Pemberdayaan Petani Melalui Inovasi Teknologi Ekstraksi Minyak Nabati Berbasis Sacha Inchi

Penulis:
Dr. Anita Kusuma Wardani, S.T., M.T.
KK Intensifikasi PRos
Institut Teknologi Bandung

Purworejo, Jawa Tengah - Di tengah upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan mendorong diversifikasi komoditas pertanian, kelompok tani “Makmur Tani” muncul sebagai salah satu contoh sukses kolaborasi antara akademisi dan masyarakat. Kelompok tani “Makmur Tani” merupakan salah satu kelompok tani aktif yang berada di Desa Kedongpomahan Wetan, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Dalam data resmi sistem penyuluhan pertanian dan kehutanan, kelompok ini tercatat sebagai kelompok yang telah terdaftar secara administratif, dengan status sebagai kelompok “pemula”. Meski demikian, “Makmur Tani” memiliki karakter kelompok yang progresif dan adaptif, terutama dalam mengembangkan komoditas pertanian alternatif bernilai ekonomi tinggi di tengah fluktuasi harga pangan utama.

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok tani “Makmur Tani” mulai dikenal sebagai salah satu kelompok yang menginisiasi budidaya tanaman sacha inchi, sebuah tanaman yang dapat menghasilkan minyak nabati dengan nilai ekonomi tinggi. Upaya mereka untuk mulai membudidayakan tanaman ini menghadirkan peluang baru bagi masyarakat desa, baik dari sisi diversifikasi tanaman maupun potensi peningkatan pendapatan petani. Meski budidayanya cukup menjanjikan, proses pengolahan hasil panen, khususnya ekstraksi minyak sacha inchi, masih menjadi tantangan utama karena keterbatasan peralatan dan teknologi di tingkat petani.

Melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Inovasi Teknologi Ekstraksi untuk Meningkatkan Produksi Minyak Nabati dari Kacang Sacha Inchi”, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Yayasan Nyala menghadirkan teknologi tepat guna yang mampu memberikan nilai tambah signifikan bagi hasil pertanian lokal. Melalui program ini, “Makmur Tani” mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta teknologi tepat guna berupa alat ekstraksi minyak yang dirancang sesuai khusus supaya mudah dioperasikan, hemat energi, dan efektif dalam menghasilkan minyak. Kolaborasi ini tidak hanya memperkenalkan inovasi kepada petani, tetapi juga mendorong penguatan kapasitas kelompok sebagai pelaku usaha tani yang mandiri dan berorientasi pada produk bernilai tambah. Dengan semangat belajar yang tinggi dan kesediaan mengadopsi teknologi baru, “Makmur Tani” berpeluang menjadi model kelompok tani inovatif yang mampu mengelola komoditas pertanian masa depan seperti sacha inchi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara berkelanjutan.

Potensi Emas dari Sacha Inchi

Sacha inchi atau Plukenetia volubilis merupakan tanaman merambat yang menghasilkan buah berbentuk bintang berwarna cokelat ketika matang. Di dalamnya terdapat biji yang sering disamakan dengan kacang almond, meski sebenarnya berasal dari keluarga tanaman yang berbeda. Meskipun baru dikenal luas dalam beberapa tahun terakhir, biji sacha inchi sesungguhnya telah digunakan oleh masyarakat adat Amazon selama ratusan tahun sebagai komoditas pangan bernilai tinggi.

Sacha inchi dikenal sebagai salah satu sumber asam lemak tak jenuh terbaik di dunia, dengan kandungan omega-3, omega-6, dan omega-9. Tak hanya itu, biji sacha inchi mengandung protein nabati yang cukup tinggi, menjadikannya pilihan ideal sebagai sumber protein bagi mereka yang menjalani diet nabati. Di sisi lain, vitamin A, vitamin E, dan antioksidan alami yang terkandung dalam biji ini dapat berperan dalam menjaga kesehatan kulit, meningkatkan imunitas, dan membantu tubuh melawan radikal bebas. Dengan kandungan gizi yang sedemikian lengkap, tidak mengherankan jika sacha inchi dianggap sebagai minyak super atau superfood oil. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minyak sacha inchi dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL), serta menjaga kesehatan jantung.

Selain kandungan nutrisi dan manfaat kesehatannya, sacha inchi juga menawarkan peluang ekonomi yang sangat menjanjikan. Di Indonesia sendiri, harga biji kering sacha inchi berkisar antara Rp80.000 hingga Rp15.000–Rp25.000 per kilogram. Namun, setelah diolah menjadi minyak, harganya dapat melonjak hingga Rp150.000–Rp200.000 per 250 mililiter, tergantung kualitas dan kemasan. Nilai yang tinggi ini menjadikan sacha inchi sebagai komoditas yang sangat potensial bagi UMKM dan petani lokal untuk dikembangkan.

Meski memiliki potensi besar, tantangan utama dalam pengembangan sacha inchi di Indonesia adalah proses ekstraksi minyaknya. Proses ekstraksi merupakan tahap penting yang menentukan kualitas, nilai ekonomis, dan keberlanjutan komoditas ini. Dari biji yang tampak sederhana, sacha inchi dapat menghasilkan minyak yang memiliki nilai jual tinggi di pasar global. Namun, potensi besar ini baru dapat dimaksimalkan apabila masyarakat memiliki akses terhadap teknologi ekstraksi yang efisien, aman, dan terjangkau. Di sinilah peran akademisi dan lembaga sosial menjadi sangat penting, seperti contoh kolaborasi antara tim ITB yang dipimpin oleh Dr. Anita Kusuma Wardani dengan anggota Dr. Meiti Pratiwi dan Prof. Tirto Prakoso, Ph.D., bersama dengan Yayasan Nyala yang mendampingi kelompok tani di Purworejo.

Kunjungan Pertama: Belajar dari Lahan Petani

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dimulai dengan kunjungan lapangan pada 18 Juli 2025. Tim dari FTI ITB dan Yayasan Nyala datang langsung ke Desa Kedongpomahan Wetan untuk melakukan dialog terbuka dengan para anggota Poktan “Makmur Tani”. Kunjungan ini bukan hanya sekadar sosialisasi, tetapi menjadi ruang berbagi pengalaman antara akademisi dan petani. Dalam suasana hangat, para petani menjelaskan keunggulan dan tantangan budidaya sacha inchi, termasuk teknik pemangkasan, perawatan tanaman merambat, serta proses panen biji.

Tim FTI ITB juga mempelajari secara langsung kondisi lapangan, mulai dari metode penanaman dan pemanenan sacha inchi, pengeringan dan pemisahan kulit dan inti biji sacha inchi, hingga penjualannya. Melalui kunjungan ini, tim memahami bahwa alat ekstraksi yang dibutuhkan harus memenuhi empat kriteria utama, yaitu mudah dioperasikan, efisien menghasilkan minyak, ramah energi, dan tahan lama dan sesuai kondisi desa. Informasi ini kemudian menjadi dasar perancangan alat press yang kelak diserahkan kepada kelompok tani.

Kunjungan Kedua: Serah Terima dan Pelatihan Alat Ekstraksi

Setelah proses perancangan dan pembuatan alat selesai, tim kembali ke Desa Kedongpomahan Wetan pada 7 November 2025. Kunjungan kedua ini menjadi momen penting: penyerahan alat ekstraksi kepada Poktan “Makmur Tani”. Alat ekstraksi ini dirancang oleh tim multidisiplin FTI ITB dengan mempertimbangkan prinsip mekanika, efisiensi panas, serta ergonomi.

Selain serah terima, tim juga memberikan pelatihan langsung terkait penggunaan dan perawatan alat ekstraksi. Pelatihan yang diberikan cara menyalakan dan mengoperasikan perangkat, cara memasukkan biji sacha inchi, metode untuk memisahkan minyak dan ampas, cara membersihkan peralatan, serta teknik penyimpanan minyak agar kualitasnya tetap terjaga. Setelah pelatihan, para petani diminta untuk mencoba mengoperasikan alat secara mandiri. Wajah-wajah antusias tampak jelas, menunjukkan bahwa teknologi ini sangat dibutuhkan dan diterima dengan baik.

“Dulu kami hanya menjual biji kacang, sekarang kami punya harapan lebih karena bisa belajar membuat minyak yang harganya jauh lebih tinggi dan juga menyehatkan,” ujar M. Sodikin, ketua kelompok tani Makmur Tani dengan penuh semangat.

Menuju Desa Mandiri Berbasis Teknologi

Industri yang dapat memanfaatkan minyak sacha inchi sangat luas. Di sektor pangan, minyak ini dapat digunakan sebagai minyak makan premium bagi konsumen yang sadar kesehatan. Di sektor nutrisi, minyak ini berpeluang untuk diproses menjadi produk suplemen atau campuran dalam produk diet. Industri kosmetik juga melihat sacha inchi sebagai bahan unggulan karena kandungan asam lemak dan antioksidannya sangat cocok untuk perawatan kulit, rambut, dan anti-aging. Tren clean beauty dan plant-based skincare yang sedang naik daun global semakin memperbesar kebutuhan pasar akan bahan alami seperti minyak sacha inchi.

Tidak hanya itu, tren gaya hidup sehat yang berkembang di kota-kota besar Indonesia membawa peluang domestik yang belum banyak dieksplorasi. Konsumen semakin mencari minyak nabati yang lebih sehat, tidak diproses secara kimia, dan memiliki manfaat nyata bagi tubuh. Minyak sacha inchi dapat menjadi alternatif ideal bagi mereka yang ingin menggantikan minyak goreng konvensional dengan opsi yang lebih sehat. Meskipun harga minyak sacha inchi lebih tinggi, pasar premium health product di Indonesia terus bertumbuh, sebuah peluang besar bagi petani dan UMKM lokal.

Melihat potensi besar ini, pengembangan teknologi ekstraksi yang efisien dan aksesibel menjadi langkah strategis dalam menciptakan ekosistem sacha inchi nasional. Pemerintah daerah, akademisi, dan lembaga pemberdayaan masyarakat berperan penting dalam memperkenalkan teknologi ini ke desa-desa yang mulai membudidayakan sacha inchi. Dengan teknologi yang tepat, desa dapat mengembangkan unit produksi minyak skala kecil yang mampu memenuhi standar mutu pasar nasional maupun ekspor. Lebih jauh lagi, ekstraksi minyak sacha inchi juga membuka jalan bagi pengembangan industri baru di pedesaan. Desa dapat membentuk sentra produksi minyak, UMKM dapat membuat produk turunan bernilai tinggi, dan koperasi desa dapat mengatur distribusi serta pemasaran. Dengan demikian, sacha inchi bukan hanya tanaman yang menambah pendapatan, tetapi juga menjadi fondasi bagi pembangunan ekonomi lokal yang berbasis inovasi.

Di masa depan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu negara produsen minyak sacha inchi berkualitas premium. Iklim tropis yang sesuai, lahan luas, serta sumber daya manusia yang mulai terbuka pada inovasi menjadi modal kuat untuk pengembangan komoditas ini. Dengan dukungan teknologi ekstraksi yang semakin mudah diakses, sacha inchi berpotensi menjadi “bintang baru” dalam industri minyak nabati sehat, baik untuk pangan, nutrisi, maupun kosmetik. Keberadaan teknologi ekstraksi membuat potensi sacha inchi semakin lengkap: tanaman mudah dibudidayakan, bernilai gizi tinggi, memiliki banyak manfaat, dan dapat menghasilkan produk akhir dengan harga premium. Dari hulu hingga hilir, sacha inchi menawarkan prospek cerah bagi pertanian Indonesia yang lebih modern, bernilai tambah, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Tulisan Pendukung

  • Poktan beranggotakan lebih dari 20 petani ini mengembangkan sacha inchi sebagai komoditas alternatif bernilai tinggi, tetapi sebelumnya masih menghadapi kendala dalam proses ekstraksi minyak secara manual.
  • Alat ekstraksi yang diberikan kepada kelompok tani “Makmur Tani” mampu menghasilkan 250-300 mL minyak nabati dari setiap 1 kg biji sacha inchi.

SDGs : #SDG1

850

views

19 January 2026