JAYAPURA – Tim dosen dari Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan pertemuan awal yang strategis dengan Kepala Desa Bumi Sahaja di Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, pada hari Rabu (22/10/2025). Kunjungan ini merupakan implementasi nyata dari program pengabdian masyarakat yang diinisiasi melalui Desanesha.
Desanesha adalah sebuah platform aplikasi inovatif yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak akhir tahun 2022. Platform digital ini dirancang khusus untuk menjembatani komunikasi dan kolaborasi secara efektif antara para kepala desa di seluruh Indonesia dengan pakar-pakar multidisiplin dari ITB, memungkinkan identifikasi dan solusi masalah desa secara cepat dan tepat sasaran.
Melalui platform Desanesha inilah, kebutuhan mendesak Desa Bumi Sahaja akan air bersih berhasil diidentifikasi dan dipetakan. Aplikasi ini kemudian memfasilitasi terhubungnya kepala desa dengan tim ahli ITB yang relevan, yang berpuncak pada kunjungan lapangan ini.
Fokus utama dari pertemuan tersebut adalah untuk mendiskusikan rencana teknis dan sosial terkait penentuan titik pengeboran air bersih. Program pengabdian masyarakat ini, yang didukung penuh oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, menunjukkan bagaimana inovasi digital yang telah matang dapat mempercepat solusi di lapangan.
Program ini menjadi wujud nyata sinergi yang kuat antara berbagai pihak. Dalam pelaksanaannya, tim pakar ITB yang terhubung melalui Desanesha bersinergi erat dengan program Ekspedisi Patriot yang diinisiasi oleh Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia. Kolaborasi ini dipandang sebagai langkah krusial untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan pemerataan kesejahteraan, khususnya di kawasan transmigrasi.
Platform Desanesha karya ITB ini berperan sebagai katalisator, memastikan bahwa keahlian teknis dari akademisi dapat secara efektif dan cepat disalurkan untuk mendukung program pemerintah dan kebutuhan riil masyarakat.
Dalam pertemuan awal tersebut, tim ITB bersama jajaran pemerintah desa melakukan diskusi mendalam. Topik utama adalah pemetaan kondisi geografis, tantangan hidrologis, dan ketersediaan sumber daya air yang ada di wilayah Bumi Sahaja.
Sebagai tindak lanjut dari diskusi yang difasilitasi Desanesha, tim ITB akan menerapkan pendekatan ilmiah mutakhir melalui teknologi eksplorasi geofisika. Metode ini digunakan untuk "melihat" ke bawah permukaan tanah dan mengidentifikasi lokasi-lokasi akuifer (lapisan pembawa air) yang paling potensial. Pendekatan ini memastikan bahwa proses pengeboran sumur air bersih nantinya dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
Ketua pelaksana kegiatan ini, Dr. Eng. Eka Oktariyanto N, S.T., M.T., menekankan bahwa program yang diinisiasi melalui Desanesha ini membawa misi ganda yang saling menguatkan. "Selain berfokus pada pembangunan infrastruktur air bersih yang sangat vital, program ini juga membawa misi edukatif yang kuat," ujar Dr. Eng. Eka Oktariyanto. "Kami tidak hanya datang untuk membangun sumur, tapi juga untuk membangun pengetahuan."
Masyarakat setempat akan dilibatkan secara aktif dalam keseluruhan proses. Mereka akan diperkenalkan dengan dasar-dasar teknologi eksplorasi air tanah, serta mendapatkan pelatihan komprehensif mengenai teknis pengelolaan dan pemeliharaan sumber air bersih yang akan dibangun. "Dengan demikian," lanjutnya, "kegiatan ini tidak hanya menghasilkan output fisik, tetapi juga outcome berupa peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat."
Kesuksesan program ini didukung oleh tim pakar multidisiplin dari berbagai keilmuan di ITB. Selain diketuai oleh Dr. Eng. Eka Oktariyanto N, S.T., M.T., tim ini diperkuat oleh:
Turut serta dalam tim adalah Iqbal Daffa Elvandi, seorang mahasiswa dari Program Studi Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air (TPSDA) ITB, yang menunjukkan adanya regenerasi dan keterlibatan aktif mahasiswa dalam pengabdian masyarakat.
Kegiatan di Desa Bumi Sahaja ini menegaskan komitmen ITB dalam pemberdayaan masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna. Platform Desanesha, sebagai inovasi digital ITB yang telah dikembangkan sejak 2022, terbukti menjadi jembatan efektif untuk membangun solusi berkelanjutan terhadap permasalahan riil di lapangan, sekaligus memperkuat sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk membangun Papua yang lebih mandiri dan sejahtera.