Pengabdian Masyarakat ITB dorong penyediaan air bersih di Desa Kabetan, Tolitoli

Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran Institut Teknologi Bandung (DPMK ITB) melaksanakan agenda monitoring dan evaluasi (monev) Program Pengabdian Masyarakat di Desa Kabetan, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah, pada 8–12 Oktober 2026. Agenda lapangan ini dipimpin langsung oleh Dr. Ir. Sri Raharno, S.T., M.T., dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB selaku penanggung jawab program (PIC), bersama anggota tim pengabdian Indria Herman, S.T., M.T., Ph.D. yang juga berasal dari FTMD ITB. Kunjungan strategis ini turut didampingi oleh jajaran pimpinan DPMK ITB, yakni Direktur DPMK ITB Prof. Dr.-Ing. Ir. Zulfiadi Zulhan, S.T., M.T., IPU., Kepala Seksi Pengelolaan Pengabdian Masyarakat Ferdyansyah Poernama, A.Md., serta staf pendamping Nisa Refika, S.Si., dengan menggandeng mitra akademisi lokal dari Universitas Madako Tolitoli.

Langkah awal dari rangkaian monev ini difokuskan pada penguatan kemitraan antarkampus demi memastikan program pengabdian berjalan tepat sasaran dan berakar kuat di daerah. Bertempat di kampus Universitas Madako Tolitoli, tim ITB menggelar diskusi kelembagaan yang disambut hangat oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Madako, Dr. Saugadi, S.Pd., M.Pd. Pertemuan ini turut dihadiri jajaran pimpinan fakultas dan program studi setempat, yaitu Kepala Bidang Pengabdian LPPM Bahtiar Tamrin, S.H., M.H., Dekan Fakultas Pertanian Rian C. Sondakh, S.TP., M.Si., Ketua Program Studi Peternakan Usman, S.Pt., M.P., serta Dekan Fakultas Perikanan Dr. Aliyas, S.Pi., M.P. Diskusi tersebut menjadi jembatan penting untuk menyelaraskan keahlian teknis ITB dengan pemahaman mendalam Universitas Madako mengenai karakteristik sosial, geografis, serta kebutuhan riil masyarakat di pesisir Tolitoli.

Usai konsolidasi akademik, rombongan gabungan bergerak menuju lokasi sasaran di Desa Kabetan, sebuah desa pulau yang menyimpan tantangan geografis tersendiri. Dari penelusuran di lapangan, tim mendapati realitas bahwa warga sehari-hari masih bergulat dengan keterbatasan air minum yang layak. Sumber air yang berada dekat pemukiman memiliki kualitas yang tidak memenuhi syarat kesehatan untuk dikonsumsi langsung. Sebenarnya, terdapat mata air dengan debit dan mutu air yang jauh lebih jernih di kawasan perbukitan, namun posisinya terpisah jarak sekitar dua kilometer dari pemukiman warga. Hambatan terbesar selama ini bertumpu pada ketiadaan pasokan listrik stabil untuk menggerakkan pompa penarik air, mengingat wilayah kepulauan ini belum menikmati aliran listrik secara penuh selama 24 jam.

Melihat kendala mendasar tersebut, ITB menawarkan terobosan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan dan minim biaya operasional, yakni sistem pemompaan air berbasis tenaga surya (photovoltaic water pumping system). Panel surya dipasang untuk menangkap sinar matahari melimpah di pulau ini dan langsung mengonversinya menjadi energi penggerak pompa tanpa bergantung pada jaringan listrik PLN maupun genset berbahan bakar solar. Keunggulan rancangan ini terletak pada sistem kerjanya yang sengaja dirancang tanpa baterai penyimpan daya. Dengan meniadakan baterai, biaya investasi awal terpangkas, risiko kerusakan komponen kimiawi baterai akibat cuaca laut dapat dihindari, dan prosedur pemeliharaan menjadi jauh lebih ringkas bagi warga setempat.

Skema distribusinya dirancang secara efisien: pada siang hari saat matahari terik, pompa surya akan bekerja memindahkan air bersih dari sumber sejauh dua kilometer menuju toren atau tandon penampungan utama yang diletakkan pada elevasi tanah yang lebih tinggi. Dari bak penampung di ketinggian tersebut, air akan dialirkan menuju rumah-rumah warga secara gravitasi murni tanpa memerlukan dorongan pompa tambahan. Cara ini memastikan ketersediaan air tetap mengalir ke kran warga bahkan saat cuaca mendung atau malam hari, selama tandon penampungan telah terisi penuh saat siang hari.

Teknologi handal tentu membutuhkan jaminan higienitas dan tata kelola yang terstruktur. Oleh sebab itu, program pengabdian masyarakat ini turut menyematkan pendekatan Water Safety Plan (WSP) atau rencana pengamanan air minum terpadu. Pendekatan WSP ini mencakup langkah proteksi fisik di area tangkapan mata air agar terlindung dari pencemaran ternak atau aktivitas warga, mitigasi risiko kontaminasi di sepanjang jalur pipa transmisi dua kilometer, hingga pengujian parameter kualitas air secara berkala. Melalui sistem pengamanan bertingkat ini, mutu air yang sampai di gelas warga dijamin selalu higienis, segar, dan layak konsumsi.

Aspek manusia dan keberlanjutan pascaprogram juga menjadi perhatian utama DPMK ITB. Untuk menghindari problem klasik infrastruktur desa yang terbengkalai saat tim ahli kembali ke Bandung, program ini menyiapkan skema alih pengetahuan melalui pelatihan intensif bagi dua orang pemuda desa terpilih sebagai operator lokal. Kedua operator ini dibekali pemahaman teknis mengenai cara membersihkan modul surya dari debu dan garam, mengecek kinerja pompa, merawat sambungan pipa, hingga memperbaiki gangguan teknis minor. Dengan adanya penanggung jawab teknis langsung di desa, rasa kepemilikan masyarakat terhadap infrastruktur air ini akan tumbuh lebih kuat.

Dampak langsung dari instalasi air bersih ini ditargetkan menyentuh 66 kepala keluarga atau setara dengan 242 jiwa warga Desa Kabetan. Manfaatnya bukan sekadar ketersediaan air bersih di dapur, melainkan penghematan waktu dan tenaga fisik warga—terutama kaum ibu dan anak-anak—yang selama ini harus mengangkut air dari jarak jauh. Beban pengeluaran rumah tangga untuk membeli air bersih jerikenan pun dapat dipangkas, sementara taraf sanitasi dan derajat kesehatan warga otomatis terkerek naik.

Ke depan, model penyediaan air bersih mandiri energi di Desa Kabetan ini disiapkan menjadi percontohan (pilot project) yang dapat direplikasi di dusun-dusun tetangga maupun pulau-pulau kecil lain di Sulawesi Tengah. Kolaborasi erat antara ITB, Universitas Madako, dan warga lokal membuktikan bahwa inovasi sains dari kampus dapat mendarat mulus dan menjawab persoalan paling mendasar masyarakat pesisir Indonesia.

SDGs : #SDG1 #SDG3 #SDG11 #SDG13

42

views

13 October 2026