Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali membuktikan komitmen nyatanya dalam menghadirkan solusi atas persoalan riil di tengah masyarakat melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Living Lab Penanganan Polusi Asap Pembakaran Limbah Pertanian melalui Identifikasi Emisi, IoT Deteksi Dini Asap, dan Blockchain untuk Keberlanjutan Ekonomi–Lingkungan dan SDGs di Kota Bandung”. Berlangsung sepanjang tahun 2026, kegiatan strategis ini dipusatkan di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, dengan fokus utama mengatasi polusi udara akibat pembakaran jerami sisa panen pertanian.
Pembakaran limbah pertanian, khususnya jerami, sering kali menjadi cara instan yang dipilih sebagian petani pascapanen. Namun, praktik konvensional ini memicu masalah lingkungan serius, mulai dari pencemaran udara akibat emisi gas buang dan partikulat, hingga ancaman kesehatan bagi warga sekitar. Menyadari kompleksitas masalah ini, ITB hadir melalui skema Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek).
Bestari Saintek merupakan program kolaboratif nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Tujuan utama program ini adalah menjembatani riset-riset unggulan perguruan tinggi agar dapat langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, menciptakan ekosistem inovasi yang partisipatif, serta memberikan dampak nyata secara sosial, ekonomi, dan ekologis.
Keberhasilan program pengabdian masyarakat ini sangat bergantung pada kekuatan sinergi lintas disiplin ilmu dan kemitraan pentahelix. Kegiatan ini diketuai secara langsung oleh Prof. Ir. Puji Lestari, Ph.D., dengan melibatkan para pakar dari berbagai fakultas dan sekolah di lingkungan ITB:
Tidak hanya berhenti di ranah akademis, tim peneliti juga menggandeng mitra industri dan pemerintah daerah, yakni PT. Eco Plastika Indonesia (EcoplastID) serta Pemerintah Kecamatan Gedebage. Keterlibatan aktif lintas sektor ini memastikan bahwa teknologi dan metode yang dikembangkan benar-benar kontekstual, aplikatif, serta menjawab kebutuhan spesifik di wilayah Gedebage.
Dalam mengurai benang kusut polusi asap pembakaran jerami, tim ITB menerapkan pendekatan terpadu yang memadukan tiga pilar teknologi utama:
Gedebage dipilih bukan tanpa alasan. Wilayah ini menjadi kancah ideal untuk menerapkan konsep Living Lab (Laboratorium Hidup), di mana riset tidak dilakukan di dalam ruang steril laboratorium kampus, melainkan langsung di tengah dinamika kehidupan nyata masyarakat.
Melalui pendekatan living lab, seluruh pemangku kepentingan—mulai dari akademisi, pemerintah kecamatan, industri, hingga petani—duduk bersama untuk memahami akar masalah, merancang solusi secara partisipatif, serta mengevaluasi efektivitas penerapan teknologi secara berkala. Hal ini mencerminkan esensi dari Bestari Saintek: ilmu pengetahuan yang hidup bersama rakyat dan berkembang untuk rakyat.
Seluruh rangkaian kegiatan yang berjalan sepanjang tahun 2026 ini bermuara pada satu visi besar: pembangunan berkelanjutan. Penanganan polusi asap tidak boleh mematikan mata pencaharian atau aktivitas ekonomi warga setempat. Oleh karena itu, pendekatan ekonomi-lingkungan (eco-economic sustainability) dikedepankan agar pengelolaan limbah jerami bernilai tambah ekonomi tanpa merusak kualitas udara dan lingkungan hidup.
Melalui integrasi riset multidisiplin, pemanfaatan perangkat digital IoT dan blockchain, serta pelibatan aktif masyarakat melalui living lab, ITB berharap program ini dapat menjadi model percontohan nasional dalam merespons persoalan lingkungan perkotaan dan pertanian secara berkelanjutan.