Tim harus menempuh 9 jam perjalanan udara dan dilanjutkan dengan 3 jam jalur darat menembus debu tanah merah yang beterbangan. Desa Telaga Sari adalah pemukiman transmigran yang telah ada sejak tahun 1980-an, namun ironisnya, hingga kini mereka masih bergulat dengan krisis air bersih. "Kami ini masyarakat lokal, tanah ini tidak berpenghuni saat orang tua kami datang. Merauke adalah kampung halaman kami, meski orang tua kami berasal dari Jawa," ungkap Bapak Riyanto, Kepala Desa Telaga Sari.

Meski berada di kawasan yang dicanangkan sebagai pusat lumbung pangan nasional (food estate), warga Telaga Sari justru belum merasakan kemerdekaan atas air bersih. Secara geografis, desa ini hanya berada ±1 meter di atas permukaan laut, sehingga air tanahnya cenderung payau dan berbau belerang. Selama puluhan tahun, 480 KK di sana terpaksa mengandalkan air hujan yang ditampung di embung terbuka tanpa pelapis. Air tersebut keruh, kotor, dan tidak steril, namun menjadi satu-satunya sumber untuk kebutuhan Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK).

Melihat kondisi tersebut, tim dosen lintas pakar yang terdiri dari Miga Magenika Julian, S.T., M.T. (ITB), Dr. Prima Roza, S.E., M.Ed.Admin. (ITB), Esa Fajar Hidayat, S.Kel., M.Si. (UB), dan Sunarni, S.Pi., M.Si. (UnMus) merancang sebuah intervensi teknologi tepat guna. Melalui program Desanesha, mereka memperkenalkan modifikasi filtrasi pasir lambat yang inovatif dan berbiaya rendah.

Teknologi yang diusung menggunakan material yang mudah didapat seperti karbon aktif, pasir silika, zeolit, dan memanfaatkan kearifan lokal berupa kulit kerang sungai. Di tengah proses instalasi dan edukasi, peran mahasiswa menjadi sangat vital. Sarah Kristina Pakpahan (Teknik Lingkungan ITB) dan Nur Fadilah Muktiningsih (Teknik Geodesi & Geomatika ITB) terjun langsung mendampingi warga dalam mempraktikkan teori yang mereka pelajari di bangku kuliah.

Kedua mahasiswa ini berperan dalam mentransfer pengetahuan teknis kepada perangkat desa dan masyarakat mengenai bagaimana merawat filter dan melakukan proses scraping (pembersihan lapisan pasir) tanpa merusak lapisan biologis di bawahnya. Keterlibatan mahasiswa ini memastikan bahwa teknologi yang diberikan tidak hanya menjadi benda mati, tetapi menjadi ilmu yang hidup di tengah masyarakat.

Kunci dari keberhasilan alat ini adalah pembentukan lapisan schmutzdecke pada permukaan pasir, sebuah ekosistem mikroorganisme yang berfungsi memakan bahan organik dan menonaktifkan patogen. Dengan laju filtrasi 18–36 liter per jam, air yang keluar terbukti memiliki tingkat kekeruhan di bawah 1-2 NTU dengan kandungan bakteri yang berkurang hingga 99%.

Meski tim telah kembali ke Jawa, komunikasi dengan Bapak Riyanto terus berlanjut secara daring. Sampel air hasil filtrasi kini tengah diuji lebih lanjut di laboratorium Teknik Lingkungan ITB untuk memastikan keamanan parameter fisik dan kimianya. Program ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat dapat melahirkan solusi berkelanjutan bagi daerah-daerah yang selama ini "nyaris terlupakan".

SDGs : #SDG6 #SDG3 #SDG4 #SDG10

482

views

09 February 2026