Tolitoli, Sulawesi Tengah – Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat melalui program pengabdian masyarakat skema top-down. Melalui kegiatan yang didanai oleh Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kewirausahaan (DPMK) ITB, tim dari ITB menggelar pelatihan pembuatan briket arang di tiga desa sekaligus di Kecamatan Lampasio, Kabupaten Tolitoli, yakni Desa Janja, Salugan, dan Lampasio. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 24 hingga 29 Agustus 2025.
Pelatihan ini bertujuan untuk membekali masyarakat dengan keterampilan aplikatif dalam mengolah limbah biomassa—seperti tempurung kelapa, serbuk kayu, limbah pertanian, dan kulit kakao—menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan ekonomis. Briket arang ini diharapkan dapat menjadi solusi potensial terhadap kelangkaan pasokan gas elpiji yang kerap menjadi masalah di daerah terpencil.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat serta dukungan penuh dari pemerintah setempat. Acara pelepasan dan pembekalan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Tolitoli, Syamsu, S.Ag., M.Si., Camat Lampasio, Muhammad Yasin, S.Sos., dan Kepala Desa Lampasio.
Kepala Desa Salugan, Arman, secara terpisah menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif ITB. Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya mentransfer pengetahuan mengenai energi alternatif, tetapi juga membangkitkan potensi ekonomi desa yang sebelumnya belum banyak dimanfaatkan. "Kami sangat mengapresiasi kegiatan pelatihan ini. Tidak hanya membuka wawasan masyarakat, tetapi juga memberikan peluang usaha yang sebelumnya belum banyak dimanfaatkan," ujar Arman kepada media.
Dosen ITB, Dr. Ir. Sutrisno, M.Si., IPU, yang memimpin pelatihan menjelaskan bahwa proses pembuatan briket relatif sederhana dan bisa dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. "Kami mengajarkan masyarakat bagaimana cara membuat briket arang dari limbah pertanian dan kayu. Briket ini tidak hanya bisa digunakan sendiri, tetapi juga bisa dijual karena punya nilai ekonomis yang cukup tinggi," kata Dr. Sutrisno. Ia menambahkan, tantangan utama bukanlah pada ketersediaan bahan baku, melainkan pada edukasi dan bimbingan agar masyarakat mau dan mampu memanfaatkan potensi tersebut secara berkelanjutan.
Tim pengabdian ITB menghadirkan pendekatan praktis, mulai dari pengenalan bahan baku, proses pembuatan, hingga teknik pembakaran yang efisien. Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai pemasaran produk untuk meningkatkan nilai ekonomi keluarga. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat, program ini diharapkan dapat mendorong kemandirian energi dan meningkatkan kesejahteraan warga di wilayah terpencil.
Kepala DPMD Syamsu, S.Ag., M.Si. berharap ITB dapat kembali datang ke Tolitoli di tahun berikutnya untuk melanjutkan program pemberdayaan masyarakat. Beliau menekankan pentingnya koordinasi agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata. Diharapkan program ini dapat ditindaklanjuti oleh BUMDes, Koperasi Desa Merah Putih, dan pelaku UMKM setempat agar tidak berhenti pada tahap pelatihan saja.
#ITB #PengabdianMasyarakat #Tolitoli #EnergiBersih #BriketArang #PemberdayaanMasyarakat #SDGs #SDG1 #SDG7 #SDG8 #SDG9 #SDG10 #SDG12 #SDG17
Sumber :
https://rri.co.id/toli-toli/daerah/1795479/itb-latih-warga-salugan-olah-limbah-jadi-briket
https://www.instagram.com/p/DN5il1uk38H/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA%3D%3D