ITB Dorong Inovasi Suvenir Labuan Bajo: Padukan Kriya Tradisional dengan Teknologi 3D Printing di Pulau Rinca

Tim pengabdian masyarakat dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang diketuai oleh Muhammad Shiddiq Sayyid Hashuro, S.T., M. Eng., Ph.D. dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), telah mengembangkan sebuah alat video tele-proctoring inovatif. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya transformasi layanan kesehatan Kementerian Kesehatan RI untuk menjawab tantangan kesetaraan akses layanan, khususnya dalam penanganan stroke akut. Di Indonesia, stroke menjadi salah satu penyebab utama kematian, di mana prinsip "time is brain" sangat krusial. Namun, penanganan seringkali terhambat oleh jarak geografis, terutama di luar kota-kota besar.

Meskipun pemerintah telah banyak melatih dokter spesialis di daerah, tantangan baru muncul: banyak dokter masih kekurangan kepercayaan diri untuk melakukan prosedur intervensi kompleks (seperti coiling atau trombektomi) secara mandiri. Mereka membutuhkan bimbingan (proctoring) dari dokter ahli, namun mengirimkan proctor dari Pulau Jawa ke daerah terbukti tidak efektif untuk kasus darurat seperti stroke akut. Untuk mengatasi kesenjangan ini, tim ITB berkolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, RSUD Undata Palu, dan RS Pusat Otak Nasional (PON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta.

Alat tele-proctoring ini memungkinkan dokter ahli (proctor) membimbing dokter pelaksana (proctee) di daerah secara real-time selama tindakan di ruang cath lab. Sistem ini jauh lebih unggul daripada aplikasi konferensi umum (seperti Zoom) karena dirancang khusus untuk kebutuhan medis. Fitur utamanya mencakup komunikasi dua arah, kemampuan anotasi langsung di layar, dan yang terpenting, kontrol kamera jarak jauh oleh proctor untuk melihat detail area operasi dengan jelas.

Dalam proses pengembangan, tim melakukan wawancara mendalam dengan pengguna utama, yaitu dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS (pihak proctor dari RS PON Jakarta) dan dr. Franklin Lessyamana Sinanu, Sp.BS (pihak proctee dari RSUD Undata Palu). Menurut Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Undata, dr. Natsir, yang ditemui saat survei pada 18 Oktober 2025, masalah utama dokter di daerah bukanlah kemampuan teknis, melainkan kepercayaan diri. Alat ini memungkinkan proses supervisi dilakukan lebih sering tanpa terkendala jarak, mempercepat kurva belajar dokter di daerah.

Uji coba implementasi alat dilakukan langsung oleh tim ITB di RSUD Undata Palu pada 1–3 November 2025. Dua set perangkat dipasang dan dihubungkan dengan RS PON Jakarta. Hasilnya, sistem menunjukkan performa stabil, komunikasi lancar, dan kendali kamera responsif, membuktikan kelayakan alat ini untuk situasi medis nyata. Kendala utama yang ditemui hanyalah faktor eksternal berupa kualitas koneksi internet.

Selain manfaat medis untuk penanganan stroke dan potensi di bidang bedah lain, alat ini memiliki dampak ekonomi signifikan. Sebagai produk buatan dalam negeri, biayanya jauh lebih terjangkau dibandingkan perangkat telemedis impor yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mewujudkan kemandirian alat kesehatan nasional. Pengembangan ini adalah bukti nyata kolaborasi lintas disiplin yang berkontribusi langsung memperkuat layanan kesehatan Indonesia agar lebih tangguh, inklusif, dan merata.

SDGs : #SDG4 #SDG8 #SDG9 #SDG11 #SDG17

276

views

21 November 2025