Penulis:
Tessa Talitha, S.T, M.A., Ph.D. & Dr. Isnu Putra Pratama, S.T., M.P.W.K.
KK Perencanaan Wilayah dan Perdesaan
Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
(SAPPK) ITB
Di tengah tantangan perubahan iklim dan dinamika ekonomi global yang semakin menuntut keberlanjutan, Kota Pekalongan tampil sebagai pelopor transformasi menuju ekonomi sirkular di sektor industri tekstil dan batik. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dan Inovasi (PPMI) yang diinisiasi oleh tim Institut Teknologi Bandung (ITB), inisiatif ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat tata kelola kelembagaan sekaligus mendorong praktik transisi ekonomi sirkular di tingkat daerah.
Kegiatan yang berlangsung sepanjang Maret hingga Oktober 2025 ini diketuai oleh Tessa Talitha, Ph.D. bersama anggota tim Dr. Isnu Putra Pratama dari ITB, serta Dr. Nimas Maninggar dari Pusat Riset Kependudukan, BRIN, dengan dukungan mahasiswa dan asisten penelitian dari Kelompok Keahlian Perencanaan Wilayah dan Perdesaan ITB. Kolaborasi ini menjembatani sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan pelaku industri batik dalam mengidentifikasi praktik terbaik, potensi, serta tantangan penerapan ekonomi sirkular di Kota Pekalongan, sebuah kota yang dikenal sebagai “Kota Batik Dunia”.
Kegiatan diseminasi hasil riset dilaksanakan di Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Pekalongan, dibuka oleh Kepala Dinas, Betty Dahfiani Dahlan, S.T.. Ia menyambut baik inisiatif ini dan menegaskan bahwa langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan RPJM Daerah 2025–2029, khususnya agenda “Penguatan Fondasi Perwujudan Mina Batik”. Tahap awal program ini diarahkan pada penguatan fondasi transformasi ekonomi menuju ekonomi sirkular, peningkatan kualitas lingkungan hidup dan infrastruktur, serta transformasi sosial yang produktif dan berbudaya, dengan dukungan tata kelola pemerintahan digital yang transparan dan kolaboratif.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, antara lain Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Pekalongan, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Pekalongan, pelaku green industry seperti Batik Ozzy serta perwakilan dari Kampung Batik Kauman, Pekalongan, dan perwakilan dari Program Studi Batik Universitas Pekalongan. Kegiatan diseminasi berlangsung dengan sangat baik, para peserta aktif memberikan masukan serta menyatakan komitmen kuat terhadap keberlanjutan program di masa depan.
Dalam forum tersebut, tim ITB memaparkan hasil pengabdian masyarakat terkait peta potensi dan tantangan penerapan ekonomi sirkular pada industri batik, sementara Asyfa Fuadi, founder Craft Denim dan pelaku industri tekstil berkelanjutan di Pekalongan, turut berbagi pengalaman langsung mengenai praktik sirkularitas dalam usaha yang ia jalankan. Melalui paparannya, Asyfa menunjukkan bahwa penerapan prinsip ekonomi sirkular tidak hanya berkontribusi pada kelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang pasar baru bagi produk-produk hijau yang kini semakin diminati oleh konsumen nasional dan global.
Dalam kesempatan yang sama, Betty Dahfiani Dahlan, S.T., secara langsung meminta tim ITB untuk turut mengawal pelaksanaan program ekonomi sirkular di Kota Pekalongan ke depan. Ia berharap agar rancangan, rekomendasi, dan hasil pengabdian masyarakat yang telah dilakukan dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dan terarah, sejalan dengan visi daerah dalam mewujudkan industri batik yang ramah lingkungan, inklusif, dan berdaya saing. Penerapan ekonomi sirkular dalam industri batik tidak berarti mengganti seluruh bahan sintetis dengan bahan alami, melainkan mengoptimalkan penggunaan bahan baku agar lebih efisien, hemat sumber daya, dan ramah lingkungan. Pendekatan ini menekankan efisiensi proses produksi serta pengelolaan limbah agar setiap tahap menciptakan nilai tambah tanpa membebani ekosistem.
Ke depan, potensi pelaksanaan program ini akan diarahkan pada penyusunan indikator penerapan prinsip ekonomi sirkular bagi pelaku industri batik. Indikator ini diharapkan dapat digunakan secara mandiri oleh para pengrajin dan pelaku usaha untuk menilai, memantau, serta meningkatkan kinerja keberlanjutan mereka, menjadikan Pekalongan bukan hanya pusat batik nasional, tetapi juga model penerapan ekonomi sirkular di industri kreatif Indonesia.
Dari Limbah Menjadi Nilai Tambah
Pertumbuhan industri batik di Pekalongan telah lama menjadi sumber kebanggaan nasional, sebuah warisan budaya yang tidak hanya memancarkan keindahan, tetapi juga menjadi penopang ekonomi masyarakat. Namun di balik setiap corak dan warna yang memikat, tersimpan tantangan lingkungan yang nyata. Proses produksi batik, terutama yang masih menggunakan bahan kimia sintetis, menghasilkan limbah cair dan padat yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.
Untuk menjawab persoalan tersebut, pendekatan ekonomi sirkular hadir sebagai solusi yang mengubah cara pandang terhadap limbah: dari sesuatu yang harus dibuang, menjadi sesuatu yang bernilai. Prinsip dasarnya sederhana namun revolusioner, “tidak ada yang terbuang.” Dalam kerangka ini, setiap bahan, energi, dan sumber daya diupayakan agar dapat kembali ke dalam siklus produksi, menciptakan keseimbangan antara produktivitas ekonomi dan keberlanjutan ekologis.
Temuan lapangan tim ITB menunjukkan potensi besar penerapan prinsip sirkularitas dalam industri batik Pekalongan. Inovasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana namun berdampak besar seperti efisiensi desain motif untuk mengurangi sisa kain, penggunaan kembali malam batik, hingga pemanfaatan limbah cair sebagai bahan daur ulang atau pupuk organik. Praktik-praktik ini menandai pergeseran paradigma: batik tidak lagi sekadar produk budaya, melainkan bagian dari sistem ekonomi baru yang berkeadilan, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Salah satu pelaku industri yang telah membuktikan hal tersebut adalah Batik Ozzy Pekalongan, yang dipimpin oleh Bu Lianawaty H. Sebagai pelaku usaha yang telah memperoleh sertifikasi industri hijau, ia menunjukkan bagaimana keberlanjutan dapat diterjemahkan menjadi strategi bisnis nyata. Batik Ozzy Pekalongan menerapkan berbagai inovasi ramah lingkungan di setiap tahap produksi batik untuk meraih Sertifikat Industri Hijau. Proses ini dimulai dari pemilihan bahan baku dan pewarna yang ramah lingkungan serta efisiensi penggunaan material melalui prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dalam proses produksinya. Proses produksi dioptimalkan agar menghasilkan output maksimal dengan input minimal, sementara produk akhirnya tetap memenuhi standar mutu yang lebih ramah lingkungan. Perusahaan ini juga melakukan pengolahan limbah secara efektif, misalnya dengan menerapkan teknologi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sehingga limbah batik tidak mencemari lingkungan, dan hasil olahan IPAL dapat dipakai kembali untuk proses produksi berikutnya. Praktik tata kelola produksi ini secara tidak langsung juga menghemat penggunaan energi (listrik), air, dan efisien tenaga kerja.
Lebih dari sekadar efisiensi, pendekatan berkelanjutan ini justru memperluas jangkauan pasar. Konsumen kini semakin peduli terhadap asal-usul produk yang mereka gunakan. Produk batik yang diproses secara ramah lingkungan memiliki nilai tambah tersendiri, baik di pasar domestik maupun internasional. “Produk hijau bukan hanya soal menjaga alam, tapi juga soal membangun kepercayaan dan nilai,” ungkap Bu Lianawaty dalam sesi diskusi.
Kisah seperti Batik Ozzy membuktikan bahwa keberlanjutan bukan beban, melainkan kesempatan baru. Ketika prinsip ekonomi sirkular diterapkan dengan konsisten, Pekalongan tidak hanya menjaga lingkungan dan tradisi, tetapi juga memperkuat daya saing globalnya sebagai kota batik yang inovatif dan bertanggung jawab.
Kebijakan Daerah sebagai Penggerak Transformasi
Langkah Kota Pekalongan menuju ekonomi sirkular bukan sekadar wacana hijau, melainkan bagian dari visi jangka panjang yang telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025–2045. Visi tersebut menegaskan komitmen untuk membangun ekonomi yang kreatif, inovatif, dan berkelanjutan, dengan teknologi dan lingkungan sebagai dua pilar utamanya.
Pemerintah Kota Pekalongan menunjukkan langkah nyata untuk mewujudkannya. Hingga kini, telah tersedia 13 instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di kawasan industri batik, disertai program sertifikasi industri hijau yang mendorong pelaku usaha agar lebih efisien dan ramah lingkungan. Tak berhenti di situ, pengembangan Sistem Informasi Perindustrian (SIPTENAN) juga dilakukan untuk memperkuat branding dan promosi produk unggulan daerah, menjadikan Pekalongan tidak hanya dikenal sebagai Kota Batik, tetapi juga sebagai pusat inovasi industri berkelanjutan.
Namun sebagaimana diungkapkan tim ITB dalam kegiatan diseminasi hasil penelitian, keberhasilan ekonomi sirkular tidak cukup hanya bertumpu pada infrastruktur. Transformasi sejati membutuhkan tata kelola kelembagaan yang kolaboratif, di mana pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat saling terhubung dalam ekosistem yang dinamis.
Diskusi tersebut juga menyoroti bahwa transisi menuju ekonomi sirkular adalah kerja lintas sektor, memerlukan arah kebijakan yang jelas, dukungan regulasi yang konsisten, serta literasi publik yang kuat. Tanpa itu, infrastruktur hanya akan menjadi bangunan fisik tanpa jiwa. Sebaliknya, dengan kolaborasi dan kepemimpinan kebijakan yang visioner, Pekalongan berpotensi menjadi model kota industri yang tak hanya memproduksi batik, tetapi juga menenun masa depan yang berkelanjutan bagi generasi berikutnya.
Belajar dari Praktik Baik: Kolaborasi sebagai Kunci
Di balik geliat industri batik dan tekstil Pekalongan, lahir praktik-praktik inspiratif yang membuktikan bahwa keberlanjutan dan kreativitas dapat berjalan beriringan. Salah satu kisah menarik datang dari kolaborasi antara Studio Sejauh Mata Memandang dan pengrajin lokal, termasuk Craft Denim, sebuah studio kreatif yang digagas oleh Asyfa Fuadi. Melalui pendekatan berbasis desain dan pemanfaatan material alami, Asyfa menghadirkan karya tekstil yang tidak hanya memikat secara estetika, tetapi juga memiliki jejak ekologis yang lebih ringan dan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa ekonomi sirkular bukan sekadar konsep teknis, melainkan sebuah gerakan sosial dan budaya. Inovasi yang tumbuh dari kemitraan antara desainer, pengrajin, dan pelaku usaha lokal membentuk ekosistem baru, di mana nilai tambah tercipta tanpa meninggalkan akar tradisi. Dari proses perancangan hingga pemasaran, setiap tahapan diupayakan untuk meminimalkan limbah, memaksimalkan penggunaan sumber daya, dan memperpanjang umur pakai produk.
Hasil penelitian lapangan tim ITB mengungkap bahwa praktik kolaboratif seperti ini menghubungkan rantai produksi dari hulu hingga hilir secara lebih berkelanjutan. Kolaborasi tidak hanya berhenti pada pertukaran ide, tetapi berkembang menjadi bentuk pembelajaran bersama (joint learning), berbagi sumber daya (resource sharing), dan pembentukan rantai pasok sirkular yang lebih adil bagi semua pihak.
Faktor-faktor yang mendorong keberhasilan kolaborasi ini mencakup meningkatnya kesadaran lingkungan, munculnya peluang ekonomi baru dari produk hijau, serta kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan keterlacakan produk (traceability). Kombinasi ketiganya menghadirkan harapan baru: bahwa transformasi menuju ekonomi sirkular di Kota Pekalongan tidak harus dimulai dari nol, melainkan dapat tumbuh dari praktik baik yang sudah hidup di tengah masyarakat.
Menuju Kota Pekalongan yang Berkelanjutan
Hasil diskusi menegaskan bahwa transformasi menuju ekonomi sirkular bukan sekadar wacana inovatif, melainkan kebutuhan mendesak bagi daerah industri seperti Kota Pekalongan. Sebagai salah satu pusat batik terbesar di Indonesia, Pekalongan memiliki peluang besar untuk menjadi pionir nasional dalam praktik ekonomi sirkular di sektor tekstil, menunjukkan bahwa industri tradisional pun dapat beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas budayanya.
Melalui kegiatan PPMI ITB tahun 2025, harapan baru muncul: batik Pekalongan tidak hanya menjadi simbol budaya bangsa, tetapi juga simbol perubahan menuju masa depan yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan. Upaya ini secara langsung memperkuat komitmen Kota Pekalongan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang layak dan berkeadilan (SDG 8), penguatan inovasi dan infrastruktur industri (SDG 9), pengembangan kota dan permukiman yang berkelanjutan (SDG 11), penerapan pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12), serta penanganan perubahan iklim (SDG 13).
Namun, dampak keberlanjutan Pekalongan tidak berhenti di situ. Jika program ekonomi sirkular ini terus dikawal dan dikembangkan, potensinya akan meluas hingga mendukung kesetaraan gender (SDG 5), mengingat sebagian besar pelaku industri batik adalah perempuan, peningkatan kualitas air bersih dan sanitasi (SDG 6) melalui pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan, serta penguatan kemitraan lintas sektor (SDG 17) yang melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan komunitas lokal.
Dengan langkah awal yang kokoh ini, Pekalongan tidak hanya menjaga warisan batiknya, tetapi juga menenun narasi baru tentang masa depan kota berkelanjutan. Bila komitmen ini terus berlanjut, suatu saat nanti batik Pekalongan akan dikenal bukan hanya karena keindahan motifnya, tetapi juga karena kisah sirkularitas dan keberlanjutan di balik setiap helai kainnya simbol harmoni antara tradisi, inovasi, dan tanggung jawab terhadap bumi.