Merawat Tradisi, Merancang Masa Depan: Kolaborasi ITB dan Warga Wujudkan Desa Wisata Berkelanjutan di Tongkonan Sa’pang

TANA TORAJA — Pengembangan pariwisata seringkali membawa dilema bagi kelestarian budaya lokal. Menjawab tantangan tersebut, Dr. Firmansyah, S.T., M.T. memimpin tim inisiatif pengabdian masyarakat dari Kelompok Keahlian Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB). Tim ini hadir di Dusun Katangka, Lembang Kaero, untuk mendampingi masyarakat mengembangkan potensi Desa Wisata Tongkonan Sa’pang tanpa mengorbankan keseimbangan fungsi ritual, tatanan sosial, dan kehidupan sehari-hari warga.

Bagi masyarakat setempat, Tongkonan Sa’pang bukan sebatas deretan arsitektur rumah adat yang eksotis. Lanskap ini adalah ruang hidup yang terbentuk melalui relasi sosial dan praktik budaya yang diwariskan lintas generasi. Berangkat dari pemahaman ini, perencanaan desa wisata tidak diposisikan sebagai proyek perancangan fisik semata. Kehadiran tim akademisi ITB bukan untuk menawarkan cetak biru yang kaku, melainkan untuk menata arah pengembangan pariwisata agar selaras dengan ritme kehidupan adat yang sudah ada.

Proses pengabdian ini dirancang sebagai ruang belajar bersama di mana pemahaman ruang dibangun melalui kehadiran langsung di lapangan. Melalui dialog terbuka dan pemetaan partisipatif bersama tokoh adat, warga, dan Pemerintah Kabupaten Tana Toraja, batas-batas ruang yang selama ini hanya dipahami secara lisan berhasil divisualisasikan. Area mana yang sakral dan harus dijaga, serta area mana yang memungkinkan untuk dikembangkan secara terbatas, dirumuskan melalui kesepakatan kolektif. Dari sinilah kepercayaan perlahan terbentuk, menjadi fondasi penting agar perencanaan pariwisata diterima sebagai tanggung jawab bersama.

Hasil dari proses dialog dan observasi panjang ini dikristalisasi menjadi sebuah Masterplan Desa Wisata Tongkonan Sa’pang. Alih-alih memperkenalkan struktur baru yang asing, rancangan ini justru memperkuat pola ruang adat yang telah tumbuh secara historis. Untuk mengatur alur pengunjung dan menjaga keseimbangan desa, perencanaan rute wisata dibagi ke dalam tiga kategori utama. Pertama, Culture Education sebagai wisata edukasi untuk mempelajari nilai filosofis tongkonan, ritual, dan lanskap budaya. Kedua, Culture Leisure yang menawarkan pengalaman menikmati kesenian, kuliner lokal, dan keindahan alam secara santai. Ketiga, Culture Adventure untuk aktivitas penjelajahan menyusuri lanskap desa, sawah, dan hutan adat.

Keberhasilan Desa Wisata Tongkonan Sa’pang tentu tidak hanya diukur dari lonjakan jumlah wisatawan, tetapi dari ketahanan budaya dan peningkatan kesejahteraan warganya. Oleh karena itu, masyarakat adat didorong untuk menjadi pengelola utama wisata, didukung dengan pelatihan kelembagaan dan pelibatan generasi muda. Sistem gotong royong adat (kaprengesan) juga diadaptasi sebagai model pengelolaan. Selain itu, diterapkan aturan tegas bahwa kegiatan wisata harus tunduk pada aturan adat, termasuk penyesuaian waktu kunjungan agar tidak berbenturan dengan siklus ritual masyarakat.

Upaya ini juga membutuhkan dukungan sinkronisasi dari Pemerintah Daerah dalam menyediakan infrastruktur dasar yang sensitif terhadap budaya dan pelindungan hukum bagi ruang adat. Sementara itu, peran perguruan tinggi tidak berhenti pada dokumen masterplan, melainkan berlanjut pada evaluasi rute wisata dan pengembangan ekonomi kreatif lokal. Pada akhirnya, pengalaman di Tongkonan Sa’pang menegaskan kembali esensi dari sebuah perencanaan ruang. Merancang bukan sekadar membangun fisik, melainkan upaya merawat relasi sosial dan lanskap budaya yang menjadi penopang kehidupan, memastikan pariwisata berjalan beriringan dengan lestarinya akar tradisi Toraja.

Kegiatan PPMI - Pengabdian kepada Masyarakat ini juga merupakan bagian dari proses pengumpulan data, analisis, serta penyusunan disertasi Ira Prayuni Rante Allo, mahasiswa program doktor Arsitektur Institut Teknologi Bandung yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaan kegiatan ini.

SDGs : #SDG4 #SDG8 #SDG10 #SDG11 #SDG17

558

views

09 March 2026