Penerapan Konsep Circular Economy dalam Pengolahan Sampah Berawal Sampah Berujung Lele, Ayam & Watesoap

Penulis:
Dr. Ir. Moch. Chaerul, S.T., M.T.
Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung (ITB)

Setelah beberapakali terjadi ‘darurat sampah’ di Kota Bandung khususnya terkait masalah di TPA, sejumlah peraturan termasuk larangan membuang sampah organik, mendorong semua pihak melakukan pengelolaan sampah. Dengan black soldier fly, tim ilmuwan ITB melangkah lebih dari sekadar mengurangi sampah, tetapi menerapkan konsep ekonomi sirkuler agar pengolahan sampah memberi manfaat bagi penghidupan masyarakat.

Selama ini, pola pengelolaan sampah yang masih mengandalkan sistem kumpul-angkut-buang memang menjadikan Kota Bandung sebagai pembuang sampah terbesar di TPA Sarimukti. Sebanyak 70% dari total sampah ditimbun atau setara dengan 1.289 ton/hari dengan komposisi sampah organik di Kota Bandung sebesar 58%.

Menyusul terjadinya kebakaran di Tempat Pengolahan Akhir Sarimukti yang sempat menyebabkan terjadinya masa darurat persampahan beberapa waktu lalu, muncullah Instruksi Gubernur Jawa Barat No. 02/PBLS.04/DLH yang mengatur bahwa TPA Sarimukti hanya menampung 50% residu dan tidak diperbolehkannya pembuangan sampah organik ke TPA.

Pemerintah Kota Bandung kemudian melakukan berbagai terobosan modifikasi teknologi pengolahan sampah organik, antara lain Kang Empos (Karung Ember Pengomposan), Loseda (Lodong Sesa Dapur) dll. dalam mengurangi pengiriman sampah ke TPA.

Dalam menghadapi tantangan keberlanjutan, tim ilmuwan ITB menerapkan teknologi pengolahan sampah organik yang dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA sekaligus menawarkan potensi ekonomi yang lebih besar. Teknologi menggunakan maggot Black Soldier Fly /BSF, atau lebih dikenal sebagai magotisasi diharapkan dapat memberi dampak lebih berkelanjutan.

Tim Pengabdian Masyarakat LPPM ITB di Kelurahan Jatihandap, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung, berupaya menjawab tantangan ini menjadi solusi berkelanjutan. Tim yang dipimpin oleh Dr. Ir. Moch. Chaerul, S.T., M.T., telah memperkenalkan konsep Circular Economy dalam pengolahan sampah organik menggunakan magot BSF (Black Soldier Fly) dalam mengurangi timbulan sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Konsep Circular Economy dalam pengolahan sampah adalah pendekatan yang bertujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber daya dengan cara mendaur ulang bahan-bahan yang sebelumnya dianggap limbah.

Di lokasi ini tim pengabdian ITB melakukan empat tahap persiapan sebelum kegiatan dilakukan. Pertama, tahap persiapan, proses ini dilakukan dengan pembentukan tim dan koordinasi awal dengan masyarakat. Setelah proses persiapan, identifikasi dan pemetaan permasalahan dilakukan dengan survei di area Jamaras dan rumah maggot. Selain itu, juga dilakukan diskusi dan wawancara terkait pengelolaan dan pengolahan sampah eksisting dengan Watesa.

Setelah identifikasi masalah, tahap ketiga yang dilakukan yaitu perumusan masalah. Proses ini dilakukan untuk menentukan tujuan dan rencana pelaksanaan. Tahap keempat, yaitu pelaksanaan. Proses pelaksanaan terdiri dari rangkaian kegiatan yaitu sampling timbulan dan komposisi sampah setempat, pengujian karakteristik sampah melalui uji laboratorium, perbaikan dan pengembangan rumah magot, peresmian, serta evaluasi dan monitoring.

Tenaga sisa

Penerapan magotisasi dilakukan di RW 02 dan RW 11 di Kelurahan Jatihandap, Kecamatan Mandalajati Kota Bandung. Fasilitas yang ada berada di lahan seluas 300 m2 milik salah satu warga setempat yang telah mengizinkan lahannya dimanfaatkan sebagai fasilitas umum.

Wilayah RW 2 dan RW 11 yang dikenal sebagai daerah Jamaras merupakan kawasan padat penduduk terdiri dari sekitar 360 KK atau sekitar 1.620 orang. Lebar jalan akses yang hanya 1,2 meter membatasi pergerakan gerobak pengumpul sampah konvensional menuju ke TPS Cikadut terdekat yang berjarak sekitar 1 km.

Dalam kondisi tersebut, warga tergerak untuk mampu mengolah sampah – terutama sampah organik secara mandiri. Lebih jauh lagi, dalam inisiatif ini sampah organik dari warga di tujuh RT di RW 02 Jamaras dikumpulkan dan diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat.

Operasional fasilitas magotisasi di Jamaras dilakukan secara sukarela oleh Kelompok Swadaya Masyarakat yang dimotori oleh empat orang ibu-ibu dan seorang koordinator yang menamakan diri Watesa (Wanita Tenaga Sesa). Sesuai dengan namanya, ibu-ibu Watesa mulai bekerja menangani sampah organik setelah kesibukan sebagai ibu rumah tangga di pagi hari.

Pengolahan sampah di Jamaras dilakukan mulai dari pengumpulan sampah. Masyarakat yang ikut menyumbangkan sampahnya untuk diolah oleh Watesa harus memilah sampahnya menjadi minimal dua jenis yaitu sampah sisa makanan atau dedaunan dan sampah lainnya.

Sampah organik atau sampah sisa makanan dan dedaunan akan dijemput secara door-to-door menggunakan gerobak dorong dan ember. Sampah organik terpilah di setiap rumah dikumpulkan terlebih dulu di setiap RT yang selanjutnya setiap Rabu dan Sabtu dibawa oleh Watesa ke fasilitas magotisasi.

Watesa juga sudah menyediakan ember di beberapa titik area pemukiman warga untuk dapat mengumpulkan sampah selain sampah sisa makanan dan dedaunan. Watesa akan memilah sampah recycle atau sampah yang masih memiliki nilai ekonomi untuk disetorkan kepada bank sampah ataupun pengepul. Sisa sampah atau residu tetap akan diangkut menuju tempat pengolahan akhir sampah.

Pengolahan sampah menggunakan magot BSF menjadi salah satu inovasi yang diimplementasikan. Kapasitas magotisasi di Jamaras sekitar 250 kg sampah organik per minggu karena keterbatasan peralatan yang dimiliki. Sebagian sampah organik dikomposkan dengan metode bata terawang yang kurang memiliki nilai ekonomi.

Magot yang dihasilkan digunakan sebagai pakan ikan lele, mujair, dan ayam yang terintegrasi dalam bangunan pengelolaan sampah dengan panjang 8,5 meter dan lebar 6 meter. Fasilitas magotisasi belum dilengkapi dengan atap yang memadai.

Produk magot dijual sebagai umpan memancing dengan harga relatif murah Rp 8.000 per kg. Dengan lahan yang tersedia, sebenarnya masih memungkinkan adanya pemanfaatan magot secara langsung misalnya sebagai pakan ikan yang dapat meningkatkan nilai ekonominya.

Residu padatan magot atau kasgot (bekas magot) sebenarnya memiliki karakteristik seperti kompos yang dapat digunakan untuk budidaya berbagai tanaman. Kompos yang dihasilkan dari sampah organik dijadikan pupuk untuk tanaman organik yang sehat dan bergizi, mendukung ketahanan pangan di tengah perkotaan. Produk lain seperti sabun Eco Enzyme dengan merek Watesoap juga berhasil diproduksi dan siap dipasarkan.

Salah satu elemen kunci dari keberhasilan program ini adalah partisipasi aktif ibu-ibu di RW 02 Jamaras. Meski dikenal dengan sebutan "Wanita Tenaga sesa", semangat mereka tidak kalah dengan kaum muda dalam menggerakkan pengelolaan sampah di wilayahnya.  

Kiprah mereka tidak hanya membantu mengatasi masalah sampah, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan baru dan memberikan contoh bagi wilayah lain di  Bandung untuk menerapkan pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Sejumlah peningkatan kapasitas dilakukan pula oleh tim ITB, yaitu dengan membangun beberapa fasilitas untuk meningkatkan upaya pengurangan dan pengolahan sampah di Jamaras seperti pembuatan kandang lalat BSF beserta rak pembesaran, kolam ikan serta kandang ayam.

Reduksi sampah dan metana

Pengelolaan sampah organik yang dilakukan di Jamaras ini telah memberikan dampak positif yang nyata. Berdasarkan rerata hasil sampling, terdapat 23,24 kg/hari sampah yang diolah oleh Wasesa, di luar sampah residu. Dengan adanya proses pengolahan sampah, dapat ditentukan jumlah sampah yang mampu diolah sehingga tidak masuk TPA sebanyak 8,37 ton/tahun.

Berdasarkan prediksi pengurangan sampah yang masuk ke TPA, dapat ditentukan potensi penurunan emisi gas rumah kaca. Berdasarkan studi US EPA, 2023 bahwa setiap 1.000 ton sampah makanan yang dibuang ke tempat pembuangan akhir akan memproduksi 34 metrik ton gas CH4. Dalam pengelolaan sampah di Jamaras, dengan pengolahan sampah 8,37 ton/tahun sampah organik maka dapat mencegah 0,28 metrik ton CH4.

Jika dikonversi ke dalam potensi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK), jumlah ini setara dengan 0,28 m³ ton CH4 atau 7,09 m³ ton CO2 eqiv. Pengurangan sampah yang dibuang ke TPA ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga mengurangi risiko terjadinya kebakaran akibat gas metana yang mudah terbakar.

Program pengabdian masyakat LPPM ITB di daerah Jamaras telah berhasil melakukan revitalisasi dan peningkatan kapasitas pengolahan sampah khususnya sampah organik sehingga mampu menjalankan prinsip circular economy. Melalui inisiatif ini, Jamaras diharapkan dapat menjadi model bagi wilayah lain dalam pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan ekonomis.

Dengan konsep circular economy, program ini memberikan harapan baru bagi pengelolaan sampah di perkotaan. Inovasi dalam pengolahan sampah organik tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Peran Serta Masyarakat

Inisiatif warga di Jamaras, yaitu di RW 2 dan RW 11 di Kelurahan Jatihandap, Kecamatan Mandalajati Kota Bandung awalnya hanya mampu mengangkut sampat sebanyak 51,7 kg/hari untuk 53 rumah tangga yang terdaftar sebagai penyumbang sampah ke Watesa.

Kapasitas magotisasi di Jamaras juga masih relatif kecil karena keterbatasan peralatan yang dimiliki sehingga sebagian sampah organik dikomposkan dengan metode bata terawang yang kurang memiliki nilai ekonomi. Fasilitas magotisasi juga belum representatif.

Tim pengabdian ITB yang antara lain terdiri dari keilmuan Teknik Lingkungan yang terjun langsung ke Jamaras berupaya melakukan riset dan peningkatan kapasitas pengolahan sampah dengan pendekatan ekonomi sirkuler.

Pada pelaksanaan kegiatan awal dilakukan sampling timbulan dan komposisi sampah. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan sampah organik, residu, dan recycle; penimbangan sampah residu; pemilahan sampah organik dan recycle berdasarkan komposisinya; penimbangan setiap komposisi jenis sampah; perhitungan timbulan sampah dilakukan berdasarkan jumlah rumah terlayani.

Sampling dilakukan selama tiga kali menyesuaikan jadwal pengangkutan sampah bersama Watesa. Berdasarkan sampling yang telah dilakukan didapatkan volume sampah yang diangkut yaitu 51,7 kg/hari untuk 53 rumah tangga yang terdaftar sebagai penyumbang sampah ke Watesa.

Sampah organik seperti sayur, buah, dan sisa makanan atau organik dapur akan diolah sebagai pakan magot. Sampah organik lainnya akan diolah dengan metode komposting. Sampah residu akan diangkut menuju TPA. Sampah lainnya yang memiliki nilai ekonomi, seperti jenis plastik, kertas, logam, dan karet/kulit, akan dijual ke pengepul atau bank sampah.

Dari sampling tersebut juga dilakukan pengujian karakteristik sampah oleh Laboratorium Limbah Padat dan B3, Teknik Lingkungan ITB dengan mengungkap parameter kadar air, kadar abu, hingga C-Organik.

Berdasarkan rerata hasil sampling, terdapat 23,24 kg/hari sampah selain sampah residu yang diolah oleh Jamaras. Dengan adanya proses pengolahan sampah di Jamaras, dapat ditentukan jumlah sampah yang mampu diolah sehingga tidak masuk TPA sebanyak 8,37 ton/tahun.

Revitalisasi

Dari data yang didapat tersebut, dapat dipetakan bagaimana penerapan ekonomi sirkuler dioptimalkan serta revitalisasi proses dan infrastruktur pengolahan sampah. Pada proses pengolahan, sampah dipilah berdasarkan jenis komposisinya yaitu sampah sisa makanan atau dedaunan, plastik, kertas atau karton, logam, B3, karet atau kulit, dan residu.

Sampah sisa makanan atau dedaunan dipilah lebih lanjut dengan mempertimbangkan kemampuan magot dalam mengolah jenis sampah organik tertentu. Tim pengabdian ITB secara langsung melakukan perbaikan dan pengembangan rumah magot untuk meningkatkan pengurangan dan pengolahan sampah di Jamaras.

Fasilitas yang dibangun dari pendanaan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB antara lain pembuatan kandang lalat BSF beserta rak pembesaran, kolam ikan serta kandang ayam.

Pengembangan rumah magot dilakukan dengan perbaikan fasilitas pengolahan dan pemenuhan fasilitas pengolahan sampah. Setelah dilakukan Program Pengabdian Masyarakat warga RW 02 Jamaras mampu menternakan ayam dan ikan dengan pakan magot serta memanen sayuran dari pupuk organik.*

SDGs : #SDG12

714

views

04 August 2025