Upaya Pemberdayaan Masyarakat Perdesaan dalam Mengembangkan Kemampuan Mengakses, Memahami, dan Mengkomunikasikan Informasi
Suasana pagi di Desa Nagerawe, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada 14 Mei 2025, diwarnai dengan tarian tradisional yang mengiringi pembukaan resmi program Penguatan Komunitas Perdesaan Melalui Penguatan Literasi. Acara itu menandai dimulainya pengabdian masyarakat skema Bottom-Up ITB 2025 dan menjadi momentum bersejarah bagi tiga desa—Nagerawe, Focolodorawe, dan Alorawe—dalam memulai perjalanan pemberdayaan masyarakat.
Kehadiran para pemimpin dari berbagai lini menjadi simbol kuat dari semangat kolaborasi yang mendasari program ini. Marselinus Ajo Bupu, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Nagekeo, dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat dalam membangun fondasi pendidikan yang kuat.
Kosmas Lawa Bagho, anggota DPRD yang turut hadir, menyampaikan visinya tentang pentingnya literasi sebagai kunci pemberdayaan masyarakat perdesaan. Camat Boawae, Vitalis Bai, menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah konkret dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia di wilayahnya. Kehadirannya mencerminkan komitmen pemerintah lokal untuk memberikan dukungan penuh terhadap program pemberdayaan masyarakat.
Tubagus Furqon Sofhani, Ph.D., staf pengajar dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB, hadir tidak hanya sebagai akademisi, tetapi juga sebagai mitra yang berkomitmen untuk menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa keterlibatan perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat merupakan wujud nyata dari aplikasi pengetahuan dan teknologi dalam memecahkan masalah masyarakat dan bangsa.
Acara pembukaan juga dilengkapi dengan penyerahan bantuan buku ramah anak oleh Sofie Dewayani, Ph.D. dari Yayasan Litara kepada perwakilan dari tiga desa. Penyerahan ini bukan sekadar pemberian bantuan material, tetapi simbol komitmen untuk menyediakan akses terhadap sumber pengetahuan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat perdesaan.
Kehadiran para tokoh tiga desa beserta para pendidik dan warga masyarakat menunjukkan komitmen dan kesiapan masyarakat untuk terlibat aktif dalam program ini. Tarian penyambutan yang dipersembahkan menjadi ungkapan syukur dan harapan akan perubahan positif yang akan datang.
Pelatihan dimulai dengan diskusi terpumpun yang menghadirkan perspektif baru tentang makna literasi. Dalam sesi ini, peserta dari setiap desa—yang terdiri dari sekretaris desa, kepala desa, guru, pendidik, dan pegiat masyarakat—bersama-sama mengeksplorasi definisi literasi yang lebih luas dari sekadar kemampuan dasar.
Literasi didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, dan mengomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk dan konteks. Ini mencakup kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Diskusi berlanjut dengan identifikasi mendalam terhadap tantangan, peluang, dan kendala yang dihadapi masing-masing desa. Setiap desa memiliki karakteristik unik dengan potensi dan hambatan yang berbeda. Melalui pendekatan partisipatif, peserta dapat berbagi pengalaman dan belajar dari kondisi desa lain.
Materi pelatihan dilanjutkan dengan sesi praktis tentang pengelolaan buku ramah anak. Peserta mempelajari cara memperlakukan buku, menata perpustakaan sederhana, memajang buku dengan menarik, dan yang terpenting, mengelola sumber daya literasi agar dapat diakses dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Para peserta dibekali dengan keterampilan untuk mengorganisir kegiatan literasi yang melibatkan seluruh anggota masyarakat, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Puncak dari pelatihan adalah penyusunan rencana tindak lanjut oleh peserta dari masing-masing desa. Mereka merumuskan strategi konkret untuk membuka dan mengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di desa mereka. Rencana ini tidak dibuat secara seragam, tetapi disesuaikan dengan kondisi, potensi, dan kebutuhan spesifik setiap desa.
Untuk memastikan keberlanjutan program, diperkenalkan pula fasilitator lapangan, yaitu Petrus Sewe Sedu dan pendamping dari tiap desa yang berasal dari kalangan pendidik dan pegiat masyarakat. Kehadiran fasilitator lokal ini sangat strategis karena mereka memahami konteks budaya dan sosial masyarakat setempat.
Penguatan Komitmen Melalui Jejaring
Program pelatihan ditutup dengan jamuan makan malam di rumah dinas wakil bupati, yang dihadiri oleh Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada, Asisten 1 Sekretariat Daerah Nagekeo Imanuel Ndun, M.Si, Kepala Dinas Perpustakaan Nagekeo, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Acara ini bukan sekadar formalitas, tetapi momen penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam mendukung program literasi jangka panjang. Kehadiran pejabat tinggi daerah menunjukkan bahwa program ini mendapat dukungan politik yang kuat, yang akan menjadi modal penting untuk keberlanjutan dan pengembangan program ke depan.
Program literasi Nagekeo ini merupakan bukti nyata bahwa pemberdayaan masyarakat dapat tercapai melalui kolaborasi yang solid antara pemerintah, akademisi, lembaga masyarakat sipil, dan masyarakat itu sendiri. Dengan menempatkan literasi sebagai alat pemberdayaan, program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan individual, tetapi juga membangun kekuatan kolektif masyarakat desa untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di era modern. Harapannya, model kolaborasi ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengembangkan program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dan berdampak nyata.
#NagekeoGencarkanLiterasi #PendidikanBerkualitas #SDG4 #MengurangiKesenjangan #SDG10 #KemitraanSDGs #SDG17 #LiterasiUntukSemua #Pembangunan3T #Nagekeo #NTT #GerakanLiterasi #ITBPengabdianMasyarakat #YayasanLitara #Calistung #MembangunDesa #IndonesiaMaju