Pemberdayaan Komunitas Perdesaan melalui Program Literasi

Penulis:
Ir. Tubagus Furqon Sofhani, M.A., Ph.D. 
Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan
(SAPPK) ITB

Literasi Perdesaan sebagai Fondasi Pembangunan Manusia

Peningkatan kualitas sumber daya manusia masih menjadi tantangan utama pembangunan di wilayah perdesaan Indonesia, khususnya pada kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dalam konteks tersebut, literasi dasar tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai fondasi pembentukan kapasitas manusia, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial dan ekonomi. Rendahnya kemampuan literasi anak usia sekolah dasar berpotensi memperbesar ketimpangan pendidikan antarwilayah dan mempersempit peluang generasi muda desa untuk berpartisipasi dalam pembangunan di masa depan. Oleh karena itu, penguatan literasi di wilayah perdesaan memerlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada sekolah formal, tetapi juga pada penguatan ekosistem belajar berbasis komunitas.

Berangkat dari kondisi tersebut, Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Skema Bottom-Up Tahun 2025 melaksanakan program pengabdian masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Komunitas Perdesaan Melalui Program Literasi di Desa Nagarawe, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.” Program ini berlangsung pada 26 Februari hingga 28 November 2025 dan dilaksanakan di tiga desa, yaitu Desa Nagarawe, Desa Focolodorawe, dan Desa Alorawe, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Pelaksanaan program dilakukan melalui kerja sama antara ITB dan Yayasan Litara sebagai mitra strategis yang memiliki pengalaman panjang dalam penguatan literasi anak dan pengembangan komunitas membaca di berbagai wilayah Indonesia.

Program ini dirancang dengan pendekatan berbasis komunitas yang menempatkan masyarakat desa sebagai aktor utama dalam penguatan literasi. Pendekatan tersebut dipilih karena rendahnya kemampuan literasi di wilayah perdesaan tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan pembelajaran di sekolah, tetapi juga dipengaruhi oleh minimnya ruang belajar alternatif, keterbatasan akses terhadap bahan bacaan bermutu, serta belum optimalnya keterlibatan keluarga dan komunitas dalam mendukung praktik membaca anak. Dalam banyak kasus, sekolah di wilayah perdesaan harus menanggung beban besar dalam membangun kemampuan literasi dasar tanpa dukungan ekosistem sosial yang memadai.

Melalui program ini, penguatan literasi dilakukan dengan membangun dan menghidupkan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), menyediakan buku bacaan anak yang sesuai usia dan kontekstual, melakukan pelatihan bagi guru dan penggiat literasi, serta mendampingi kegiatan membaca anak secara rutin. Selain itu, program juga mendorong keterlibatan orang dewasa di komunitas sebagai bagian penting dalam proses pendampingan membaca anak. Orang dewasa tidak hanya diposisikan sebagai penyedia fasilitas membaca, tetapi juga sebagai mediator yang membangun motivasi membaca, mendampingi proses belajar anak, dan menciptakan lingkungan belajar yang suportif di tingkat komunitas.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena pengalaman lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan program literasi sangat dipengaruhi oleh kualitas mediasi membaca yang dilakukan secara langsung dan konsisten. Di tiga desa lokasi kegiatan, keterlibatan guru, relawan, orang tua, dan penggiat literasi terbukti mampu menciptakan ruang belajar yang lebih hidup dan dekat dengan anak-anak. Anak-anak tidak hanya datang untuk membaca buku, tetapi juga menjadikan TBM sebagai ruang interaksi sosial, bermain, dan belajar bersama. Dalam beberapa kasus, anak-anak bahkan datang sebelum jam operasional dimulai karena tingginya antusiasme terhadap aktivitas membaca dan pendampingan yang dilakukan relawan.

Pelaksanaan kegiatan juga memperlihatkan bahwa penguatan literasi di wilayah perdesaan tidak dapat dilepaskan dari tantangan struktural yang lebih luas. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas wilayah. Lokasi desa yang berjauhan dengan pusat kota serta keterbatasan sarana transportasi menyebabkan distribusi buku dan bahan bacaan menjadi tidak mudah. Selain itu, sekolah dan komunitas di wilayah terpencil juga menghadapi keterbatasan sumber daya, baik dari sisi anggaran, tenaga pendidik, maupun fasilitas pendukung pembelajaran. Kondisi tersebut menyebabkan keberadaan ruang belajar alternatif seperti TBM menjadi sangat penting dalam memperluas akses anak terhadap bahan bacaan dan aktivitas literasi.

Pengalaman pendampingan juga menunjukkan bahwa standar perpustakaan yang bersifat seragam sering kali sulit diterapkan pada konteks desa terpencil. Persyaratan mengenai bangunan khusus, jumlah koleksi tertentu, maupun tenaga pustakawan tersertifikasi tidak selalu realistis bagi komunitas desa dengan sumber daya terbatas. Dalam praktiknya, banyak ruang baca komunitas justru dapat berfungsi secara efektif karena adanya relawan dan penggiat lokal yang aktif mendampingi anak membaca, meskipun tidak memenuhi standar formal perpustakaan secara administratif.

Temuan tersebut kemudian menjadi bagian dari publikasi ilmiah internasional pada IFLA Journal yang ditulis oleh Sofie Dewayani, Ph.D. dengan judul “Beyond Uniform Standards: Rethinking Libraries for Marginalised Regions in the Global South.” Artikel tersebut menyoroti bagaimana perpustakaan dan ruang baca di wilayah marjinal menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur, sumber daya, akses internet, dan standar kelembagaan yang tidak selalu sesuai dengan konteks lokal. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa perpustakaan di wilayah terpencil seharusnya tidak hanya dinilai berdasarkan kelengkapan fisik dan administratif, tetapi juga berdasarkan kemampuan mereka menciptakan aktivitas literasi yang bermakna dan responsif terhadap kebutuhan komunitas.

Berbagai pendekatan yang diterapkan selama pelaksanaan program pada dasarnya dirancang untuk membangun ekosistem literasi berbasis komunitas yang berkelanjutan. Aktivitas-aktivitas tersebut tidak hanya menghasilkan keluaran berupa tersedianya ruang baca dan kegiatan literasi rutin, tetapi juga mendorong dampak yang lebih luas terhadap penguatan budaya membaca, kapasitas komunitas, dan keberlanjutan ekosistem belajar desa. Ringkasan keterkaitan antara aktivitas, output, dan outcome program disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Aktivitas, Output, dan Outcome Program Literasi Komunitas Perdesaan

Tabel tersebut menunjukkan bahwa penguatan literasi perdesaan tidak dapat dipahami sebagai kegiatan penyediaan buku semata, melainkan sebagai proses pembangunan ekosistem belajar yang melibatkan relasi antara komunitas, sekolah, relawan, dan kelembagaan desa. Dengan demikian, capaian program tidak hanya terlihat pada meningkatnya aktivitas membaca anak-anak, tetapi juga pada tumbuhnya kapasitas sosial komunitas dalam mendukung pendidikan secara kolektif dan berkelanjutan.

Pelaksanaan program di Desa Nagarawe, Focolodorawe, dan Alorawe memperlihatkan bahwa keberlanjutan kegiatan literasi sangat dipengaruhi oleh keterlibatan komunitas lokal dan dukungan kelembagaan desa. Program yang hanya bergantung pada intervensi eksternal cenderung sulit bertahan dalam jangka panjang. Sebaliknya, ketika masyarakat desa merasa memiliki program dan terlibat aktif dalam pengelolaan kegiatan, peluang keberlanjutan menjadi lebih besar. Oleh karena itu, selama pelaksanaan program, pendampingan tidak hanya difokuskan pada anak-anak, tetapi juga pada penguatan kapasitas penggiat literasi lokal agar mampu melanjutkan kegiatan secara mandiri.

Selain penguatan kapasitas komunitas, program ini juga memperkuat jejaring kolaborasi antara desa, sekolah, komunitas literasi, dan organisasi mitra. Kolaborasi tersebut penting untuk memastikan bahwa kegiatan literasi tidak berjalan secara terpisah, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran desa yang lebih luas. Dalam beberapa kegiatan, sekolah dan komunitas bekerja sama dalam penyelenggaraan kelas membaca, kegiatan mendongeng, serta aktivitas membaca kelompok kecil yang melibatkan orang tua dan relawan desa.

Secara lebih luas, program ini menunjukkan bahwa penguatan literasi di wilayah perdesaan memerlukan pendekatan yang kontekstual, fleksibel, dan berbasis komunitas. Pendekatan yang terlalu administratif dan seragam berisiko mengabaikan kondisi riil desa serta melemahkan inisiatif lokal yang sebenarnya memiliki dampak besar bagi anak-anak. Sebaliknya, ketika masyarakat diberikan ruang untuk mengembangkan praktik literasi yang sesuai dengan konteks lokal mereka, proses belajar menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan.

Program pengabdian masyarakat ini juga memberikan pembelajaran penting bahwa pembangunan sumber daya manusia di wilayah perdesaan tidak dapat hanya bergantung pada sekolah formal. Literasi perlu dipahami sebagai tanggung jawab bersama yang melibatkan keluarga, komunitas, pemerintah desa, organisasi masyarakat sipil, dan perguruan tinggi. Dalam konteks tersebut, peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai penyedia pengetahuan, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu memperkuat kapasitas lokal dan menjembatani kolaborasi antaraktor pembangunan.
Melalui pelaksanaan program ini, ITB dan Yayasan Litara berupaya menunjukkan bahwa penguatan literasi di wilayah perdesaan dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pengalaman di tiga desa di Kabupaten Nagekeo memperlihatkan bahwa intervensi kecil yang dilakukan secara konsisten dan berbasis komunitas mampu menciptakan perubahan sosial yang bermakna. Anak-anak menjadi lebih dekat dengan buku, komunitas menjadi lebih terlibat dalam pendidikan, dan desa mulai melihat literasi sebagai bagian penting dari pembangunan masa depan mereka.

Refleksi dan Pembelajaran Program Literasi Berbasis Komunitas di Perdesaan

Ruang Baca sebagai Ruang Sosial Anak

Pelaksanaan program di Desa Nagarawe, Focolodorawe, dan Alorawe menunjukkan bahwa Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca buku, tetapi juga berkembang menjadi ruang sosial bagi anak-anak desa. Anak-anak memanfaatkan TBM sebagai tempat belajar bersama, berdiskusi, bermain, dan membangun interaksi sosial yang positif. Kehadiran ruang baca yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak membuat aktivitas membaca terasa lebih menyenangkan dan tidak identik dengan suasana belajar formal di sekolah.

Pentingnya Pendampingan Orang Dewasa

Salah satu temuan penting dari program ini adalah besarnya pengaruh pendampingan orang dewasa terhadap motivasi membaca anak. Guru, relawan, dan penggiat komunitas berperan sebagai mediator yang membantu anak memahami bacaan, membangun rasa percaya diri, serta menciptakan pengalaman membaca yang lebih interaktif. Pendekatan seperti pembacaan nyaring (read aloud) dan diskusi sederhana setelah membaca terbukti membantu anak lebih aktif dalam proses belajar. Dalam konteks komunitas perdesaan yang belum memiliki budaya membaca yang kuat, keberadaan pendamping menjadi faktor yang sangat menentukan.

Tantangan Literasi di Wilayah Terpencil

Program ini juga memperlihatkan bahwa penguatan literasi di wilayah terpencil menghadapi tantangan yang bersifat struktural. Keterbatasan akses transportasi, distribusi buku, fasilitas pendidikan, dan sumber daya manusia menyebabkan ruang baca komunitas sering beroperasi dalam kondisi yang sangat terbatas. Namun demikian, pengalaman lapangan menunjukkan bahwa keterbatasan tersebut tidak selalu menghambat aktivitas literasi apabila terdapat komunitas lokal yang aktif dan memiliki komitmen kuat terhadap pendidikan anak.

Refleksi terhadap Standar Perpustakaan

Pengalaman pelaksanaan program menunjukkan bahwa standar perpustakaan yang seragam sering kali sulit diterapkan pada wilayah marjinal dan perdesaan terpencil. Dalam praktiknya, ruang baca sederhana yang dikelola komunitas justru dapat berfungsi lebih aktif dibanding fasilitas formal yang memenuhi standar administratif tetapi minim aktivitas. Refleksi ini kemudian diperkuat melalui publikasi pada IFLA Journal yang ditulis oleh Sofie Dewayani, Ph.D. berjudul “Beyond Uniform Standards: Rethinking Libraries for Marginalised Regions in the Global South.” Artikel tersebut menekankan pentingnya pendekatan kebijakan perpustakaan yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap kondisi lokal.

Penguatan Komunitas dan Keberlanjutan Program

Selain berdampak pada anak-anak, program ini juga memperkuat hubungan antaraktor di tingkat desa. Kegiatan membaca yang melibatkan sekolah, relawan, orang tua, dan komunitas membantu membangun kesadaran bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Pendekatan kolaboratif ini membuka peluang keberlanjutan program karena kegiatan literasi tidak bergantung sepenuhnya pada pendamping eksternal. Penguatan kapasitas penggiat lokal menjadi langkah penting agar komunitas desa mampu melanjutkan aktivitas membaca secara mandiri setelah program selesai.

SDGs : #SDG4

94

views

20 July 2026