ITB dan Masyarakat Lokal Bersinergi, Menggagas Kampung Usaha Jaya di Misool Raja Ampat sebagai Desa Geowisata Kelas Dunia

RAJA AMPAT – Di jantung keindahan Misool, Raja Ampat, sebuah inisiatif besar tengah bergulir. Institut Teknologi Bandung (ITB), melalui Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) serta Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par), memulai program pengembangan Kampung Usaha Jaya—atau yang dulu dikenal sebagai Kafopojey—menjadi sebuah desa geowisata berbasis masyarakat yang mandiri dan sejahtera.

Kegiatan yang berlangsung sepanjang tahun 2025 ini merupakan wujud nyata tanggung jawab ITB sebagai institusi akademik untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan masyarakat, khususnya di kawasan timur Indonesia. Langkah ini bertujuan agar status prestisius Raja Ampat sebagai UNESCO Global Geopark tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

Mengapa Kampung Usaha Jaya?

Tim ahli dari ITB tidak sembarang memilih. Kampung Usaha Jaya terpilih sebagai proyek percontohan karena memenuhi serangkaian kriteria strategis:

  1. Lokasi Premium: Berada di dalam kawasan Geopark Raja Ampat.
  2. Kekayaan Geosite: Memiliki puluhan daya tarik wisata yang telah diakui sebagai geosite, termasuk gua purba, danau ubur-ubur, dan titik selam kelas dunia.
  3. Keunikan Geologi dan Budaya: Menyimpan peninggalan prasejarah berupa lukisan tapak tangan di dinding karst yang memiliki nilai geologis dan antropologis yang tak ternilai.
  4. Status Resmi: Telah ditetapkan sebagai Kampung Wisata oleh Pemkab Raja Ampat sejak 2015.
  5. Keterbukaan Masyarakat: Adanya sambutan hangat dan komunikasi yang responsif dari pemerintah kampung.
  6. Potensi SDM: Telah memiliki cikal bakal kelompok pengelola wisata berupa Kelompok Sadar Lingkungan (Pokdarling).

Tim Ahli di Balik Gagasan Besar

Proyek ini dipimpin oleh para pakar multidisiplin dari ITB untuk memastikan pendekatan yang komprehensif:

  • Ketua Tim: Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman, M.T.
  • Anggota Tim:
    • Abadi Raksapati, M.Sc.
    • Yani Adriani, M.P.Par.
    • Syafira Ayudarechta T, A.Ant.
    • Josephine Puspitasari, S.T.

Langkah Awal yang Menentukan

Pada 16-25 September 2025, tim yang terdiri dari Abadi Raksapati, Syafira Ayudarechta T, dan Josephine Puspitasari terjun langsung ke lapangan. Mereka melakukan serangkaian kegiatan fundamental:

  • Memetakan Harta Karun Tersembunyi: Tim berhasil mengidentifikasi sedikitnya 25 potensi daya tarik wisata baru, mulai dari gua, danau, bentang alam unik, hingga jalur trekking edukatif.
  • Membangun Sinergi: Pertemuan hangat dengan aparat desa berhasil menggalang dukungan penuh untuk program ini.
  • Sosialisasi dan Pemberdayaan: Dialog intensif dilakukan bersama Kelompok Sadar Lingkungan pada 23 September 2025. Tim ITB memaparkan visi besar geowisata dan mendorong transformasi kelompok ini menjadi pengelola desa wisata yang profesional. Pesan utamanya: pariwisata adalah maraton, bukan sprint. Butuh kesabaran, kerja keras, dan soliditas tim untuk meraih hasil yang berkelanjutan.
  • Menanamkan Visi pada Generasi Muda: Pada 25 September 2025, tim menyelenggarakan sosialisasi interaktif di SDN 21 Usaha Jaya. Melalui permainan dan kuis, siswa diajak untuk mengenali dan mencintai kekayaan geologi di sekitar mereka, mempersiapkan mereka menjadi pelaku pariwisata di masa depan, bukan hanya penonton.
  • Studi Banding: Tim juga mengunjungi desa sekitar seperti Yellu dan Harapan Jaya untuk mempelajari model pengelolaan yang sudah berjalan, sebagai bekal merancang sistem terbaik bagi Kampung Usaha Jaya.

Harapannya, Kampung Geowisata Usaha Jaya tidak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, tetapi juga dapat menjadi percontohan desa geowisata terbaik di Indonesia.

SDGs : #SDG1 #SDG4 #SDG8 #SDG11 #SDG14 #SDG15 #SDG17

2545

views

29 September 2025