Bireuen, Aceh — Rumah Amal Salman bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Paragon Corp kembali menginisiasi program pemulihan masyarakat terdampak bencana di Bireuen, Aceh. Melalui program “ITB Peduli Sumatera”, kolaborasi ini menghadirkan pembangunan empat unit bangunan yang terdiri atas tiga hunian sementara dan satu musala guna memenuhi kebutuhan tempat tinggal sekaligus mendukung warga kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
Program ini terwujud berkat sinergi lintas lembaga yang melibatkan Paragon, DPMK ITB, SAPPK ITB, Universitas Sumatera Utara (USU), Corporate Real Estate Management (CREM), Kahf, serta Rumah Amal Salman. Kolaborasi strategis ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mendesak masyarakat sekaligus menghadirkan fasilitas jangka panjang yang dapat terus dimanfaatkan setelah masa pemulihan selesai.
Tiga unit bangunan hunian sementara yang dibangun dirancang agar masing-masing unit dapat ditempati oleh dua keluarga. Sementara itu, satu unit lainnya difungsikan sebagai musala. Seluruh bangunan didesain secara fleksibel guna menyesuaikan kebutuhan masyarakat selama masa pemulihan maupun untuk dialihfungsikan bagi kepentingan umum di masa depan.
Salah satu keunggulan utama dalam proyek ini adalah kecepatan konstruksinya. Arsitek ITB, Andry Widyowijatnoko, menjelaskan bahwa konsep atap mansard yang diterapkan merupakan hasil pengembangan sistem rangka inovatif. Metode precut atau prefabrikasi ini memungkinkan komponen bangunan dirakit dengan durasi yang sangat cepat di lokasi.
"Terbukti tiga rangka penuh berdiri dengan tambahan beberapa gording terpasang bisa didirikan dalam waktu hanya 3 jam 22 menit," ujar Andry.
Desain tersebut juga disesuaikan secara cermat dengan kondisi lokal, mulai dari ketersediaan kayu sebagai bahan utama hingga keterampilan tenaga kerja setempat. Penggunaan atap mansard tidak hanya mempercepat proses pembangunan, tetapi juga memberikan volume ruang yang lebih besar untuk mendukung kenyamanan termal dan kualitas ruang yang optimal. Konsep ini ke depannya juga potensial diterapkan di wilayah lain dengan penyesuaian terhadap budaya bermukim dan material lokal setempat.
Di tengah kondisi pascabencana, penyediaan hunian menjadi tantangan yang cukup berat bagi warga Bireuen. Keuchik setempat mengungkapkan bahwa bencana tidak hanya merusak tempat tinggal, tetapi juga menghilangkan tempat kerja serta lahan pertanian dan kebun produktif warga, sehingga sebagian masyarakat sempat kesulitan untuk menyewa rumah atau membangun hunian baru.
Kini, dengan hadirnya hunian sementara tersebut, beban warga dapat sedikit terangkat. "Masyarakat yang sudah menempatinya sekarang sudah aktif bekerja tanpa memikirkan lagi beban sewa ataupun tempat tinggal," ungkap sang Keuchik.
Pemerintah Gampong di Aceh juga berkomitmen untuk menjaga dan memaksimalkan manfaat bangunan tersebut dalam jangka panjang. Selama masih dibutuhkan, bangunan akan dioptimalkan sebagai tempat tinggal. Setelah kebutuhan hunian permanen warga terpenuhi, fasilitas ini dapat dialihfungsikan untuk kepentingan umum, seperti ruang Taman Kanak-Kanak (TK), Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA), balai pengajian, musala, maupun gudang desa.
Melalui inisiatif ini, pemulihan pascabencana dimaknai lebih dari sekadar menyediakan tempat berteduh, melainkan menghadirkan ruang hidup yang aman, layak, dan bermartabat agar masyarakat dapat kembali menata masa depan mereka. ***