Penulis:
Dr. Muhammad Yudhistira Azis M.Si.
Dosen Kelompok Keilmuan (KK) Kimia Analitik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB
Tim Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan kegiatan pendidikan aplikatif dan pemulihan psikososial bagi siswa SDN Karya Bakti dan MTs Al-Amin di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (20/5/2026).
Wilayah tersebut merupakan salah satu daerah yang terdampak bencana tanah longsor Cisarua pada awal 2026. Melalui kegiatan ini, siswa diajak mempelajari berbagai konsep sains dengan cara yang sederhana, interaktif, dan menyenangkan.
Program yang dilaksanakan dalam skema top-down Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB itu melibatkan 40 siswa sekolah dasar dan 40 siswa madrasah tsanawiyah beserta guru pendamping. Kegiatan menggabungkan percobaan kimia, demonstrasi fisika, seni, serta permainan edukatif sebagai bagian dari pendidikan darurat dan pemulihan pascabencana.
Belajar Kimia dari Bahan Sehari-hari
Dalam sesi kimia, siswa diperkenalkan pada sejumlah percobaan sederhana dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di rumah. Percobaan tersebut antara lain pembuatan balon hidrogen, pesan rahasia, indikator asam-basa alami, serta simulasi gunung meletus.
Pada percobaan balon hidrogen, gas dihasilkan dari reaksi antara aluminium foil dan larutan basa. Gas tersebut kemudian dimasukkan ke dalam balon hingga mengembang. Aktivitas ini membantu siswa memahami bahwa reaksi kimia dapat menghasilkan gas yang memiliki sifat tertentu.
Siswa juga diajak membuat pesan rahasia menggunakan indikator yang awalnya tidak terlihat pada kertas. Tulisan tersebut akan muncul dalam warna merah muda setelah diusap menggunakan kapas yang mengandung larutan basa.
Selain itu, tim memperkenalkan kol ungu, bunga sepatu, dan bunga asoka sebagai indikator pH alami. Bahan-bahan tersebut mengandung antosianin yang dapat berubah warna sesuai dengan tingkat keasaman atau kebasaan larutan. Pada lingkungan asam, misalnya, ekstrak bunga sepatu dapat berubah menjadi merah, sedangkan pada kondisi basa warnanya menjadi hijau.
Percobaan gunung meletus dilakukan dengan mencampurkan bahan seperti baking soda, cuka, detergen, dan pewarna makanan. Reaksi asam dan basa menghasilkan gas karbon dioksida yang mendorong cairan keluar sehingga menciptakan efek letusan. Kegiatan ini juga dapat dikombinasikan dengan kreativitas siswa dalam membuat miniatur gunung.
Menjadi “Orang Sakti” karena Fisika
Pembelajaran fisika dikemas melalui praktikum bertajuk “Menjadi Orang ‘Sakti’ karena Fisika”. Tajuk tersebut dipilih untuk menarik perhatian siswa melalui demonstrasi benda yang seolah-olah dapat bergerak tanpa disentuh.
Salah satu percobaan memperlihatkan sedotan plastik yang bergerak akibat gaya listrik statis. Sedotan yang telah digosok dengan tisu didekatkan dengan sedotan lain sehingga muncul gaya tolak-menolak.
Percobaan berikutnya menunjukkan balon yang dapat mengembang tanpa ditiup. Balon dipasang pada botol, kemudian botol bersentuhan dengan air panas. Peningkatan suhu menyebabkan udara di dalam botol mengembang dan mendorong balon.
Siswa juga mengamati air yang masuk ke dalam gelas setelah lilin menyala ditutup dengan gelas. Fenomena tersebut terjadi karena perubahan suhu dan tekanan udara di dalam gelas.
Melalui demonstrasi tersebut, siswa didorong untuk bertanya dan mencari tahu penyebab ilmiah di balik fenomena yang mereka lihat. Pembelajaran yang menyenangkan juga diharapkan membantu siswa memahami materi sekaligus mendukung proses pemulihan psikososial setelah bencana.
Boardgame sebagai Media Edukasi Psikososial
Selain pembelajaran sains, tim ITB menyelenggarakan edukasi psikososial melalui permainan papan atau boardgame di SDN Karya Bakti. Kegiatan dirancang untuk membangun komunikasi, konsentrasi, kerja sama, rasa percaya diri, dan interaksi positif antarsiswa.
Tiga permainan yang diperkenalkan ialah Mathstory, Jaganima, dan Cats in The Rugs. Ketiganya dikembangkan oleh Alvanov Zpalanzani Mansoor dari Pusat Kajian Visual Storytelling & Media Sekuensial FSRD ITB dan dirilis oleh Studio Vistalab Mediakreasi.
Mathstory mengajak siswa berlatih berhitung melalui permainan bertema kepahlawanan. Jaganima memperkenalkan isu lingkungan dan ancaman kepunahan hewan khas Indonesia. Sementara itu, Cats in The Rugs dirancang untuk melatih fokus, konsentrasi, dan ketelitian dalam suasana kompetitif yang ringan.
Sekitar 50 siswa kelas 3 dan 5 mengikuti kegiatan tersebut dengan pendampingan mahasiswa. Melalui permainan, siswa tidak hanya mempelajari matematika, lingkungan, dan keterampilan kognitif, tetapi juga membangun kemampuan komunikasi dan interaksi sosial sebagai bagian dari pemulihan pascabencana.
Media Pembelajaran Diserahkan kepada Sekolah
Untuk menjaga keberlanjutan program, ketiga boardgame diserahkan kepada sekolah agar dapat terus digunakan sebagai media pembelajaran interaktif dan sarana pendukung pemulihan psikososial siswa.
Media tersebut diharapkan dapat membantu menyampaikan pesan sains, seni, dan desain dengan cara yang lebih menarik serta mudah dipahami.
Siswa menunjukkan antusiasme selama kegiatan berlangsung. Kepala sekolah dan para guru juga menyambut baik program tersebut karena dinilai mampu menghadirkan pengalaman belajar baru dan meningkatkan semangat siswa maupun guru yang masih berada dalam proses pemulihan.
Kegiatan ini mendapat dukungan dari Camat Cisarua, Koperasi Keluarga Pegawai ITB, Laboratorium Kimia Analitik FMIPA ITB, serta HMK “AMISCA” ITB.
Tim ITB yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri atas Muhammad Yudhistira Azis, Getbogi Hikmawan, Alvanov Zpalanzani Mansoor, Ilma Nugrahani, dan Hendhy Nansha.