Inisiatif transformasi digital layanan kesehatan berbasis komunitas ini digerakkan oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 Kluster Kesehatan hasil kemitraan strategis antara Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Kementerian Transmigrasi di Kawasan Transmigrasi (KT) Lereh, Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, Papua. Gerakan pengabdian ini menjangkau simpul-simpul kehidupan masyarakat secara menyeluruh, berawal dari ruang kelas kejuruan di Ruang Lab SMKN 4 Yapsi, gedung rujukan medis di UPTD Puskesmas Yapsi di Kampung Ongan Jaya, Balai Pertemuan Kampung Bumi Sahaja pada kawasan Satuan Permukiman 2 (SP 2), hingga menyentuh warga di SP 1 (Desa Ongan Jaya dan Kampung Bundru), serta mencakup wilayah pemetaan di SP 3 (Kampung Nawa Mulya), SP 4 (Kampung Nawa Mukti), SP 5 (Kampung Taqwa Bangun dan Kampung Kwarja), SP 6 (Kampung Purnawajati), beserta kampung-kampung lokal seperti Kampung Kwarja, Kampung Tabeyan, dan Kampung Bundru. Pelaksanaan program di lapangan dinakhodai langsung oleh Dr. Muhammad Yudhistira Azis, M.Si. selaku Ketua Tim 11 sekaligus PIC Kluster Kesehatan TEP 2026 di Distrik Yapsi, bersama apt. Yangie Dwi Marga Pinanga, Ph.D. selaku Ketua Tim 12 yang mendampingi penguatan kapasitas tenaga medis dan kader kesehatan. Kolaborasi lintas institusi ini turut menggandeng akademisi sistem informasi Universitas Cenderawasih Dr. Mingsep Rante Sampebua, S.T., M.T., Kepala UPTD Puskesmas Yapsi dr. Maryon, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura Yeni Safitri, S.Si., Apt., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 4 Yapsi Nunung Hidayah, S.Pd., Kepala Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMKN 4 Yapsi, serta didukung oleh lima orang anggota tim mahasiswa ITB, barisan bidan dan perawat Puskesmas Pembantu (Pustu), kader Posyandu, dewan guru, para pelajar, ibu-ibu PKK, Karang Taruna, dan para tokoh masyarakat setempat. Di balik hamparan tanah hijau Kawasan Transmigrasi Lereh yang subur, tersimpan perjuangan sunyi yang setiap hari dihadapi oleh warga pedalaman. Jarak tempuh antar-SP dan kampung lokal yang saling berjauhan, infrastruktur jalan tanah yang menantang, hingga ketiadaan kepastian ketersediaan obat kerap memaksa warga yang sakit menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapati fasilitas kesehatan sedang mengalami kekosongan logistik. Menyadari jerit kebutuhan nyata dari hasil observasi di enam Satuan Permukiman dan tiga kampung lokal tersebut, platform digital Lerehfarma.id dirancang bukan sekadar aplikasi percontohan di atas meja, melainkan jembatan kepedulian yang menghubungkan bangku sekolah, bilik periksa tenaga kesehatan, hingga rumah warga di pedalaman Distrik Yapsi. Gerakan ini dinyalakan pertama kali pada Kamis, 10 September 2026, yang menyasar generasi muda di Ruang Lab SMKN 4 Yapsi. Di hadapan para pelajar jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Dr. Muhammad Yudhistira Azis, M.Si. memaparkan bagaimana keahlian teknologi dapat menjadi jawaban atas berbagai krisis kesehatan nyata di lingkungan mereka. Para siswa diajak memahami ancaman penyakit endemis seperti malaria, ISPA, kudis atau skabies, hingga pemahaman pencegahan dini HIV/AIDS serta pentingnya menjaga kebersihan tubuh. Suasana laboratorium semakin hidup ketika para siswa diajak mempraktikkan langsung sains terapan melalui tutorial pengecekan derajat keasaman (pH) air minum. Mereka mengamati reaksi kimia air konsumsi harian secara mandiri sebelum kemudian berselancar di antarmuka Lerehfarma.id untuk memantau ketersediaan obat dan jadwal tenaga medis. Rasa bangga diungkapkan oleh Nunung Hidayah, S.Pd. yang mengapresiasi keterpaduan pendekatan STEM dalam membekali siswa kejuruan. Pertemuan tersebut ditutup penuh inspirasi dengan pemaparan peluang studi lanjut sarjana di ITB serta penyerahan plakat dan buku 105 Spektra in Harmonia, membakar tekad para pelajar untuk menjadi duta literasi digital bagi keluarga mereka di rumah. Semangat kolaborasi berlanjut pada Jumat, 11 September 2026 di aula UPTD Puskesmas Yapsi, Kampung Ongan Jaya. Sebanyak 27 tenaga medis dari Puskesmas induk dan pos-pos Pustu berkumpul dalam Focus Group Discussion (FGD) dan uji coba sistem. Kehadiran Lerehfarma.id disambut hangat oleh para nakes yang selama ini memikul beban pencatatan manual. Dalam forum tersebut, Dr. Mingsep Rante Sampebua, S.T., M.T. menegaskan bahwa digitalisasi di pelosok Papua harus memanusiakan petugas: aplikasi tidak boleh membebani nakes dengan duplikasi data yang rumit, melainkan menjadi instrumen praktis untuk memantau obat dan memandu keputusan medis. Evaluasi post-test terhadap 16 tenaga medis (didominasi bidan desa 43,8% dan perawat 25,0%) menunjukkan rata-rata pemahaman prosedur mencapai 2,56 dari skala 3. Meski begitu, para nakes secara jujur menyampaikan bahwa ketiadaan jaringan internet yang stabil di pos-pos Pustu terpencil (disuarakan oleh 100% nakes) menjadi tantangan nyata yang membutuhkan pengawalan infrastruktur dan panduan buku saku (SOP) tertulis. Di faskes ini, edukasi uji pH air juga diberikan demi memastikan kelayakan air untuk sterilisasi peralatan medis. Keesokan harinya, Sabtu, 12 September 2026, denyut intervensi berlanjut langsung ke ranah komunitas warga di Balai Pertemuan Kampung Bumi Sahaja (SP 2). Balai desa dipenuhi kehangatan saat kader Posyandu, ibu-ibu PKK, dan pemuda Karang Taruna memegang laptop serta gawai untuk mencoba langsung fitur pencarian obat di Lerehfarma.id. Kelegaan warga disuarakan dengan tulus oleh Asbur Djailani (54 tahun), yang mengisahkan betapa berartinya kepastian informasi stok farmasi agar warga tidak lagi dilanda cemas saat anggota keluarga mendadak jatuh sakit. Hasil survei terhadap 21 warga SP 2 mengonfirmasi bahwa 71,4% responden merasa sangat terbantu oleh kehadiran website ini. Rangkaian penguatan masyarakat ini kembali dipertegas pada Sabtu, 24 Oktober 2026, melalui pelatihan lanjutan bagi masyarakat di wilayah SP 1 yang mencakup Desa Ongan Jaya dan Kampung Bundru. Pertemuan ini menghadirkan perwakilan warga yang terdiri atas kader kesehatan kampung, tenaga medis, pemuda Karang Taruna, serta ibu-ibu PKK. Mereka bersama-sama mendalami simulasi rujukan informasi dan tata cara pemantauan obat melalui Lerehfarma.id guna mempersempit jurang literasi antara pemukiman transmigran dan kampung lokal di sekitarnya. Menyatunya komitmen pelajar SMKN 4 Yapsi, dedikasi nakes Puskesmas Yapsi, serta kebersamaan warga mulai dari SP 1 Desa Ongan Jaya, Kampung Bundru, SP 2 Kampung Bumi Sahaja, hingga jejaring kampung lokal Tabeyan dan Kwarja membuktikan bahwa Lerehfarma.id telah melangkah melampaui batas aplikasi. Ia adalah ikhtiar kemanusiaan yang merawat asa sehat dan menegakkan hak hidup bermartabat bagi seluruh masyarakat di perbatasan timur nusantara.