Penulis:
Prof. Ir. Dicky Rezady Munaf, M.S, M.SCE, Ph.D.
Fakultas Seni Rupa dan Desain
Institut Teknologi Bandung
Esa Fajar Hidayat, S.Kel., M,Si.; Miga Magenika Julian, S.T., M.T.; Heder Djamaludin, S.Pd., M.Si.; Wulan Larisa Olivia; Ghayland Satria Rifaldy
Suara adzan Ashar menggema sore itu di tengah kesibukan masyarakat yang mayoritas melaut sebagai nelayan maupun yang berkebun di ladang. Tak ambil banyak tempo, mereka segera berganti pakaian rapi menuju masjid. Anak-anak juga tampak hadir dari berbagai arah datang ke masjid Al-Jihad Rate dengan pakaian muslimnya juga siap untuk mengikuti ibadah berjamaah dan mengaji penuh keriangan. Rate, kampung kecil penuh senyum dan ironi yang berada di Ende Selatan ini adalah tempat bertemunya harapan manusia dengan tekanan tekanan ekologi pesisir laut. Saat masyarakat Rate selama puluhan tahun menggantungkan hidupnya pada keanekaragaman hayati laut yang terhampar sampai Samudera Hindia, laut itu pula yang kini mulai mengambil alih air tawar di perut tanah mereka tinggal dan beraktivitas. Beruntungnya sore itu melihat senyum jamaah berbagai usia untuk melaksanakan ibadah meskipun harus bersuci (wudhu) dengan air yang terasa asin.
Di Lingkungan Rate, Kelurahan Tanjung, Ende Selatan, air bersih menjadi kebutuhan yang tidak selalu mudah dipenuhi. Sebagian warga bergantung pada air tangki berkapasitas sekitar 4.000–5.000 liter dengan harga sekitar Rp120.000 per tangki. Sementara itu, sejumlah sumur galian menghasilkan air cenderung asin sehingga tidak dapat diandalkan sebagai sumber air minum. Kondisi semakin berat ketika musim kemarau tiba dan pasokan PDAM yang terbatas belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga. Persoalannya bukan sekadar menemukan air, tetapi menemukan air yang layak, aman, dan dapat diandalkan. Kondisi Rate yang berada di wilayah pesisir juga membuat pengeboran tanpa informasi bawah permukaan memiliki risiko menemukan air yang terasa asin. Karena itu, pencarian sumber air dilakukan dengan pendekatan berbasis data melalui kombinasi informasi masyarakat, analisis permukaan, citra satelit, dan survei geolistrik Electrical Resistivity Tomography (ERT).
Landasan Filosofis: Mencari Air Bukan Sekadar Menentukan Titik Pengeboran
Air merupakan kebutuhan dasar yang keberadaannya berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam kondisi ketika akses terhadap air bersih terbatas, pencarian sumber air tidak dapat hanya dipandang sebagai persoalan teknis. Di balik proses menentukan titik pengeboran terdapat kebutuhan keluarga, sanitasi, aktivitas sosial, hingga kebutuhan masyarakat untuk menjalankan aktivitas keagamaan.
Karena itu, pendekatan yang digunakan di Rate tidak menempatkan teknologi sebagai satu-satunya jawaban. Teknologi digunakan untuk memperkuat keputusan yang dibangun bersama masyarakat.
Pengetahuan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Warga mengetahui lokasi sumur yang masih dapat digunakan, sumur yang menghasilkan air yang terasa asin, serta perubahan kondisi sumber air dari waktu ke waktu. Informasi tersebut menjadi salah satu dasar untuk menentukan area yang perlu dikaji lebih lanjut.
Wawancara dengan Ketua RT, Imam Masjid Al-Jihad Rate, dan Lurah juga memberikan gambaran bahwa krisis air memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada persoalan teknis. Warga harus mengeluarkan biaya rutin untuk membeli air, sementara keterbatasan air juga memengaruhi sanitasi dan aktivitas ibadah.
Dengan demikian, masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penerima hasil program. Mereka menjadi bagian dari proses untuk memberikan informasi lapangan, membantu menentukan lokasi, membuka akses, hingga mendukung keberlanjutan sumber air yang nantinya diperoleh.
Pendekatan ini mempertemukan dua bentuk pengetahuan. Masyarakat membawa pengalaman langsung mengenai kondisi sumber air di wilayah mereka, sedangkan teknologi membantu membaca kondisi lingkungan dan bawah permukaan yang tidak dapat diamati secara langsung.
Detail Rekayasa Teknis: Menelusuri Air dari Permukaan hingga Bawah Tanah
Pencarian sumber air di Rate dilakukan secara bertahap. Tim tidak langsung melakukan pengeboran, tetapi terlebih dahulu menyaring wilayah yang memiliki potensi air tanah melalui data permukaan, kemudian memverifikasinya dengan survei geolistrik.
Tahap pertama dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit dan berbagai data spasial untuk memahami karakter lingkungan yang berkaitan dengan kemungkinan keberadaan air tanah.
Topografi digunakan untuk melihat kondisi lereng, lembah, dan kaki lereng. Vegetasi dan tutupan lahan menjadi indikator pendukung kondisi kelembapan dan infiltrasi, sementara curah hujan digunakan untuk melihat potensi pengisian air tanah. Kelurusan atau lineament pada permukaan juga diamati sebagai indikasi awal keberadaan rekahan batuan.
Peta geologi kemudian digunakan untuk memahami material penyusun wilayah sekitar Gunung Iya. Material vulkanik seperti tufa, pasir gunung api, breksi lapuk, dan aglomerat dapat menjadi media penyimpan air ketika mengalami pelapukan atau memiliki rekahan. Sebaliknya, lereng curam dan bagian puncak tidak menjadi prioritas karena air hujan lebih mudah berubah menjadi limpasan.
Berbagai informasi tersebut kemudian dikombinasikan menggunakan pendekatan weighted overlay untuk menghasilkan indeks potensi air tanah.
Area dengan potensi relatif tinggi selanjutnya disaring berdasarkan kondisi lapangan, seperti akses menuju lokasi, kemiringan, penggunaan lahan, hubungan dengan struktur geologi, serta kemungkinan adanya zona akumulasi air. Dengan cara ini, survei berikutnya dapat difokuskan pada wilayah yang dianggap lebih prospektif..
Hasil analisis permukaan tidak menjadi satu-satunya dasar penentuan lokasi. Informasi dari masyarakat digunakan untuk memahami kondisi sumber air yang telah ada.
Warga mengetahui lokasi sumur yang masih dapat digunakan, sumur yang menghasilkan air asin atau payau, serta perubahan kondisi sumber air dari waktu ke waktu. Informasi tersebut kemudian menjadi bagian dari proses untuk menentukan wilayah yang perlu dikaji lebih lanjut..
Setelah zona potensial dipersempit, tahap berikutnya dilakukan menggunakan Electrical Resistivity Tomography (ERT). Jika citra satelit membantu membaca kondisi permukaan, ERT digunakan untuk melihat variasi resistivitas material di bawah permukaan secara dua dimensi. Survei dilakukan pada dua lintasan dengan spasi elektroda 5 meter. Hasil inversi menunjukkan error relatif rendah, sekitar 4,8 persen pada lintasan pertama dan 2 persen pada lintasan kedua.
Hasil interpretasi awal menunjukkan beberapa zona dengan resistivitas sekitar 30–100 ohm.m yang diperkirakan berkaitan dengan material lapuk atau retak yang berpotensi jenuh air.
Pada lintasan pertama, zona potensial berada sekitar 90–110 meter dari titik awal lintasan dengan perkiraan kedalaman sekitar 27–37 meter. Sementara pada lintasan kedua, zona potensial berada sekitar 102,5–120 meter dari titik awal dengan perkiraan kedalaman sekitar 37–43,5 meter. Kedua zona tersebut kemudian menjadi kandidat untuk dilakukan verifikasi lebih lanjut
Hasil tersebut belum dapat dianggap sebagai bukti mutlak keberadaan air tawar. Karena itu, hasil ERT digunakan sebagai dasar untuk mempersempit kandidat lokasi, bukan sebagai keputusan akhir mengenai kualitas air.
Dampak Sosial, Respon Antusias, dan Harapan Keberlanjutan
Bagi masyarakat, hasil survei bukan sekadar data geofisika. Di wilayah yang dihuni sekitar 60 kepala keluarga atau 400 jiwa, sumber air baru diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pembelian air tangki. Keterbatasan air juga dirasakan di Masjid Al-Jihad Rate yang melayani hampir 500 jamaah, terutama untuk kebutuhan wudhu, kebersihan, dan kegiatan sosial-keagamaan.
Antusiasme masyarakat terlihat dari keterlibatan mereka dalam memberikan informasi mengenai sumur, kondisi air, akses lokasi, serta kebutuhan air di lingkungan sekitar. Pengetahuan tersebut menjadi pelengkap bagi hasil analisis permukaan dan geolistrik.
Namun, proses ini belum berhenti. Zona potensial masih perlu diverifikasi sebelum ditentukan sebagai titik pengeboran dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, akses alat, jarak dari pantai, potensi kontaminasi, serta hasil pengujian kualitas air.
Harapannya, pemetaan dan survei yang telah dilakukan dapat berlanjut menjadi pengeboran, pengujian kualitas, dan pemanfaatan sumber air. Dengan demikian, teknologi tidak berhenti sebagai data di atas peta, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan sesuatu yang paling dibutuhkan masyarakat Rate: air bersih yang benar-benar dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari.
”Dulu Bapak, sempat ada bantuan dari Jakarta untuk mengebor dan syukur alhamdulillah kita ketemu air tawar tapi karena kecil kita bor lagi tapi malah jadi sangat asin dan sumur sudah tidak kami gunakan. Sehingga ini Bapak dari ITB datang bawa alat macam-macam untuk bantu kita sungguh sangat berterima kasih sekali.” ujar Bapak Faisal selaku ketua RT Kampung Rate.
”Bukannya kurang rasa terima kasih Bapak, semoga selanjutnya ada kegiatan untuk pengeboran. Tidak apa meskipun payau sekalipun. Payah sekali kami tiap minggu harus beli dari truk air, rata-rata perekonomian kami seperti ini jadi cukup berat Bapak. Belum lagi untuk kepentingan ibadah di masjid, kami sangat berharap kami ini mendapat perhatian karena belum ada tindakan konkret dari otoritas setempat” beliau menutup kalimatnya.