Napas Baru Limbah Rotan dan Batu Bara

Penulis:
Deny Willy Junaidy, S.Sn., M.T, Ph.D.
KK Manusia dan Ruang Interior
Fakultas Seni Rupa dan Desain

Inovasi Desain pada Keterampilan Tradisi: Nafas Baru Limbah Rotan dan Batubara

Dengan sentuhan desain baru dari tim ilmuwan ITB limbah batubara dan rotan mewujud dalam produk kreatif kerajinan bernilai ekonomi tinggi khas Kota Sawahlunto.

Kota Sawahlunto dikenal sebagai Situs Warisan Dunia Pertambangan Batubara ditetapkan oleh UNESCO pada 2019 dan bertransformasi menjadi kota yang mengandalkan pariwisata dan ekonomi kreatif. Dengan mengembangkan inovasi desain, tim ITB mendorong peningkatan nilai tambah bagi kerajinan tradisional dari limbah batubara dan rotan.

Di kota yang berjarak sekitar 90 kilometer dari Kota Padang ini terdapat sisa-sisa industri batu bara yang dibangun dari abad ke-19 sampai abad ke-20 pada dari masa kolonialisme Belanda.  Bekas tambang yang menjadi warisan sejarah ini adalah lubang tambang Ombilin, yang ditetapkan menjadi Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto. Kawasan heritage dunia ini meliputi wilayah pertambangan, kota, fasilitas penyimpanan di pelabuhan Emmahaven, serta jaringan kereta api yang terhubung dari tambang sampai ke pelabuhan. 

Pada saat itu, setelah lubang tambang Ombilin tidak aktif lagi, Kota Sawahlunto bertransformasi menjadi Kota Wisata Tambang sebelum akhirnya diangkat menjadi kota Warisan Dunia karena dianggap memiliki nilai universal. Meski masih ada aktivitas pertambangan, penetapan kawasan Ombilin sebagai destinasi budaya dan pariwisata ini kemudian menjadi visi pembangunan Sawahlunto. 

Dengan perubahan tersebut, Sawahlunto memiliki peluang strategis untuk mentransformasikan warisan budaya dan sumber daya alamnya menjadi kekuatan ekonomi kreatif dan pariwisata dunia. Dalam konteks itu, salah satu hal yang paling mendesak adalah menggali potensi pariwisata dan ekonomi yang bertumpu pada sumber daya alam dan budaya yang ada di Kota Sawahlunto.

Dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif, pengembangan produk tradisi dan khas dari masyarakat Sawahlunto menjadi komponen penting. Para pengrajin membutuhkan peningkatan skill dan kapasitas dalam menghasilkan produk-produk kerajinan mereka, sehingga mampu mengakses pasar lebih luas. 

Berbagai tantangan dihadapi para pengrajin, mulai dari keterbatasan teknologi, minimnya akses pasar, hingga kurangnya inovasi desain yang sesuai dengan tren modern. Dalam upaya menjawab tantangan tersebut, tim Ilmuwan ITB menggelar program Pengembangan Produk Baru Home-Decor berbasis limbah rotan Manau dan batubara untuk penguatan kapasitas industri kecil dan menengah (IKM) Rotan Sawahlunto di Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto. 

Kegiatan pengembangan produk dan pelatihan yang menghadirkan para pengrajin lokal merupakan merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat di bawah payung  Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB.  Program ini dipimpin oleh Deny Willy Junaidy, Ph.D., dari Kelompok Keahlian Manusia & Ruang Interior, Fakultas Seni Rupa & Desain (FSRD) ITB. 

Sejumlah tim akademisi lain yang turut serta antara lain Prof. Ramadhani Eka Putra, Ph.D., dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB. Dalam program ini dilibatkan pula asisten dosen dan mahasiswa dari Prodi Desain Interior FSRD ITB dan Prodi Rekayasa Pertanian SITH ITB.

Lebih dari sekadar pelatihan bagi para pengrajin, tujuan utama program ini adalah juga memperkuat sinergi antara masyarakat, pemerintah daerah, akademisi dan kalangan industri dalam mendorong kemajuan ekonomi kreatif Sawahlunto. 

Dari kalangan industri rotan, program ini berkolaborasi dengan aktivis pengelolaan rotan Lestari “Jelajah Rattan” yang diwakili oleh M. Alfath Kurniadi dan Krisandi, selain dari pemerintah daerah setempat. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam menjawab tantangan pengembangan produk lokal berbasis limbah alam

Inovasi teknologi & desain

Kegiatan pengembangan kerajinan dan peningkatan kapasitas pengrajin di Sawahlunto dirancang untuk mengoptimalkan potensi lokal, khususnya rotan Manau yang selama ini dianggap sebagai limbah, serta memadukannya dengan limbah batubara. 

Rotan Manau  yang berdiameter besar, selama ini dianggap kurang bernilai dan tidak dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, rotan Manau memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi, seperti dekorasi interior, furnitur kecil, dan aksesori rumah tangga. 

Melalui program ini, dilakukan pendekatan menyeluruh yang mencakup penelitian terhadap material rotan, edukasi kepada para pengrajin tentang potensi penggunaan limbah sebagai bahan baku alternatif. Pada pelatihan praktis, diberikan peningkatan kapasitas dan praktik teknik tusir rotan dengan solder, serta pencampuran resin dengan batubara untuk menciptakan produk bernilai estetis dan fungsional.

Pendekatan inovatif dalam program ini meliputi eksplorasi teknik pahat dan ukir untuk menghasilkan tekstur khas dengan karakter unik serat rotan, serta modifikasi alat sederhana seperti mesin gerinda untuk meningkatkan efisiensi dan presisi pengerjaan. Selain itu, pelatihan ini juga berfokus pada pengembangan desain berbasis tren pasar modern, sehingga produk yang dihasilkan memiliki daya saing tinggi di pasar lokal maupun global.

Program ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis dan kreativitas para pengrajin, tetapi juga mendukung pelestarian seni pahat tradisional yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Sawahlunto. Dengan integrasi inovasi teknologi, desain, dan strategi pemasaran berbasis komersialisasi, kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan produk rotan yang inovatif, berkualitas tinggi, dan kompetitif di pasar internasional. 

Melalui pendekatan yang menyeluruh, para pengrajin tidak hanya mampu meningkatkan kualitas produksi, tetapi juga menumbuhkan inovasi yang berkelanjutan. Program ini sekaligus menjadi wadah pelestarian seni pahat tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya Sawahlunto, serta upaya regenerasi pengrajin muda dengan pendekatan modern yang lebih menarik bagi generasi milenial dan Gen Z.

Dengan demikian, pengembangan produk baru home-décor limbah rotan dan batubara bagi pengrajin industri kecil dan menengah ini tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan, tetapi juga diharapkan mampu memperkuat posisi Sawahlunto.

sebagai pusat kerajinan rotan unggulan yang mengintegrasikan tradisi lokal dan inovasi teknologi, serta mampu bersaing di pasar internasional.

Meningkatkan Fungsionalitas dan Nilai Ekonomi

Terkenal sebagai Kota Wisata Tambang, Sawahlunto memiliki sumber daya berbasis alam dan tentu saja, limbah tambang batubara. Terdapat dua bahan baku limbah utama yang tersedia di Kota Sawahlunto, yaitu batubara dan rotan Manau. Rotan Manau yang berdiameter besar, selama ini dianggap limbah karena kesulitan pengrajin saat membentuknya menjadi produk tertentu. 

Bahan lokal kedua adalah limbah batubara, yang biasanya ketika ditemukan dalam bentuk bongkahan, kemudian diolah dengan cara dipahat dan diukir menjadi ‘karya seni’. Karya seni ukir dari bongkahan batubara ini menghadapi tantangan bahan baku bongkahan besar yang semakin sulit didapat. 

Selain itu, karya ukir menghadapi tantangan fungsionalitas yang menyebabkan nilai ekonominya relatif rendah, terkait dengan relatif rendahnya kebutuhan pasar oleh-oleh, maupun kegunaannya sehari-hari. 

Kedua tantangan tersebut berupaya dijawab dengan mengkombinasikan rotan Manau dan limbah batubara menjadi produk kreatif bernilai tinggi, seperti dekorasi interior, furnitur kecil, dan aksesori rumah tangga. Kombinasi ini ditujukan untuk meningkatkan fungsionalitas produk sehingga bisa mendorong nilai ekonomi berbasis kebutuhan konsumen dan pasar produk. 

Dalam meningkatkan fungsionalitas kerajinan dan bahan baku yang tersedia, pola desain yang dikembangkan adalah produk-produk berdimensi kecil. Strategi ini dilakukan juga agar ketersediaan dari bongkahan limbah batubara tidak menjadi hambatan, mengingat produk ukuran besar akan lebih membutuhkan bongkahan yang besar. 

Kemudian dari sisi desain, metode pengembangan desain produk dilakukan dengan mencari desain yang sifatnya modular, seperti kepingan-kepingan yang memudahkan dalam ketersediaan penerapannya untuk dimensi produk home décor. 

Pendekatan desain lain, adalah menyesuaikan dengan skil pahat dan ukir masyarakat setempat, dan eksplorasi dari motif-motif silungkang dan motif geometrik arabik. Motif geometrik arabik ini mencirikan karakter Sawahlunto atau Sumatera Barat secara umum sebagai kawasan yang relatif relijius.

Produk baru

Para peserta dibekali berbagai teknik pengolahan modern, mulai dari tusir rotan menggunakan solder, eksplorasi tekstur dengan teknik pahat dan ukir, hingga pencampuran resin dengan batubara. Tidak hanya aspek teknis, pelatihan ini juga membahas desain berbasis tren pasar untuk meningkatkan daya saing produk di tingkat lokal dan global.

Terdapat dua inovasi desain yang membuat produk baru, bagi para pengrajin maupun dari segi produk. Pertama adalah penerapan tusir atau solder pada gagang salah satu produk hasil pelatihan, yaitu Pisau Baro. Pada gagang pisau diterapkan teknik tusir yang terinspirasi dari produk batik bambu. 

Inovasi yang benar-benar baru juga diwujudkan dalam pengolahan limbah batu bara yang telah menjadi bubuk, dan biasanya benar-benar telah tidak dapat dimanfaatkan sama sekali oleh para pengrajin. Batubara yang telah menjadi granul justru menjadi desain dan produk baru ketika dipadukan dengan olahan resin. 

Cetakan motif yang dihasilkan dari proses ini menghasilkan karakter baru yang diterapkan antara lain pada gagang pisau Baro yang dihasilkan. Limbah batubara yang berbentuk granule yang kurang laku dijual lahir menjadi produk baru, ketika dipadukan dengan resin sehingga menyerupai urat atau motif batu ini benar-benar baru bagi pengrajin di Sawahlunto.

SDGs : #SDG8

227

views

26 August 2025