Tim Penulis:
Saat Mubarrok, Ph.D., Esa Fajar H., M.Si., Mega Yuniartik, M.P., Dieva Riswanda Putra, Wulan Larisa Olivia.
Potensi dan Ironi Perikanan Budidaya Bandeng di Riung
“Terima kasih sekali Bapak untuk mau datang ke Riung. Sejak Indonesia merdeka, Bapak, belum ada kami terima pelatihan-pelatihan budidaya perikanan” ujar Kristina Nanu, S.Pi pegawai Dinas Perikanan Bidang Budidaya Kabupaten Ngada setelah mendapat kabar akan adanya tim ITB untuk menggelar pelatihan budidaya ikan bandeng yang diketuai oleh Saat Mubarrok Ph.D. Kalimat sederhana itulah yang memantik empati tim pengabdian masyarakat (PM) ITB dalam persiapan teknis pelatihan budidaya ikan bandeng yang berkelanjutan di Desa Lengkosambi Timur, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada.
“Di Kabupaten Ngada, Lengkosambi Timur itu satu-satunya desa yang ada bandeng bapak. Ada tambak bandeng itu baru sekitar tahun 2017-an dan masyarakat yang menjadi petambak belajar mandiri” Wilbrordus Siga, S.E. menyampaikan situasi petambak kepada tim PM saat pelatihan berlangsung di lokasi tambak. Tim PM sebelum memulai pelatihan di tanggal 27 Oktober 2025, satu hari sebelumnya sudah berkeliling melakukan survei kepada stakeholder lokal dan juga pemegang kebijakan antara lain petani tambak, Camat Riung, Kapolsek Riung, Dinas Perikanan Kabupaten Ngada, Anggota DPRD Ngada Komisi IV, dan juga Wakil Bupati Ngada. Hasil dari diskusi terpisah tersebut memberi informasi yang serupa kepada tim PM bahwa masalah utama dari budidaya yang dilakukan oleh kelompok masyarakat adalah minimnya tingkat literasi budidaya bandeng yang baik dan fasilitas penunjang yang kurang, seperti teknologi pembuatan pangan dan kolam budidaya untuk pembesaran nener.
Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa kolam tambak yang digunakan masyarakat belum memenuhi standar teknis budidaya perikanan, baik dari sisi kedalaman, keseragaman dasar kolam, maupun sistem sirkulasi air. Sebagian besar petak tambak hanya membentuk parit dangkal, sehingga tidak mendukung distribusi nutrien dan kualitas lingkungan budidaya yang stabil. Kondisi ini tidak diposisikan sebagai keterbatasan semata, melainkan sebagai materi utama dalam pelatihan, dimana perbaikan desain tambak—meliputi pengerukan ulang, penguatan pematang, dan perbaikan sistem pemasukan serta pembuangan air—direncanakan sebagai tahapan lanjutan menuju penerapan budidaya bandeng berstandar nasional.
Sayangnya, kekayaan sumber daya alam tersebut belum bisa dioptimalkan oleh pelaku budidaya. Hal itu ditunjukkan oleh, pertama, desain kolam tambak yang pengerukannya tidak merata dimana tiap kolam hanya membentuk parit bukan kolam tambak yang utuh. Sistem pengairan dari laut untuk saling terintegrasi antar kolam juga belum bekerja karena pengerjaan yang tidak sesuai kaidah teknis perancangan. Kedua adalah sumber daya bandeng yang akan dibudidaya belum memenuhi standar minimal untuk dimasukkan dalam kolam tambak yang besar. Kombinasi dari dua kondisi ini memberikan efek kualitas panen budidaya yang rendah. Bandeng tidak mencapai ukuran maksimal panen karena lingkungan budidaya yang tidak mendukung. Menjadi lebih ironi karena hasil komoditas budidaya bandeng yang belum mencapai standar kualitas ini diharapkan dapat membantu Kabupaten Ngada menurunkan prevalensi stunting. Demikian, dari kompleksitas yang tidak hanya ditemui di Desa Lengkosambi Timur, tapi juga isu general di Kabupaten Ngada, pendekatan-pendekatan empiris dari tim PM ditujukan menjadi alternatif komunal yang berkelanjutan
Dukungan Elemen Publik
Safari yang dilakukan oleh tim PM sehari sebelum kegiatan bukan tanpa maksud, tim menyadari bahwa peran akademisi dalam mengimplementasikan iptek tidak akan bertahan lama tanpa dukungan stakeholder dan pembuat kebijakan daerah. Pendekatan menjadi lebih cair karena pejabat-pejabat publik bersedia meluangkan waktu bertemu tim PM, bahkan menganggap tim sebagai saudara jauh karena kesediaan untuk datang ke Ngada. “Kerjasama ini jangan terlalu cepat dan sampai disini saja, kami tentu mengharapkan bantuan dari Bapak/Ibu dosen bisa bantu kami disini belajar. Pelatihan-pelatihan ini jarang kami terima bapak, bahkan dari pusat. Kehadiran Bapak/Ibu disini untuk bagi-bagi ilmu itu toh adalah anugerah buat kami. Semoga Tuhan memberkati”, Dominikus Bobi Isu, S.E. selaku Plt Kepala Dinas Perikanan menyambut kedatangan tim PM.
Tidak hanya dinas sebagai eksekutor, Atanasius Yosep Lengu,S.Sos selaku legislator Anggota DPRD Komisi IV menitipkan pesan “Kalau bisa ada penelitian jadi bagus itu. Kami tentu sangat mendukung kegiatan-kegiatan yang mengutamakan kemaslahatan masyarakat. Hasil penelitian dapat dipakai nanti sebagai dasar buat kebijakan”. Dukungan moril juga ditunjukkan oleh Kasmin Belo, S.Sos selaku Camat Riung dan Martinus Riang selaku Kapolsek Riung ketiga menghadiri acara pelatihan, dimana gestur tersebut menambah kepercayaan publik terhadap tim akademis PM. Dengan kehadiran tokoh masyarakat mendampingi tim, tidak hanya menambah kepercayaan diri bagi tim PM itu sendiri, tapi juga memberi keyakinan kepada warga dan petambak bahwa dengan pendekatan iptek permasalahan yang dihadapi dapat terselesaikan.
Gambaran Metode Budidaya Bandeng Ber-SNI
Pelatihan budidaya bandeng yang dilaksanakan di Desa Lengkosambi Timur dirancang sebagai pengenalan bertahap terhadap praktik budidaya berstandar nasional (SNI) dengan mempertimbangkan kondisi riil pembudidaya. Pendekatan yang digunakan tidak menempatkan standar sebagai prosedur yang kaku, melainkan sebagai kerangka pembelajaran adaptif yang dimulai dari praktik eksisting masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan pelatihan difokuskan pada aspek-aspek fundamental budidaya ber-SNI, meliputi pemilihan induk, pembenihan, pembesaran, serta monitoring kualitas air, yang dipraktikkan secara langsung melalui media budidaya sementara sebelum penerapan penuh pada kolam tambak skala lapangan.
Tahap pemilihan induk merupakan kunci utama dalam keberhasilan pembenihan ikan bandeng. Induk yang sehat dan berkualitas akan menentukan mutu serta daya tahan benih yang dihasilkan. Berdasarkan SNI 6148. 1:2013, induk ikan bandeng yang ideal memiliki umur minimal 3 tahun, panjang tubuh lebih dari 60 cm, dan bobot di atas 3 kilogram. Kondisi tubuh harus ramping dengan sisik lengkap, insang merah segar, serta bebas dari luka, cacat, maupun parasit. Selain itu, induk yang baik menunjukkan gerakan aktif dan responsif terhadap pakan. Sebelum kegiatan pemijahan, induk perlu dikarantina dan diperiksa kesehatannya untuk memastikan terbebas dari penyakit menular. Seleksi induk yang dilakukan secara ketat dan sesuai standar, maka tingkat keberhasilan pemijahan meningkat, benih yang dihasilkan lebih seragam, dan produktivitas pembenihan menjadi optimal.
Pada tahap pemilihan induk, kegiatan pelatihan menyesuaikan dengan kondisi lokal dimana induk bandeng tidak didatangkan dari luar wilayah, melainkan diperoleh dari alam setempat. Indukan yang digunakan berasal dari ikan bandeng dewasa yang secara alami terperangkap di kolam tambak swadaya masyarakat saat pasang air laut. Praktik ini dipilih sebagai strategi awal yang realistis dan berbiaya rendah, sekaligus sebagai media pembelajaran bagi pembudidaya untuk mengenali ciri morfologi dan kesehatan induk sesuai kriteria SNI. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada prinsip seleksi induk yang baik tanpa ketergantungan pada suplai eksternal.
Proses pembenihan ikan bandeng berdasarkan standar SNI dilakukan secara sistematis dengan memperhatikan aspek teknis dan lingkungan. Tahapan pra-produksi dimulai dari pemilihan lokasi yang dekat pantai dengan air bersih dan bebas pencemaran. Bak pemijahan berdiameter minimal 8 meter dengan kedalaman 2,5 meter, sedangkan bak larva memiliki kapasitas sekurang-kurangnya 10 meter kubik. Air atau bak yang digunakan harus disterilkan menggunakan klorin 10 ppm dan dinetralkan dengan natrium tiosulfat. Selama masa pemeliharaan, kualitas air dijaga pada suhu 28-32 oC, pH 7-8,5, dan salinitas 30-35 ppt, dengan kadar oksigen terlarut minimal 5 mg/ L. Pakan alami seperti Chlorella sp. dan Rotifera sp. diberikan secara rutin untuk memenuhi kebutuhan nutrisi larva hingga tahap gelondongan. Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar 45 hari, benih siap panen dengan ukuran 6-8 cm dan tingkat kelangsungan hidup mencapai 80-95%.
Dalam pelaksanaan pelatihan, media bioflok digunakan sebagai sarana pembelajaran pembenihan dan pembesaran awal bandeng dalam skala terbatas. Penggunaan bioflok dimaksudkan sebagai solusi sementara mengingat keterbatasan kolam tambak yang belum memenuhi standar budidaya. Melalui media ini, peserta pelatihan memperoleh pengalaman praktis dalam mengelola kualitas air, kepadatan tebar, serta pertumbuhan ikan secara terkontrol. Bioflok tidak diposisikan sebagai sistem utama jangka panjang, melainkan sebagai media transisi hingga kolam tambak masyarakat dapat diperbaiki dan disesuaikan dengan standar budidaya perikanan yang dianjurkan.
Tahap pembesaran bertujuan menghasilkan ikan konsumsi yang berkualitas dengan ukuran pasar antara 300 gram sampai 500 gram per ekor. Persiapan sebelum penebaran benih, tambak atau kolam dikeringkan selama 7-14 hari, kemudian dilakukan pengapuran sebanyak 200-500 kg per hektar dan pemupukan menggunakan pupuk organik, dan penambahan urea serta TSP untuk menumbuhkan pakan alami, seperti klekap dan plankton. Benih yang digunakan ukuran 5-8 cm ditebar dengan kepadatan yang disesuaikan dengan sistem budidaya: 3.000-5.000 ekor/ha untuk sistem ekstensif, hingga lebih dari 20.000 ekor/ha untuk sistem intensif. Pakan tambahan berupa pelet berprotein 20-25% diberikan dua hingga tiga kali sehari sebanyak 3-5% dari total biomassa ikan. Selama pemeliharaan, pembudidaya wajib mengontrol kualitas air, mencegah hama dan penyakit, serta sanitasi tambak atau kolam. Waktu pemeliharaan 4-6 bulan, bandeng siap dipanen dengan hasil yang optimal dan bernilai ekonomi tinggi.
Komitmen Memajukan Sektor Perikanan dan Kelautan Ngada
Karena faktor kesibukan, Bupati Ngada Raymundus Bena, M.Hum menyampaikan maaf melalui stafnya kepada tim bahwa tidak bisa hadir saat kegiatan pelatihan berlangsung. Sebagai ganti, beliau mengundang tim untuk ramah tamah di rumah dinas jabatan bupati yang berada di Bajawa, Ibukota Kabupaten Ngada. Dalam diskusi yang berlangsung santai tersebut Bupati memberikan instruksi kepada bagian kerjasama kabupaten untuk melanjutkan komunikasi kepada ITB terkait potensi kerjasama dan sinergitas di masa datang. Poin-poin penting yang hendak dibahas setelah terhubungnya komunikasi antara Pemerintah Kabupaten Ngada dengan ITB yaitu: optimalisasi perikanan budidaya berbasis kearifan lokal, mewujudkan kemandirian pangan dan pilot projek desa bebas stunting di NTT, dan eksplorasi potensi pariwisata bahari sebagai sektor ekonomi alternatif. Poin terakhir menjadi sangat menarik ketika bapak bupati menceritakan fauna endemik di Ngada “Salah satu pulau yang ada di Riung tinggal hidup Mbou, Komodo khas disini tidak ada di tempat lain. Lebih kecil dari Komodo yang ada di Pulau Komodo tapi punya warna lebih bagus. Pulau-pulau lain di Riung juga bagus-bagus terumbu karangnya”. Sejauh penelusuran literatur ilmiah, belum ada studi yang yang mengungkap Mbou dari kajian spesies, sebaran, dan lainnya. Dengan adanya kerjasama, bukan tidak mungkin Ngada menjadi mitra living-lab bagi ITB di masa mendatang mempertimbangkan wilayah kajian studinya masih sangat terbatas dalam publikasi ilmiah.
Menyambung Harapan Yang Berkelanjutan
“Kami ini punya SMK Perikanan, alat-alat ada. Tapi sayangnya Bapak/Ibu dosen, kami tidak tahu cara buat pakan ikannya meskipun alatnya ada. Sumberdaya siswa dan guru siap untuk diajari nanti. Tolonglah, kalau ada rejeki datang kembali ajari anak-anak kami ini supaya bisa diberdayakan dan membantu petambak dapat pakan ikan” harap Kepala Desa Lengkosambi Timur, Laurensius Ranu menutup kegiatan praktek pelatihan budidaya bandeng di tambak warga. Pakan menjadi isu mendesak selain literasi budidaya bandeng itu sendiri. Sampai saat ini tidak ada industri pakan ikan di Pulau Flores, sehingga rantai pasok pakan ikan mengandalkan pengiriman dari Pulau Jawa atau Lombok yang didaratkan di Ende dan Maumere sebelum masuk ke pasar di Ngada. Sehingga, perencanaan strategis selanjutnya adalah pelatihan pembuatan pakan ikan organik berbahan dasar komoditas pakan lokal seperti sorgum. Kolaborasi dengan Dinas Perikanan dan PKK Kabupaten Ngada memungkinkan distribusi ilmu sampai hingga ke desa lainnya, tidak terkonsentrasi di desa tempat pelatihan berlangsung.
Ucapan Terima Kasih
Program ini berhasil dilaksanakan atas peran kolaborasi partisipatif lintas bidang ilmu dan lintas perguruan tinggi yang direpresentasikan oleh Mega Yuniartik, MP dari Prodi Ilmu Perikanan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi dan Esa Fajar Hidayat, MSi dari Prodi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Turut terlibat aktif dan menjadi pilar Kampus Berdampak dalam kegiatan, anak-anak kami Dieva Riswanda Putra dari Prodi Oseanografi ITB dan Wulan Larisa Olivia dari Prodi Teknik Geodesi & Geomatika ITB.
Kepada DPMK ITB melalui Skema Desanesha Bottom-Up Tahap III yang mendukung finansial kegiatan sehingga masyarakat Lengkosambi Timur secara khusus dan masyarakat Ngada umumnya mendapat manfaat dari kemajuan iptek ITB.