Mengubah Wajah Perbatasan: ITB Petakan Potensi Wisata Partisipatif di Gerbang Timur Indonesia RI-PNG

JAYAPURA – Sebuah inisiatif strategis untuk memperkuat kedaulatan negara melalui jalur pariwisata tengah digulirkan di ujung timur Indonesia. Tim Pengabdian Masyarakat dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), yang dipimpin oleh Ninik Suhartini, ST, MURP, PhD, terjun langsung ke lokasi prioritas perbatasan RI-Papua Nugini (PNG) untuk melakukan pemetaan potensi pariwisata partisipatif. Didampingi oleh tim ahli yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Heru Purboyo Hidayat Putro, DEA, Dr. Isnu Pratama, ST, MT, dan Salsabila Nur Hanifa ST, MPWK, serta tim asisten peneliti, kegiatan ini menargetkan Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, khususnya Kampung Mosso, sebagai titik sentral pengembangan "beranda depan" Indonesia di kawasan Pasifik.

Program yang direncanakan berlangsung secara multi-year (2025–2027) ini hadir sebagai respons atas posisi strategis Kota Jayapura sebagai Pusat Kawasan Strategis Nasional (PKSN). Ninik Suhartini dan tim menyoroti bahwa perbatasan bukan sekadar garis pertahanan keamanan, melainkan pusat ekonomi lintas batas yang vital. Dengan transaksi ekonomi di Pasar Skouw-Wutung yang mencapai miliaran rupiah per hari, potensi ini perlu diperluas ke sektor pariwisata. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah perlunya penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya Orang Asli Papua (OAP), agar dapat menjadi aktor utama dalam manajemen pariwisata yang berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, Tim ITB menerapkan pendekatan partisipatif yang komprehensif. Dimulai dari tahap penyegaran dan kaji ulang substansi pengembangan kampung wisata, tim bergerak melakukan pengembangan database melalui pemetaan spasial daya tarik wisata. Pemetaan ini tidak hanya menyasar lokasi wisata populer, tetapi juga menggali "surga tersembunyi" yang direkomendasikan warga lokal melalui Focus Group Discussion (FGD). Hasilnya adalah peta kawasan wisata tematik yang terintegrasi, mencakup potensi wisata alam hingga budaya yang unik di perbatasan Skouw-Wutung dan Kampung Mosso.

Lebih dari sekadar pemetaan fisik, kegiatan ini menitikberatkan pada pemberdayaan manusianya. Tim ITB memberikan pelatihan intensif mengenai pengelolaan kampung wisata yang mencakup perencanaan, implementasi, hingga monitoring evaluasi. Puncaknya adalah digitalisasi promosi wisata, di mana masyarakat lokal dilatih untuk mengelola media sosial secara profesional guna menjangkau pasar wisatawan yang lebih luas, baik dari domestik maupun mancanegara (khususnya regional Pasifik).

Kolaborasi ini mendapat sambutan hangat dari Pemerintah Kota Jayapura dan para pemangku kepentingan (stakeholder) terkait, termasuk pengelola Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Melalui program ini, diharapkan Kampung Mosso dan sekitarnya tidak hanya menjadi pintu transit pelintas batas, tetapi menjelma menjadi destinasi wisata unggulan yang mampu menggerakkan ekonomi lokal, mengurangi kesenjangan wilayah di daerah 3T (Terdepan, Tertinggal, Terpencil), serta memperkuat citra Indonesia di mata dunia internasional.

 

 

SDGs : #SDG1 #SDG4 #SDG8 #SDG10 #SDG11 #SDG17

409

views

29 January 2026