BANDUNG - Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkenalkan terobosan inovatif bernama Desa Cerdas Berbasis Pisang (Banana Smart Village/BSV). Konsep ini memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara menyeluruh untuk mengubah pisang dari sekadar buah menjadi komoditas berharga yang mampu mendorong ekonomi sirkular dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan.
Gagasan ini menjadi daya tarik utama di Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia. Dengan pendekatan multidisiplin, para peneliti ITB menunjukkan bagaimana pisang dapat dimanfaatkan secara maksimal, menciptakan sistem yang minim limbah. Penerapan teknologi dalam program BSV mencakup seluruh siklus produksi pisang. Mulai dari pembibitan unggul menggunakan kultur jaringan dan Recipient for Automated Temporary Immersion System (RITA Bioreactor), hingga perawatan tanaman yang efisien dengan drone FEIA16 untuk penyemprotan.
Setelah panen, inovasi tidak berhenti. Teknologi nano pada rak penyimpanan membantu mengatur kematangan pisang, sehingga petani dapat mengendalikan harga dan menghindari kerugian akibat panen berlimpah. Mesin pengering juga memungkinkan pengolahan pisang menjadi beragam camilan, menambah nilai jual produk.
Aspek terpenting dari BSV adalah konsep zero waste atau tanpa limbah. Semua bagian tanaman pisang dimanfaatkan kembali. Kulit, batang, dan serat diolah menjadi pewarna alami, serat tekstil, dan produk fesyen berkelanjutan. Bahkan, daun pisang dapat dijadikan pakan ternak sapi, dan kotorannya diubah menjadi pupuk atau biogas, menciptakan siklus nutrisi yang sempurna.
Konsep BSV telah diimplementasikan di Desa Bukti, Kabupaten Buleleng, Bali, sejak 2019. Desa ini berhasil memanfaatkan lahan tandus dan menjadi prototipe BSV pertama di dunia, bahkan meraih penghargaan nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Tidak hanya terbatas pada pertanian di Bumi, riset pisang ITB juga merambah ke pertanian luar angkasa. Penelitian microgravity oleh Prof. Fenny Martha Dwivany, S.Si., M.Si., Ph.D.
menunjukkan bahwa pematangan pisang dapat diperlambat, memberikan wawasan untuk sistem pangan dalam misi antariksa jangka panjang. Selain itu, limbah kulit pisang juga dieksplorasi sebagai pewarna alami untuk kain sutra, mendukung tradisi tenun lokal. Untuk memperluas jangkauan, petani kini juga memanfaatkan aplikasi digital Antar-antar Pisang untuk mempermudah penjualan.
Dengan keberhasilan ini, ITB terus mengajak pemerintah daerah dan sektor industri untuk mengembangkan program BSV di desa-desa lain, membuktikan bahwa sains dan teknologi dapat menjadi kunci untuk menciptakan desa yang lebih sejahtera, mandiri, dan berkelanjutan.
#InovasiITB #DesaCerdas #EkonomiSirkular #TeknologiPertanian #SDGs #SDG1 #SDG2 #SDG8 #SDG9 #SDG12 #SDG13 #SDG15
Sumber :
https://dpmk-link.short.gy/QExjLK