Perkuat Ketahanan Pangan di Ngada dengan Olahan Ikan

Ketua:
Ivonne Milichristi Radjawane, Ph.D.
FITB, ITB
KK Oseanografi Lingkungan
Anggota Tim:
Saat Mubarrok, Ph.D., Jeny Ernawati Tambunan, M.Si., Dr. Donny Kusuma Hardjani, Ilham 

 

Hantu Stunting

Data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan melalui Survei Gizi Indonesia di tahun 2024 menunjukkan angka prevalensi yang tinggi di bebrapa provinsi jauh melampau standar yang dikeluarkan oleh WHO yaitu sebesar 20%. Posisi pertama adalah Papua Pegunungan (40%) diikuti oleh Nusa Tenggara Timur (37%), dan Sulawesi Barat (35.4%) dimana angka tertinggi masih menjadi milik NTT apabila mempertimbangkan usia terbentuknya provinsi. Sebagai informasi, Papua Pegunungan menjadi provinsi ke-35 Indonesia di tahun 2022 dengan struktur pemerintahan masih dalam proses pengembangan.

Meskipun tidak seragam, sorotan tajam kemudian ditujukan ke daerah-daerah di NTT tentang bagaimana strategi mengatasi stunting ini. Ngada, sebagai salah satu kabupaten di NTT melihat stunting bagai bertemu hantu. Angka yang diterima sering turun naik dan sering berubah faktor penyebabnya. Menurut informasi yang diberikan oleh Ketua TP PKK Kabupaten Ngada, Ibu Blandina Mamo, faktor dominannya adalah dipengaruhi oleh buruknya pola asuh anak yang mempengaruhi pemenuhan gizi harian.

Ibu Blandina Mamo menyampaikan keprihatinannya bahwa angka prevalensi stunting naik menjadi 13% yang banyak ditemukan kasusnya di Bajawa. Ironinya, melalui Keputusan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor 343 Tahun 2025 Tentang Status Kemajuan dan Kemandirian Desa menunjukkan seluruh desa di Bajawa berstatus Maju dan Berkembang. Bisa dibayangkan, apabila kasus kenaikan stunting ini tidak ditangani serius karena dianggap berada daerah maju, maka isu stunting dan gizi anak akan terus menghantui Ngada khususnya Bajawa.

 

Sentuhan ITB dan Keberlanjutan

Melalui berbagai program kemitraan, Dr Ivonne M Radjawane (Dosen KK Oseanografi Lingkungan dan Terapan ITB) sudah menyaksikan wajah asli Indonesia dari wilayah timur hingga barat. Sayangnya, antar wilayah tidak sepadan keadilan yang diterima bahkan untuk sekedar dimensi layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, air bersih, maupun infrastruktur dasar. Atas kepekaan sosial dan sisi humanisme, Dr Ivonne membentuk tim lintas bidang ilmu, lintas fakultas, dan bahkan lintas perguruan tinggi untuk bersama membangun kesadaran, gagasan, dan optimisme di Kabupaten Ngada sebagai lokasi percontohan bebas stunting untuk daerah lainnya di NTT. Pendekatan yang dilakukan adalah pemenuhan kebutuhan gizi melalui sumber protein hewani kaya nutrisi berbiaya rendah. Indeks kemiskinan di NTT yang mencapai 17.5%, salah satu terendah dalam skala nasional, menuntut inovasi yang efisien dan ramah untuk segala kelas sosial masyarakat berbasis kearifan lokal. Oleh karena itu, pada tahap pertama Dr Ivonne bersama tim membuat desain budidaya ikan dalam ember (budikdamber) yaitu inovasi budidaya ikan lele dan kangkung bergaya urban yang tidak banyak membutuhkan lahan luas maupun modal besar. Pelatihan yang diberikan pada Juli 2025 dinyatakan berhasil, hal itu dsampaikan langsung oleh Bobi Isu, SE selaku Kepala Dinas Perikanan “saya praktekkan budikdamber itu di rumah dan sudah panen 3-4 kali” pernyataan yang disampaikan saat tim kembali berkunjung di Januari 2026. Bahkan, Ibu Blandina Mamo selaku ketua TP PKK mendiseminasi ulang materi yang diberikan oleh tim Dr Ivonne kepada kelompok PKK di Kecamatan Golewa pada November 2025 silam.

Gagasan sederhana yang mampu merangsang masyarakat untuk berinovasi mandiri ini tentu bagian dari keberhasilan kampanye Kampus Berdampak, dimana konsep skala laboratorium membawa perubahan di tengah permasalahan masyarakat. Tingginya antusiasme masyarakat Ngada terhadap program yang diberikan, khususnya Bajawa, berubah menjadi bahan bakar bagi tim untuk membuat gebrakan inovasi baru menurunkan prevalensi stunting.

Melanjutkan program sebelumnya, maka kegiatan pengabdian masyarakat lanjutan berfokus pada inovasi teknologi pengolahan ikan hasil budikdamber yang tetap mengusung konsep ramah kantong. Mempertimbangkan morfologi Kabupaten Ngada yang mencakup area dataran tinggi maupun pesisir laut, maka komoditas ikan olahan yang dijadikan objek inovasi adalah ikan laut dan air tawar yaitu tuna dan lele. Diversifikasi produk olahan yang direncanakan adalah abon (tuna) dan nugget (lele)

 

Potensi Perikanan di Ngada

Kabupaten Ngada memiliki potensi perikanan laut yang strategis, didukung oleh wilayah pesisir yang luas serta keberagaman komoditas perikanan, seperti ikan, lobster, rumput laut, dan mutiara. Meskipun demikian, tingkat pemanfaatan dan pengembangan sumber daya perikanan tersebut masih belum optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor perikanan—baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya—masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan guna meningkatkan nilai tambah ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Berdasarkan Investment Guide Book Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), produksi perikanan tangkap di Kabupaten Ngada diperkirakan mencapai sekitar 5.911 ton per tahun dengan nilai ekonomi sekitar Rp 140,7 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa sektor perikanan memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian daerah, meskipun perannya masih relatif lebih kecil dibandingkan beberapa kabupaten lain di Provinsi NTT. Selain itu, data statistik terbaru tahun 2022 mencatat kontribusi perikanan budidaya sebesar sekitar 524 ton, yang turut memperkuat peranan sektor perikanan dalam mendukung pembangunan ekonomi lokal.

Jenis sumber daya perikanan yang berpotensi dikembangkan di perairan Kabupaten Ngada mencakup berbagai komoditas perikanan laut bernilai ekonomi tinggi. Berdasarkan karakteristik perairan NTT secara umum, komoditas tersebut meliputi ikan pelagis (seperti tuna, tongkol, dan cakalang), ikan demersal (seperti kakap dan kerapu), serta sumber daya non-ikan seperti udang, cumi-cumi, teripang, dan rumput laut. Sebagian besar komoditas ini dinilai relevan dan memiliki prospek pengembangan yang baik di perairan Kabupaten Ngada.

Selain perikanan tangkap, sektor perikanan budidaya juga memiliki potensi yang cukup menjanjikan, khususnya budidaya rumput laut dan mutiara, seiring dengan kondisi perairan yang mendukung keberlanjutan ekosistem laut. Pengembangan perikanan budidaya diharapkan dapat mendorong diversifikasi komoditas, meningkatkan nilai tambah produk perikanan, serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir di Kabupaten Ngada.

 

Pelatihan Inovasi Teknologi Pengolahan Produk Perikanan

Melanjutkan keberhasilan program budidaya ikan dalam ember (budikdamber), tim pengabdian kemudian menginisiasi pelatihan inovasi teknologi pengolahan produk perikanan sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan pangan rumah tangga di Ngada. Jika sebelumnya masyarakat diajak untuk memproduksi sumber protein secara mandiri melalui budidaya lele, maka pada tahap ini fokus diarahkan pada peningkatan nilai tambah hasil panen melalui diversifikasi produk yang praktis, bergizi, dan ramah kantong.

Pelatihan yang dilaksanakan di Bajawa ini mengusung dua produk utama, yakni pembuatan nugget berbahan ikan lele dan abon berbahan ikan tuna. Pemilihan kedua komoditas tersebut mempertimbangkan kondisi geografis Kabupaten Ngada yang mencakup wilayah daratan tinggi serta akses terhadap hasil perikanan laut. Lele dipilih sebagai representasi ikan air tawar hasil budikdamber yang dapat diproduksi secara mandiri oleh keluarga, sedangkan tuna menjadi simbol potensi perikanan laut yang melimpah di wilayah NTT.

Pada sesi pelatihan, peserta yang terdiri dari ibu-ibu PKK dan perwakilan kelompok masyarakat diperkenalkan pada teknik dasar pengolahan ikan yang higienis dan efisien. Pelatihan ini tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga pemahaman gizi dasar, khususnya pentingnya protein hewani dalam mencegah stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Peserta diajak memahami bahwa inovasi sederhana di dapur rumah tangga dapat berkontribusi besar terhadap perbaikan status gizi anak. Dengan pendekatan yang aplikatif dan mudah direplikasi, masyarakat didorong untuk menjadikan nugget lele dan abon tuna sebagai bagian dari pola konsumsi rutin keluarga.

Antusiasme peserta menunjukkan bahwa inovasi pengolahan ini membuka ruang kreativitas baru sekaligus peluang ekonomi skala rumah tangga. Produk yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai sumber gizi, tetapi juga berpotensi menjadi komoditas usaha kecil yang memperkuat kemandirian pangan dan ekonomi lokal. Dengan demikian, pelatihan inovasi teknologi pengolahan produk perikanan menjadi mata rantai penting dalam upaya kolektif menjadikan Ngada sebagai daerah percontohan bebas stunting di NTT.

 

Warisan IPTEK ITB di Ngada

Di Ngada, kita bisa melihat sisi paradoks dari pembangunan masif yang terjadi di Indonesia bagain barat khususnya di Jawa. Anak-anak kecil di Jawa umum membicarakan cita-cita menjadi dokter, pilot, ilmuwan, dan lainnya, sementara banyak anak-anak Ngada masih harus berupaya keras keluar dari jerat stunting dan akses pendidikan layak. Meskipun inovasi sederhana yang dilahirkan dari ilmu pengetahuan mampu menjawab tantangan isu besar, namun akademisi bukanlah pesulap yang dapat memberikan hasil secara instan sendirian. Dukungan dari lapisan masyarakat lainnya tentu dapat menjadi katalis untuk cita-cita besar menjadikan Ngada daerah percontohan di NTT dengan kenaikan indeks pembangunan manusia yang berawal dari langkah kecil yaitu kemandirian pangan skala rumah tangga melalui inovasi budidaya dan pengolahan produk perikanan rendah biaya.

SDGs : #SDG2

95

views

31 August 2026