Dalam upaya strategis mengakselerasi perekonomian lokal dan kesejahteraan petani di kawasan transmigrasi, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 ITB Tahun 2026 menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) terpadu bertajuk pengembangan bisnis komoditas unggulan Jeruk Siam Banjar pada Kamis pagi, 10 September 2026, bertempat di Ruang Pertemuan Klaster Jeruk Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana. Kegiatan perumusan strategi hulu hingga hilir ini dipimpin langsung oleh Ketua Tim TEP 1 ITB 2026, Dr. Ir. Rijanti Rahaju Maulani, S.P., M.Si. (Dosen Pasca Panen SITH ITB), bersama jajaran tim peneliti ITB: Latiefah Zuhra Daulay, S.T., Sekar Prabhandiya, S.Si., Wasiatul Magfiroh, S.Si., Nurayuda, S.Si., dan Akbar Primasongko Rijanto, S.P., M.Si. Diskusi lintas pemangku kepentingan ini turut melibatkan unsur Pemerintah Kabupaten Barito Kuala, di antaranya Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Arif Widodo, M.S., Perencana Ahli Muda Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Khairul Arifin, M.IP., perwakilan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distantph), para camat (Camat Mandastana Siti Khadijah dan Camat Belawang Sholihin), kepala desa, pengurus BUMDes, penyuluh lapangan, hingga tokoh petani setempat.
Kawasan Transmigrasi Cahaya Baru, khususnya klaster agro yang meliputi Kecamatan Mandastana dan Kecamatan Belawang—dikenal secara lokal dengan sebutan kawasan "Terantang"—merupakan episentrum produksi jeruk siam banjar di Kabupaten Barito Kuala. Kawasan ini mencakup empat desa penopang:
Secara geografis, Terantang berada sekitar 60 kilometer dari Ibukota Banjarbaru dengan jarak tempuh sekitar 90 menit perjalanan darat. Sejak proyek perintisan bergulir pada 2008, lanskap pertanian di kawasan ini bertransformasi dari lahan basah berbasis padi menjadi sawah terintegrasi jeruk karena tingginya nilai ekonomi komoditas tersebut. Namun, pesatnya lonjakan produksi belum dibarengi dengan stabilitas harga di tingkat petani serta kepastian akses pasar modern yang berkelanjutan.
Berdasarkan hasil survei lapangan yang dipaparkan tim TEP ITB, kuantitas panen jeruk sebenarnya sudah sangat melimpah. Persoalan mendasar terletak pada disparitas mutu buah yang belum seragam sehingga sulit menembus pasar ritel modern dan industri pengolahan berskala besar.
Dr. Ir. Rijanti Rahaju Maulani, S.P., M.Si. menekankan pentingnya komitmen bersama dalam menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) di tingkat kebun dan Good Handling Practices (GHP) saat pascapanen:
“Kalau mau pengembangan bisnis, tentu saja kita harus menyediakan kualitas jeruk yang terbaik. Kalau kita tetap mempertahankan kualitas seperti sekarang, pasar akan jatuh lagi, karena tidak memenuhi syarat untuk dijual di pasar yang lebih luas.”
Pernyataan tersebut diamini oleh Bapak Paimin, petani senior dengan pengalaman 39 tahun yang juga menjadi penyuluh lokal. Beliau menyoroti bahwa banyak petani yang mulai melupakan Standard Operating Procedure (SOP) budidaya yang telah dirumuskan sejak 15 tahun lalu. Akibat mengejar kuantitas jangka pendek, jarak tanam yang idealnya 5 meter kerap dipangkas menjadi hanya 2 meter. Praktik ini memicu kelembapan berlebih di lahan gambut yang asam, memicu serangan penyakit tanaman, serta menurunkan ukuran dan rasa buah. Pak Paimin mengajak petani membiasakan pencatatan kondisi kebun dan kembali patuh pada SOP budidaya.
Isu krusial yang mengemuka dalam FGD adalah rantai tata niaga yang terlalu panjang (supply chain distortion). Sekretaris Brigade Pangan Desa Karang Bunga, Ibu Sri Rohyanti, menguraikan posisi tawar petani yang sering kali tersudut:
Solusi mendesak yang ditawarkan bukan memusuhi pelaku pasar yang ada, melainkan membangun kelembagaan formal petani (seperti asosiasi atau korporasi petani). Kelembagaan terpusat ini berfungsi memperkuat posisi tawar harga, memotong simpul tengkulak yang tidak efisien, dan mewadahi negosiasi kontrak dagang secara kolektif dengan nama merek dagang resmi: Jeruk Siam Banjar.
Pemerintah Kabupaten Barito Kuala menyambut baik riset aksi dan pendampingan yang digagas Tim Ekspedisi Patriot ITB:
Kepala Disnakertrans Arif Widodo, M.S. menyatakan komitmen pembagian peran terintegrasi: Dinas Pertanian mengawal penguatan budidaya hulu, sedangkan Disnakertrans berfokus pada hilirisasi produk transmigran. Disnakertrans siap berkoordinasi dengan Disperindag untuk memfasilitasi izin edar, sertifikasi higienitas, perbaikan desain kemasan, serta akses pameran bagi produk UMKM lokal.
Perencana Ahli Muda BAPPERIDA Khairul Arifin, M.IP. mengonfirmasi bahwa komoditas jeruk siam banjar telah terkunci secara legal dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah 5 tahunan maupun 20 tahunan sebagai fokus transformasi Barito Kuala menuju kabupaten berbasis agroindustri terpadu.
Potensi hilirisasi di Terantang telah dirintis melalui pendirian rumah produksi di bawah naungan BUMDes Karang Bunga yang dipimpin oleh Pak Agus Esthi. BUMDes ini telah memproduksi aneka olahan turunan seperti es krim, sirup, jus kemasan, dan puding jeruk. Namun, kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan kapasitas serap pasar lokal dan kontinuitas pesanan luar daerah, sebagaimana ditegaskan oleh Camat Mandastana Siti Khadijah dan Camat Belawang Sholihin.
Di samping produk olahan pangan, persoalan limbah panen (off-grade fruit) turut dicarikan jalan keluar. Menjawab kekhawatiran petani terkait banyaknya buah sisa sortiran yang terbuang percuma, Tim Ekspedisi Patriot ITB bersama kelompok tani menjadwalkan pelatihan pengolahan limbah kulit dan ampas jeruk menjadi pupuk organik cair serta kompos bermutu tinggi pada akhir September 2026.
FGD diakhiri dengan pesan tegas dari masyarakat dan perangkat desa—termasuk Kepala Desa Karang Dukuh Bu Cahyo—yang menginginkan program pendampingan agroindustri ini berjalan secara berkelanjutan (sustainable), bukan sekadar program sporadis tanpa tindak lanjut. Integrasi antara kepakaran teknologi pascapanen ITB, komitmen lintas dinas Pemkab Barito Kuala, serta kemandirian kelembagaan petani diharapkan mampu mengantarkan Jeruk Siam Banjar menjadi komoditas berdaya saing nasional yang menyejahterakan masyarakat transmigrasi secara berkesinambungan.