Merajut Harapan di Bantaran Sungai: Langkah Nyata SAPPK ITB Bangun Wisata Waterfront dan Berantas Kemiskinan di Desa Cijambu Kabupaten Bandung Barat

Program Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) yang digagas oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB yang diwakili oleh Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai pihak eksternal, yakni Bappeda Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Desa Cijambu, serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Cijambu, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan komprehensif yang bertajuk "Membangun Akses Jalan menuju Destinasi Wisata Waterfront dan Menyusun Masterplan Pengembangan Desa Wisata untuk Penanggulangan Kemiskinan di Desa Cijambu" ini diketuai langsung oleh Bagas Dwipantara Putra, S.T, M.T, Ph.D. Dalam pelaksanaan program yang diagendakan bergulir sejak bulan Juni 2025 hingga 31 Mei 2026 ini, beliau didukung penuh oleh tim ahli yang mumpuni di bidangnya, yaitu Dr. Akhmad Gunawan; Hanafi Kholifatul Iman, S.T., M.P.W.K.; Fathurrahman, M.PWK; serta Nurul Izzatillah, S.T.

Desa Cijambu, yang tersembunyi di perbukitan Kecamatan Copongkor, Kabupaten Bandung Barat, memiliki realitas sosial ekonomi yang cukup menantang. Merujuk pada data kependudukan tahun 2025, desa ini tercatat sebagai salah satu wilayah di Jawa Barat dengan beban angka kemiskinan ekstrem yang sangat memprihatinkan. Terdapat sekitar 633 keluarga, atau merangkum lebih dari 3.218 jiwa, yang hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem. Kondisi pelik ini tercermin dari sangat rendahnya tingkat pendapatan harian masyarakat, sulitnya akses terhadap fasilitas-fasilitas dasar yang layak, serta minimnya ruang bagi terciptanya peluang ekonomi lokal baru. Warga desa seolah terjebak dalam siklus yang sulit diputus tanpa adanya intervensi strategis dari luar.

Namun, di balik kesulitan tersebut, secara tata ruang Desa Cijambu sebenarnya menyimpan "permata" yang tertidur pulas. Desa ini dibelah oleh sebuah aliran sungai dengan debit air dan lanskap yang memukau. Selama bertahun-tahun, eksistensi sungai ini semata-mata hanya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendukung irigasi pertanian sawah mereka. Tim SAPPK ITB, dengan kacamata perencanaan wilayahnya, menyadari bahwa sungai ini memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi jika dikembangkan menjadi sebuah kawasan destinasi wisata waterfront (wisata tepi air) yang eksotis. Sayangnya, potensi emas ini terkunci oleh satu masalah utama: buruknya aksesibilitas. Jalan menuju lokasi sungai masih berupa tanah liar yang curam dan sangat sulit dilalui oleh kendaraan maupun pejalan kaki biasa.

Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian masyarakat SAPPK ITB tidak hanya datang membawa teori, tetapi juga aksi nyata. Langkah intervensi pertama yang dieksekusi adalah perbaikan aksesibilitas fisik melalui pembangunan jalan setapak yang layak bagi pejalan kaki menuju area bibir sungai. Pembangunan ini tidak diserahkan kepada kontraktor luar, melainkan menggunakan sistem padat karya yang mengedepankan semangat gotong royong dan partisipasi aktif dari warga lokal. Pendekatan ini dipilih bukan tanpa alasan; tujuannya adalah untuk secara langsung memberdayakan kelompok masyarakat yang masuk dalam kategori miskin ekstrem. Melalui sistem padat karya ini, warga desa yang terlibat dalam pembangunan fisik jalan langsung mendapatkan kompensasi upah, memberikan mereka suntikan penghasilan tambahan untuk menyambung hidup keluarga mereka di masa sulit.

Namun, membuka jalan saja tidak cukup untuk menjamin masa depan kawasan tersebut. Oleh karena itu, intervensi kedua yang tak kalah pentingnya adalah perumusan dan penyusunan Dokumen Masterplan Pengembangan Desa Wisata. Masterplan ini dirancang secara detail oleh tim ahli SAPPK ITB sebagai sebuah pedoman atau cetak biru (blueprint) bagi pengembangan kawasan Cijambu di masa mendatang. Dokumen ini memastikan bahwa pembangunan wisata di kemudian hari dapat dilakukan secara terarah, tidak merusak lingkungan alam, berkelanjutan, dan selalu berlandaskan pada nilai-nilai kearifan serta potensi lokal. Berbekal masterplan ini, perangkat Desa Cijambu dan masyarakat kini memiliki "kompas" yang jelas dalam memetakan zona wisata, menjaga daya tarik kawasan, sekaligus menjadi nilai tawar yang kuat untuk menarik investasi atau bantuan pembangunan lanjutan dari pemerintah daerah maupun pusat.

Kini, buah dari kolaborasi dan kerja keras tersebut mulai dapat dipanen. Jalan setapak yang telah mulus terbangun memberikan manfaat ganda yang luar biasa. Di satu sisi, para petani lokal bersyukur karena mobilitas mereka dalam mengambil air atau memantau sawah menjadi jauh lebih mudah dan aman. Di sisi lain, potensi waterfront sungai yang dulunya terisolasi kini telah mekar menjadi magnet wisata air baru berupa wahana water tubing. Perlahan tapi pasti, kawasan ini mulai dipenuhi tawa ceria pengunjung. Hebatnya lagi, wisatawan yang datang tidak hanya didominasi oleh warga lokal, melainkan sudah mulai menarik minat wisatawan dari desa-desa tetangga di sekitar Cijambu.

Tingginya lalu lintas manusia di area wisata baru ini dengan sendirinya memantik munculnya embrio ekonomi baru. Ibu-ibu rumah tangga dan pemuda desa yang tadinya kesulitan mencari kerja kini mulai mendirikan warung-warung sederhana, menjajakan makanan ringan, minuman hangat, dan kopi bagi para wisatawan yang melepas lelah di tepi sungai. Dari sebuah desa yang sunyi dengan bayang-bayang kemiskinan ekstrem, Desa Cijambu kini mulai menggeliat, membangun kemandirian ekonomi, dan merajut kembali harapan akan kesejahteraan melalui aliran sungainya yang jernih.

SDGs : #SDG1 #SDG8 #SDG9 #SDG11 #SDG17

115

views

14 July 2026