Bandung & Flores — Tim gabungan kemanusiaan ITB Peduli NTT yang terdiri dari unsur Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, Ikatan Alumni ITB (IA-ITB), Ikatan Orang Tua Mahasiswa ITB (IOM ITB), Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB), Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, dan Rumah Amal Salman, sukses melaksanakan misi survei awal, pembangunan shelter, serta distribusi tenda keluarga darurat bagi warga terdampak gempa bumi M7.7 di pesisir utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 17 hingga 21 Agustus 2026. Delegasi lapangan yang diberangkatkan meliputi Dr.rer.nat. David Prambudi Sahara, S.T., M.T. dan Awal Wahyu Rahmadi, S.Ds. dari DPMK ITB, Bapak Ir. H. Mipi Ananta Kusuma dan Bapak Wahid Satria Y. dari RAS, serta Bapak Jajang (seorang tukang profesional yang juga merupakan penyintas gempa bumi Pangalengan),
Rangkaian misi kemanusiaan ini bermula pada Senin, 17 Agustus 2026, di mana setibanya di Labuan Bajo, kelima anggota tim delegasi segera mendatangi dan melaporkan kegiatan ke Posko Pusat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) setempat untuk koordinasi awal. Perjalanan dilanjutkan pada 18–19 Agustus 2026 menyusuri jalur darat Labuan Bajo – Ruteng – Reo – Roting guna melaksanakan asesmen mendalam di zona likuifaksi dan wilayah terdampak parah. Di Kecamatan Reo (Kabupaten Manggarai) dan Desa Roting (Kabupaten Manggarai Timur), tim aksi cepat tanggap yang dipimpin oleh Bapak Wahid Satria Y. dan Bapak Jajang langsung mendirikan sembilan unit tenda keluarga struktur A serta shelter darurat. Kolaborasi erat dijalin bersama BAZNAS di Reo dan Dompet Dhuafa di Roting, serta sinergi bersama unsur BNPB dan BPBD daerah—di mana koordinasi logistik lanjutan turut dibantu oleh tim berbeda yang mengelola alur bantuan dari Bandara Halim Perdanakusuma hingga ke posko lapangan.
Berdasarkan hasil asesmen lapangan yang komprehensif, wilayah yang mengalami kerusakan paling parah justru terletak di area yang sedikit lebih jauh dari episenter utama gempa M7.7 di Mbay. Di Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai, hampir seluruh warga mengungsi di tenda-tenda darurat terutama pada malam hari akibat ancaman gempa susulan. Fasilitas vital seperti rumah sakit dan puskesmas lumpuh total, memaksa tenaga medis memindahkan aktivitas kesehatan ke posko lapangan BNPB di bawah bayang-bayang kelangkaan obat, bahan bakar minyak (BBM), serta risiko kesehatan yang meningkat akibat cuaca hujan. Kondisi serupa ditemui di Kampung Ronting dan Desa Pota/Dampek di Kabupaten Manggarai Timur, di mana guncangan aftershocks dirasakan sangat kuat, memicu longsor tebing yang berulang kali memutus akses jalan darat, melumpuhkan puskesmas, serta menciptakan krisis air bersih yang akut. Di tengah situasi darurat ini, tercatat pula kendala logistik di mana sejumlah titik di jalur pegunungan antara Ruteng dan pos pengungsian sempat mengalami penjarahan oleh warga setempat akibat perasaan terisolasi dan lambatnya distribusi bantuan yang menjangkau dusun-dusun terpencil di perbukitan.
Memasuki tanggal 20 hingga 21 Agustus 2026, tim bergerak melanjutkan asesmen ke wilayah Riung di Kabupaten Ngada, di mana aktivitas ekonomi dan pasokan BBM mulai pulih berangsur-angsur, sebelum akhirnya mencapai titik akhir di Mbay, Kabupaten Nagekeo, yang merupakan episenter utama gempa M7.7. Meskipun Mbay merupakan pusat gempa, tingkat kerusakan fisiknya relatif lebih terkendali dibandingkan wilayah pesisir utara Manggarai dan Manggarai Timur; aktivitas pasar, hotel, dan suplai BBM di Mbay terpantau kembali normal. Sepanjang misi ini, ITB Peduli tidak hanya mengandalkan logistik terpusat dari BNPB dan donasi publik yang dihimpun dari sivitas akademika ITB serta mitra yayasan, tetapi juga secara proaktif membeli perlengkapan logistik esensial tambahan langsung di pasar lokal Labuan Bajo dan Ruteng untuk segera didistribusikan ke kantong-kantong pengungsian yang paling membutuhkan. Setelah merampungkan seluruh agenda peninjauan bangunan publik, penyerahan bantuan, dan evaluasi jalur evakuasi, tim bertolak kembali dari Ende pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Berdasarkan data pemutakhiran infografis peta sebaran gempa bumi susulan (aftershocks) hingga 21 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, tercatat total 4.548 kejadian gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai 6.2 dan terkecil 1.1. Sebanyak 31 kejadian memiliki magnitudo di atas 5, dan 119 gempa susulan dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Meskipun grafik peluruhan menunjukkan tren penurunan frekuensi, para ahli memperkirakan aktivitas gempa susulan ini masih akan berlangsung selama kurang lebih 3 hingga 4 minggu ke depan, sehingga keberadaan tenda keluarga yang kokoh dan tahan cuaca sangat krusial bagi keselamatan psikologis dan fisik para pengungsi di pesisir utara Flores.