Penulis:
Dr. Firmansyah, S.T., M.T.
Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB
Nura Massora Salusu
Kepala Lembang Kaero, Tana Toraja
Latar Belakang/ Kata pembuka
Tongkonan Sa’pang, lanskap budaya yang tidak hanya terbaca melalui bangunan tongkonan, tetapi juga melalui relasi sosial, ritual adat, dan tata ruang yang masih dijalani dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Permukiman adat ini, yang berada di Dusun Katangka, Lembang Kaero, memegang peran penting sebagai pusat aktivitas sosial dan budaya, sekaligus menjadi representasi keberlanjutan tradisi Toraja di tengah perubahan zaman.
Pengabdian masyarakat ini merupakan inisiatif dari Kelompok Keahlian Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, Institut Teknologi Bandung, yang dilaksanakan sebagai bentuk pendampingan berbasis keilmuan arsitektur dan perencanaan. Kegiatan ini berangkat dari tantangan nyata yang dihadapi Tongkonan Sa’pang: bagaimana mengembangkan potensi desa wisata tanpa mengganggu keseimbangan antara fungsi ritual, kehidupan sehari-hari, serta tatanan sosial adat yang telah terbangun secara turun-temurun. Dalam kerangka tersebut, perencanaan desa wisata tidak diposisikan sebagai proyek desain semata, melainkan sebagai proses belajar bersama dan perumusan ruang yang sensitif terhadap nilai budaya, keberlanjutan lingkungan, dan peran aktif masyarakat lokal.
Tongkonan sebagai Titik Awal Perencanaan
Tongkonan Sa’pang tidak hanya hadir sebagai bangunan adat, melainkan sebagai ruang hidup yang dijalani setiap hari oleh warganya. Di permukiman ini, ruang terbentuk melalui relasi sosial, praktik budaya, dan kebiasaan keseharian yang diwariskan lintas generasi. Rumah adat, jalur pergerakan, serta ruang terbuka bersama memiliki makna yang lahir dari pengalaman hidup bersama, bukan semata dari fungsi fisik. Pemahaman inilah yang menjadi titik awal kegiatan pengabdian masyarakat: melihat desa bukan sebagai lahan perancangan, melainkan sebagai tatanan hidup yang telah memiliki struktur dan nilai tersendiri.
Meningkatnya perhatian terhadap potensi wisata budaya membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, sekaligus menghadirkan kebutuhan baru dalam pengelolaan ruang bersama. Dalam konteks ini, perencanaan dipahami bukan sebagai upaya mengubah, melainkan menata arah pengembangan agar tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan adat, aktivitas keseharian warga, dan kehadiran pengunjung dari luar.
Kegiatan Pengabdian Masyarakat ITB hadir menjawab kebutuhan tersebut melalui pendampingan berbasis keilmuan arsitektur dan perencanaan. Kehadiran tim tidak dimaksudkan untuk menawarkan rancangan yang siap pakai, melainkan untuk membuka ruang belajar bersama antara akademisi dan masyarakat. Dari proses inilah arah pengembangan desa wisata mulai dirumuskan, berangkat dari cara masyarakat memaknai ruang hidupnya sendiri.
Pengabdian Masyarakat sebagai Proses Belajar Bersama
Kegiatan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung di Tongkonan Sa’pang dirancang sebagai ruang pembelajaran bersama antara akademisi dan masyarakat, bukan sebagai proses penyampaian solusi secara sepihak. Tim akademisi hadir dengan kerangka keilmuan dan pengalaman perencanaan, namun menyadari bahwa pengetahuan tentang adat, ruang, dan lanskap justru tumbuh dari praktik hidup masyarakat. Oleh karena itu, dialog dan diskusi menjadi fondasi utama dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Proses ini melibatkan masyarakat adat Tongkonan Sa’pang, para tetua adat, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Tana Toraja, yang masing-masing membawa perspektif dan kepentingannya. Diskusi-diskusi yang terbangun menjadi ruang negosiasi antara nilai adat, aspirasi masyarakat, dan kerangka kebijakan pembangunan daerah. Bagi tim akademisi, pengabdian ini menjadi proses belajar untuk menerjemahkan pengetahuan ilmiah ke dalam bahasa yang dapat dipahami dan disepakati bersama; sementara bagi masyarakat, dialog ini membuka ruang refleksi tentang masa depan desa dan pengelolaan pariwisata yang lebih terarah. Dari kesepahaman inilah kepercayaan mulai terbentuk, dan perencanaan desa wisata dipahami sebagai hasil proses kolektif. Kesepakatan tersebut kemudian diuji dan diperdalam melalui kehadiran langsung di lapangan, dengan membaca desa sebagaimana ia dijalani dalam keseharian warganya.
Memahami Desa Melalui Kehadiran di Lapangan
Pemahaman terhadap Tongkonan Sa’pang dibangun melalui kehadiran langsung di lapangan. Tim pengabdian tidak hanya melakukan pengamatan, tetapi juga menyertai alur aktivitas keseharian masyarakat dan mencermati bagaimana ruang dijalani, dijaga, dan dimaknai. Melalui kehadiran ini, desa dipahami sebagai sistem ruang yang hidup, yang terus bergerak mengikuti ritme sosial dan budaya warganya.
Interaksi yang terjalin membuka akses terhadap pengetahuan lokal yang diwariskan secara lisan. Pengetahuan tersebut menjelaskan batas-batas ruang, cara pemanfaatan, serta nilai simbolik yang dijaga bersama. Nilai-nilai ini tidak selalu tampak secara fisik, namun hadir melalui praktik sehari-hari dan ingatan kolektif masyarakat. Dari sinilah tim belajar bahwa ruang tidak hanya terbentuk oleh bentuk dan fungsi, tetapi juga oleh kesepakatan dan pengalaman bersama.
Pemahaman yang diperoleh melalui kehadiran di lapangan membimbing proses perencanaan agar dilakukan dengan lebih hati-hati. Pengembangan desa wisata kemudian diposisikan sebagai upaya menjaga keseimbangan antara kehidupan adat, aktivitas keseharian, dan kehadiran pengunjung. Dengan mendengar sebelum merumuskan, perencanaan diharapkan tetap berpijak pada nilai yang telah lama hidup di dalam ruang desa.
Dialog dan Pemetaan: Ruang sebagai Kesepahaman
Upaya untuk menerjemahkan pemahaman lapangan ke pemahaman ruang di Tongkonan Sa’pang dibangun melalui dialog-dialog yang dilakukan secara terbuka bersama masyarakat. Tim pengabdian berdiskusi dengan tokoh adat, warga, serta perwakilan pemerintah daerah untuk mendengarkan pandangan mengenai kondisi desa dan harapan ke depan. Dialog ini menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi terkait kesejahteraan, sekaligus kekhawatiran agar pengembangan desa tetap menjaga keberlanjutan nilai adat yang telah lama hidup.
Berangkat dari percakapan tersebut, pemahaman ruang kemudian diterjemahkan secara bersama-sama melalui pemetaan partisipatif. Melalui proses ini, warga dapat menunjukkan kekhususan kawasan Tongkonan Sa’pang, serta ruang lanskap yang memiliki peran penting dalam kehidupan desa. Pemetaan membantu memvisualisasikan ruang yang selama ini dipahami secara lisan, sehingga batas-batas ruang, fungsi yang perlu dijaga, serta area yang memungkinkan untuk dikembangkan secara terbatas dapat dibicarakan dengan lebih jelas.
Dari proses dialog dan pemetaan inilah kesepahaman mengenai arah pengembangan desa mulai dirumuskan. Kesepakatan yang dihasilkan menjadi dasar bagi penyusunan arahan desa wisata yang selaras dengan nilai lokal dan kondisi sosial setempat. Dengan pendekatan ini, ruang tidak ditentukan oleh satu pihak, melainkan dirumuskan secara kolektif sebagai bagian dari proses merawat desa.
Pengalaman Lapangan: Relasi sebagai Fondasi
Kesepahaman yang terbangun melalui dialog dan pemetaan partisipatif tidak terbentuk secara instan. Proses tersebut tumbuh melalui percakapan informal dan kebersamaan di ruang-ruang sehari-hari desa. Kehadiran yang berulang memungkinkan tim pengabdian dan masyarakat saling mengenal, berbagi pengalaman, dan membangun relasi yang lebih personal. Dari relasi inilah kepercayaan perlahan terbentuk, menjadi dasar bagi komunikasi yang lebih terbuka dan setara.
Kepercayaan yang terbangun mempermudah pertukaran gagasan mengenai masa depan desa. Masa depan tersebut kemudian dipahami bukan sebagai agenda satu pihak, melainkan sebagai tanggung jawab bersama. Dalam kerangka ini, perencanaan tidak dimaknai sebagai dokumen yang kaku, melainkan sebagai panduan yang bersifat adaptif dan dapat disesuaikan dengan dinamika desa. Pemahaman inilah yang kemudian menjadi fondasi dalam merumuskan masterplan sebagai hasil dari proses kolektif.
Merumuskan Masterplan dari Proses Kolektif
Masterplan Desa Wisata Tongkonan Sa’pang dirumuskan sebagai kristalisasi dari seluruh proses pendampingan dan pembelajaran bersama yang telah dilalui. Rancangan ini tidak dimaksudkan untuk memperkenalkan bentuk atau struktur baru yang asing, melainkan untuk membaca ulang, menata, dan memperkuat pola ruang adat yang telah tumbuh secara historis. Dengan pendekatan tersebut, masterplan dipahami sebagai panduan bersama yang fleksibel dan adaptif, bukan sebagai cetak biru yang kaku.
Prinsip keberlanjutan diterjemahkan melalui pengelolaan alur kunjungan wisata, penataan ruang aktivitas budaya, serta penguatan peran masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pemanfaatan ruang. Pada tahap ini, dilakukan identifikasi titik-titik yang berpotensi dikembangkan sebagai objek desa wisata, baik eksisting maupun area yang dapat diaktivasi secara selektif. Selain itu, berbagai potensi kegiatan wisata dirumuskan untuk menghadirkan pengalaman yang menghubungkan pengunjung dengan kekayaan budaya dan lanskap lokal, melalui aktivitas tradisional, edukatif, dan keseharian masyarakat.
Perumusan masterplan ini diperkuat oleh analisis tren kunjungan wisatawan di Tana Toraja yang menunjukkan tingginya daya tarik kawasan ini sebagai destinasi wisata budaya dan alam. Dalam konteks tersebut, Tongkonan Sa’pang diposisikan sebagai destinasi berbasis komunitas yang melengkapi jaringan wisata yang telah ada. Sebagai luaran konkret pengabdian masyarakat, perencanaan rute desa wisata disusun berdasarkan kategori kegiatan Culture Education, Culture Leisure, dan Culture Adventure sebagai alat untuk mengarahkan pengalaman wisata secara terkontrol, sekaligus menjaga keseimbangan antara kegiatan pariwisata dan kehidupan adat di Tongkonan Sa’pang.
Dampak dan Refleksi Pengabdian: Merancang dengan Merawat Keberlanjutan
Proses pengabdian masyarakat di Tongkonan Sa’pang memberikan pelajaran penting bahwa perencanaan berbasis budaya menuntut lebih dari sekadar keahlian teknis. Ia menuntut kesediaan untuk mendengar, memahami, dan menempatkan pengetahuan akademik dalam dialog setara dengan pengetahuan lokal. Bagi tim pengabdian, proses ini menjadi refleksi bahwa lanskap, ruang adat, dan praktik sosial tidak dapat dipisahkan, serta hanya dapat dipahami secara utuh melalui keterlibatan langsung dengan masyarakat yang menjalaninya.
Keberlanjutan dalam konteks desa wisata tidak berhenti pada tersusunnya masterplan, melainkan bergantung pada proses pendampingan yang berkesinambungan. Dokumen perencanaan diposisikan sebagai alat bantu yang dapat terus ditafsirkan dan dikembangkan oleh masyarakat, seiring dengan perubahan kebutuhan dan dinamika desa. Dengan demikian, pengabdian masyarakat tidak dipahami sebagai kegiatan yang selesai pada satu titik waktu, tetapi sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat kapasitas komunitas dalam mengelola ruang dan masa depannya sendiri.
Pada akhirnya, pengalaman di Tongkonan Sa’pang menegaskan kembali makna merancang sebagai upaya merawat relasi sosial, nilai budaya, dan lanskap yang menjadi penopang kehidupan masyarakat. Dalam kerangka ini, peran perguruan tinggi bukanlah mengambil alih, melainkan berjalan bersama, memastikan bahwa pengembangan desa wisata dapat berlangsung tanpa kehilangan akar budaya yang telah menopang komunitas selama generasi.
Tulisan Pendukung
Tulisan pendukung ini menyoroti isu-isu kunci dan langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak untuk memastikan keberlanjutan Desa Wisata Tongkonan Sa’pang sebagai luaran pengabdian masyarakat oleh Institut Teknologi Bandung.
1. Menguatkan Peran Masyarakat sebagai Pengelola Utama
2. Menjaga Batas antara Ruang Adat dan Ruang Wisata
3. Merancang Pengalaman Wisata yang Edukatif dan Etis
4. Peran Pemerintah Daerah sebagai Penjaga Keseimbangan
5. Peran Akademisi: Pendampingan Jangka Panjang
6. Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat Luas
7. Desa Wisata sebagai Proses, Bukan Tujuan Akhir