Penulis
Dr. Prima Roza, S.E, M.Ed. Admin.
Dosen KK Ilmu-Ilmu Kemanusiaan FSRD, ITB
Desa Wringinputih Ramah Konservasi Mangrove
Desa Wringinputih, yang terletak di Kabupaten Banyuwangi, merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki kawasan mangrove cukup luas dan masih terjaga. Wilayah ini didominasi oleh masyarakat nelayan yang sebagian besar menggantungkan hidup dari laut. Namun, potensi mangrove sebagai sumber bahan baku produk pangan olahan masih belum dimanfaatkan secara optimal. Melihat peluang ini, Kelompok Tani Hutan Makmur bersama kelompok nelayan setempat menjadi mitra strategis dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kelompok yang dipimpin oleh Bapak Hendro Supeno ini aktif dalam mengkampanyekan konservasi mangrove yang selaras dengan visi tim pengabdian masyarakat.
Potensi ekonomi pesisir Indonesia sangat besar, tidak hanya pada sektor perikanan tangkap dan budidaya, tetapi juga pada pemanfaatan sumber daya hayati pesisir seperti ekosistem mangrove yang selama ini masih belum dipandang potensial. Mangrove tidak hanya berperan penting secara ekologis sebagai pelindung garis pantai, penyerap karbon, dan habitat bagi biota, namun juga memiliki nilai ekonomi melalui berbagai produk olahan berbasis pangan. Dalam kerangka Blue Economy, pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan dapat menjadi sumber penghidupan alternatif bagi masyarakat pesisir, terutama perempuan yang memiliki peran penting dalam pengolahan hasil dan penguatan ekonomi keluarga.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program pemberdayaan perempuan pesisir yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya, di mana fokus utamanya adalah pengenalan potensi mangrove dan pelatihan dasar pengolahan. Pada tahap lanjutan ini, kegiatan diarahkan untuk hilirisasi produk berbasis mangrove yang telah dihasilkan, yaitu keripik mangrove, teh mangrove, dan sirup mangrove. Komoditas mangrove yang dimanfaatkan adalah Acanthus ebra untuk produksi teh dan keripik, sedangkan sirup menggunakan sumberdaya dari mangrove jenis Sonneratia caseolaris. Pendekatan hilirisasi meliputi penguatan kapasitas produksi, standardisasi kualitas, desain kemasan, pemasaran berbasis digital, hingga pembentukan model bisnis yang berkelanjutan.
Partisipasi Perempuan dalam Upaya Konservasi Mangrove
Pengabdian masyarakat ini berangkat dari tujuan SDG 5, yaitu kesetaraan gender, di mana tidak hanya kaum laki-laki yang dapat dipandang memiliki kontribusi terhadap konservasi dari kegiatan menanam di area hutan. Bahkan, perempuan mampu berbuat sama pentingnya untuk upaya konservasi meskipun dari “dapur rumah”. Partisipasi tersebut sangat mungkin dengan pendekatan diversifikasi olahan produk mangrove yang kemudian diperjualbelikan di pasar. Selain masyarakat pesisir mendapat manfaat secara ekonomi, produk mangrove juga akan dikenal secara luas sebagai salah satu alternatif komoditas pangan yang dapat mendukung nilai-nilai konservasi untuk kelestarian lingkungan pesisir. Secara hipotesis, peningkatan kualitas dan kuantitas ekologi mangrove dapat naik seiring banyaknya jumlah penjualan produk olahan mangrove. Mitra utama dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah kelompok usaha yang dikoordinir oleh Ibu Yuli, istri Bapak Hendro. Kelompok usaha ini juga menggandeng kaum perempuan istri nelayan dan petambak aktif sebagai upaya pemberdayaan perempuan untuk berdikari secara ekonomi dan juga edukasi.
Model Pemecahan Masalah
Permasalahan utama yang dihadapi kelompok perempuan pesisir di Desa Wringinputih adalah rendahnya pemanfaatan potensi mangrove sebagai bahan baku produk pangan bernilai jual, keterbatasan keterampilan teknis dalam pengolahan yang memenuhi standar mutu, serta minimnya akses dan strategi pemasaran, terutama di ranah digital. Untuk mengatasi hal tersebut, kegiatan pengabdian ini dirancang melalui rangkaian solusi yang saling terintegrasi, memadukan aspek teknis, manajerial, dan pemasaran berbasis teknologi.
Tahap awal sebagai solusi adalah peningkatan kapasitas teknis produksi. Pendampingan dilakukan untuk mengajarkan teknik pengolahan keripik, teh, dan sirup mangrove yang higienis, efisien, dan sesuai standar mutu pangan. Solusi ini mengatasi kendala kualitas yang sebelumnya membuat produk sulit bersaing di pasar lebih luas. Pengenalan penggunaan peralatan tepat guna dan metode standardisasi proses diharapkan mampu meningkatkan volume produksi tanpa menurunkan mutu.
Permasalahan kemasan yang kurang menarik dan tidak memenuhi standar informasi produk dijawab dengan penguatan aspek desain dan branding. Melalui pelatihan, kelompok diajarkan membuat kemasan yang informatif, memuat logo, label, dan keterangan gizi. Identitas visual produk difokuskan untuk menonjolkan ciri khas Desa Wringinputih, sehingga memberikan nilai diferensiasi dibanding produk sejenis.
Keterbatasan pemasaran tradisional yang hanya mengandalkan penjualan langsung diatasi dengan digitalisasi pemasaran. Alternatif ini diwujudkan dalam bentuk pelatihan penggunaan media sosial (Instagram, Facebook, TikTok) dan marketplace. Peserta dilatih membuat konten promosi kreatif berupa foto, video singkat, serta narasi yang menarik perhatian calon konsumen. Mereka juga diperkenalkan pada strategi penjadwalan konten dan pemanfaatan iklan berbayar agar jangkauan pemasaran lebih luas.
Kendala perencanaan usaha dan keberlanjutan bisnis dijawab dengan pengembangan model bisnis sederhana berbasis Business Model Canvas (BMC). Dalam solusi ini, kelompok dibimbing untuk memahami segmen pasar, saluran distribusi, sumber pendapatan, hingga strategi pembagian keuntungan. Perhitungan harga pokok produksi dan penentuan harga jual menjadi bagian penting untuk memastikan keberlanjutan usaha.
Agar pengetahuan dan keterampilan yang diberikan tidak berhenti setelah program selesai, solusi terakhir adalah penyusunan modul pelatihan. Modul ini berisi panduan langkah demi langkah mulai dari pengolahan, pengemasan, pemasaran, hingga pengelolaan usaha. Dengan adanya modul, kelompok memiliki referensi yang dapat digunakan secara mandiri maupun untuk melatih anggota baru di masa depan.
Dengan kombinasi solusi yang bersifat teknis, kreatif, dan strategis ini, diharapkan permasalahan utama yang dihadapi kelompok perempuan pesisir Desa Wringinputih dapat diatasi secara berkelanjutan. Model pemberdayaan ini juga dapat menjadi contoh bagi desa pesisir lain yang memiliki potensi sumber daya serupa. Dominasi perempuan juga ditunjukkan oleh personil tim yang terlibat dengan diketuai oleh Dr Prima Roza dari ITB dan Mega Yuniartik, MP., kolaborator lokal dari Untag Banyuwangi turut memperkuat peran perempuan dalam konservasi mangrove di Banyuwangi. Sebagai bagian dari tujuan ‘Kampus Berdampak’, pendampingan juga melibatkan mahasiswa ITB yaitu Nur Fadilah Muktiningsih, Ayomi Raihan, dan Alena Cansery dari multidisiplin ilmu.
Gambaran Kegiatan Pengabdian Masyarakat
Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2025 ini berlangsung di Desa Wringinputih, Kabupaten Banyuwangi, dengan melibatkan Kelompok Tani Hutan Makmur dan kelompok nelayan setempat. Program ini merupakan lanjutan dari upaya pemberdayaan perempuan pesisir dalam pemanfaatan mangrove sebagai bahan baku produk pangan, sekaligus hilirisasi konsep blue economy pada sektor olahan pangan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan koordinasi lapangan antara tim pelaksana dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Brawijaya, dan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Pertemuan awal digunakan untuk menyepakati tujuan, membahas kebutuhan peserta, serta memetakan potensi bahan baku mangrove yang tersedia di wilayah pesisir desa.
Selanjutnya dilakukan pelatihan teknis produksi yang berfokus pada peningkatan kualitas tiga produk unggulan, yaitu keripik mangrove, teh mangrove, dan sirup mangrove. Peserta, yang sebagian besar adalah perempuan anggota kelompok nelayan, mempraktikkan teknik pengolahan higienis, penggunaan peralatan tepat guna, dan pengendalian mutu. Hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan konsistensi tekstur dan rasa pada produk yang dihasilkan dibandingkan sebelum pelatihan.
Tahapan berikutnya adalah pelatihan pengemasan dan branding. Peserta didampingi untuk merancang kemasan yang menarik, menambahkan label gizi, dan menciptakan identitas merek yang menonjolkan ciri khas Desa Wringinputih. Sebagian besar kelompok berhasil menghasilkan desain kemasan baru yang lebih profesional dan siap bersaing di pasar.
Untuk meningkatkan pemasaran, dilaksanakan pelatihan pemasaran digital yang mencakup penggunaan media sosial dan marketplace. Peserta diajarkan membuat konten promosi, memotret produk dengan latar yang sesuai, membuat video singkat, dan mengelola akun bisnis. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa setelah pelatihan, beberapa anggota telah memulai penjualan produk melalui Instagram dan Shopee, dengan peningkatan jumlah pesanan dalam dua minggu pertama.
Tim memberikan pendampingan penyusunan model bisnis bertujuan untuk memastikan keberlanjutan usaha, menggunakan kerangka Business Model Canvas (BMC). Dengan menggunakan model bisnis ini peserta memahami cara menghitung harga pokok produksi, menentukan harga jual yang kompetitif, dan merencanakan distribusi keuntungan kelompok.
Seluruh materi dan dokumentasi kegiatan dihimpun menjadi modul pelatihan yang diserahkan kepada kelompok mitra. Modul ini diharapkan menjadi panduan bagi pengembangan usaha, serta dapat digunakan untuk melatih anggota baru.
Secara keseluruhan, data hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan teknis, kualitas produk, dan jangkauan pemasaran kelompok mitra. Program ini berhasil memberikan dampak positif baik secara ekonomi maupun sosial, sekaligus mendorong kesadaran akan pentingnya kelestarian mangrove sebagai penopang usaha berkelanjutan.
Tanggapan Perwakilan Masyarakat
"Dulu kami hanya sanggup membuat keripik mangrove sekitar 5–10 bungkus per hari. Setelah ikut pelatihan ini, kami bisa memproduksi hingga 30 bungkus dengan kualitas yang sama bahkan lebih baik. Prosesnya jadi lebih cepat dan rapi."
— Suhartatik, Anggota Kelompok Tani Hutan Makmur
"Pelatihan ini membantu kami menghitung kapasitas produksi yang realistis sesuai permintaan pasar. Sekarang, kami berani menerima pesanan besar karena sudah tahu cara membagi proses dan menjaga kualitas di setiap tahap."
— Yuli, Koordinator Produksi Kelompok
"Bagi kami, yang paling terasa adalah peningkatan jumlah dan kualitas produksi. Dulu kami takut stok menumpuk karena tidak tahu cara memasarkannya, tapi sekarang penjualan justru meningkat. Produksi besar tidak lagi jadi masalah."
— Sulis, Anggota Tim Pemasaran
Keberlanjutan Program
Program pemberdayaan perempuan pesisir di Desa Wringinputih ini dirancang untuk memberikan manfaat jangka panjang melalui penguatan kapasitas produksi, pengelolaan usaha, dan pemasaran digital. Dengan keterampilan teknis yang telah ditingkatkan serta peralatan dan modul panduan yang tersedia, kelompok mitra mampu memproduksi keripik, teh, dan sirup mangrove dalam jumlah lebih besar dengan kualitas terjaga. Penerapan sistem kerja kelompok dan pencatatan keuangan sederhana juga memperkuat fondasi manajemen usaha agar dapat berjalan mandiri tanpa ketergantungan penuh pada pendampingan luar.
Keberlanjutan program semakin terjamin dengan pemasaran digital yang telah dioptimalkan, memungkinkan kelompok menjangkau konsumen di luar daerah dan membangun basis pelanggan tetap. Kemitraan yang terjalin dengan perguruan tinggi dan lembaga terkait akan terus dijaga untuk membuka peluang pelatihan lanjutan, akses inovasi teknologi, serta promosi di tingkat regional dan nasional. Dengan landasan ini, program diharapkan tidak hanya mempertahankan hasil yang telah dicapai, tetapi juga berkembang menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi di desa pesisir lain.
Ucapan Terima Kasih
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat terlaksana dengan dukungan finansial dari DPMK ITB melalui skema Bottom - Up Tahap II 2025.