Menata Asa Pascabencana: Upaya Tim Pengabdi ITB Perkokoh Daya Tahan Usaha Warga Sukamulya Melalui Inovasi Digital

Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Bottom-Up 2026 bertajuk “Peningkatan Resiliensi UMKM Berbasis Literasi Keuangan dan Teknologi di Daerah Cianjur, Jawa Barat” yang diketuai oleh Taufik Faturohman, S.T, MBA, Ph.D. dari Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB, bersama tim multidisiplin yang terdiri dari Prof. Wawan Dhewanto, S.T., M.Sc., Ph.D. (SBM ITB), Dr. Eng. Ir. Febri Zukhruf, S.T., M.T. (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan / FTSL ITB), serta mitra akademisi Dr. Khristina Yunita, S.E., M.Si., Ak., CA. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, dengan dukungan penuh dari tim pelaksana yaitu Maharani, M.S.M., Dr. Aminah, Ahmad Rizki Firdaus, MBA, Dr. Nanang Rosidin, Livia Harja Sulaksana, dan Erwin Atmaja, serta berkolaborasi langsung dengan Pemerintah Desa Sukamulya yang diwakili oleh Kepala Desa H. Sahrul Gopur dan Sekretaris Desa Rojudin, S.IP., serta para pelaku usaha mikro setempat termasuk tokoh pengusaha lokal Haji Wahyudin.

Kegiatan pemberdayaan ini digelar di Balai Desa Sukamulya, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Sabtu, 26 September 2026. Kecamatan Cugenang merupakan wilayah episentrum yang mengalami kerusakan terparah saat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 melanda kawasan tersebut beberapa tahun silam. Memasuki tahun keempat pascabencana, proses pemulihan ekonomi masyarakat masih menyisakan tantangan nyata. Banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kehilangan jaringan distribusi, terputus dari rantai pasok logistik, mengalami degradasi modal kerja, serta harus menghadapi pergeseran preferensi konsumen. Berangkat dari kebutuhan krusial ini, tim pengabdi ITB hadir mendampingi masyarakat guna menumbuhkan ketangguhan bisnis yang holistik, tidak sekadar mengandalkan bantuan fisik semata.

 

Pelatihan dirancang secara sistematis dengan menyajikan empat pilar utama resiliensi: strategi bisnis adaptif, tata kelola keuangan modern, optimalisasi teknologi kecerdasan buatan dan pemasaran digital, serta mitigasi risiko logistik dan rantai pasok. Sesi pertama dipandu oleh Prof. Wawan Dhewanto yang mengupas tuntas kerangka penguatan manajemen usaha. Peserta diajak memetakan ulang lanskap bisnis pascagempa, mengidentifikasi peluang pasar yang terbuka, memitigasi potensi ancaman eksternal, dan mengantisipasi disrupsi tak terduga agar bisnis memiliki fleksibilitas operasional ketika dihadapkan pada masa krisis.

 

Melangkah ke aspek pencatatan modal, Dr. Aminah membedah materi literasi dan manajemen finansial praktis. Permasalahan mendasar yang kerap melanda UMKM perdesaan adalah pencampuran kas usaha dengan belanja rumah tangga. Melalui sesi ini, para peserta dibimbing membedah laporan arus kas (cash flow), disiplin mencatat pemasukan dan pengeluaran harian, serta diperkenalkan pada aplikasi pembukuan digital di ponsel pintar. Digitalisasi pembukuan ini diharapkan memudahkan pelaku usaha memantau kesehatan laba bersih secara berkala tanpa repot menggunakan tumpukan nota manual.

 

Dinamika pasar yang beralih ke ranah maya kemudian dijawab tuntas oleh Ahmad Rizki Firdaus, MBA dalam sesi strategi pemasaran digital. Para pelaku UMKM dikenalkan pada teknik penentuan target konsumen yang tepat dan validasi pasar berskala kecil. Menariknya, peserta diajarkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan generatif (generative AI) seperti ChatGPT untuk membantu penyusunan narasi katalog, pembuatan deskripsi produk, hingga kurasi foto promosi. Selain itu, pemanfaatan Google Trends turut dipaparkan untuk membaca kata kunci pencarian yang sedang dicari konsumen di ranah digital, membuka wawasan warga desa agar produk mereka menjangkau pasar nasional.

 

Di samping penguatan internal, Taufik Faturohman, Ph.D. menyoroti alternatif permodalan modern di luar ketergantungan pada pinjaman konvensional maupun risiko jeratan pinjaman daring ilegal. Peserta diberikan edukasi mengenai skema urun dana (crowdfunding) sosial-keagamaan melalui platform resmi terpercaya seperti Kitabisa dan Amalsholeh.com. Skema ini dapat dimanfaatkan secara legal dan terarah bagi kelompok usaha yang memiliki dampak pemberdayaan komunitas atau program pemulihan kelompok rentan pascabencana.

 

Melengkapi sesi tatap muka, para peserta memperoleh modul panduan logistik yang disusun oleh pakar transportasi FTSL ITB, Dr. Eng. Ir. Febri Zukhruf, S.T., M.T. Modul tersebut menekankan pentingnya membangun jaringan transportasi dan distribusi yang tangguh bencana. Pelaku UMKM dibekali panduan praktis memetakan jalur distribusi alternatif, mengidentifikasi titik rawan bencana tanah longsor atau jalur terputus di kawasan perbukitan Cianjur, serta mendiversifikasi mitra pemasok bahan baku guna menghindari kelumpuhan bisnis saat jalur utama terganggu.

 

Kisah perjuangan para peserta menjadi bukti nyata bahwa resiliensi telah mengakar di Cugenang. Haji Wahyudin, produsen keripik singkong terpadu dari hulu ke hilir, membagikan pengalamannya kehilangan pasar distributor besar di berbagai kota karena terhentinya produksi akibat gempa. Kini, melalui materi pemasaran digital, ia mantap mentransformasi model bisnisnya dengan menjual langsung ke konsumen akhir (direct-to-consumer). Cerita serupa datang dari para pengusaha perempuan desa: mulai dari pedagang yang sigap menyuplai komoditas harian yang luput dari logistik bantuan di tenda darurat, hingga penjual nasi pecel yang merintis usaha dari nol di area pengungsian, melayani para pekerja rekonstruksi, hingga berhasil mengumpulkan tabungan untuk membangun kembali rumah mereka yang runtuh.

 

Kepala Desa Sukamulya H. Sahrul Gopur dan Sekretaris Desa Rojudin mengapresiasi dedikasi akademisi ITB yang terjun langsung ke tengah permukiman warga. Kehadiran langsung para pakar ke balai desa ini memberikan akses pembelajaran yang setara dan inklusif bagi puluhan pelaku usaha akar rumput. Inisiatif berkelanjutan ini menegaskan komitmen nyata ITB bahwa pemulihan pascabencana sejati bertumpu pada kemandirian ekonomi, memastikan warga tidak hanya pulih, tetapi tumbuh jauh lebih adaptif, mandiri, dan tangguh menyongsong masa depan.


 

SDGs : #SDG1 #SDG8 #SDG9 #SDG11 #SDG17

113

views

02 October 2026