Petakan Rahasia Air Bawah Tanah Desa Cikarag Malangbong

Ketersediaan air bersih merupakan pondasi utama bagi kehidupan bermasyarakat, kesehatan lingkungan, dan produktivitas ekonomi pedesaan. Di tengah dinamika perubahan iklim dan fluktuasi curah hujan, pengelolaan sumber daya air berbasis data ilmiah menjadi kebutuhan mutlak agar krisis air tidak menjadi ancaman menahun. Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat melalui program Bestari Saintek meluncurkan inisiatif bertajuk “Living Lab Ketahanan Air Berbasis Eksplorasi Geologi Bawah Permukaan, Internet of Things, dan Ekonomi Berkelanjutan”. Berlokasi di Desa Cikarag, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, program ini dirancang sebagai wadah terpadu untuk menjembatani kepakaran riset geologi terapan dengan kebutuhan konkret warga lokal dalam mengamankan pasokan air bersih secara mandiri dan berkelanjutan.

Inisiatif ini dipimpin langsung oleh Dr. Dasapta Erwin Irawan bersama tim akademisi dan peneliti yang beranggotakan Dr. Dadi Abdurrachman, Affan Arif, S.T., M.T., dan Tessa Mariana, S.T., M.T. dari Sekolah Tinggi Teknologi Mineral Indonesia (STTMI). Melalui sinergi keilmuan dan keterlibatan aktif masyarakat setempat, program Living Lab ini mentransformasikan metode eksplorasi bawah permukaan modern menjadi aksi nyata pemberdayaan masyarakat.

Konsep Living Lab atau laboratorium hidup menempatkan proses penelitian dan penerapan teknologi langsung di tengah ruang hidup masyarakat. Dalam skema ini, warga Desa Cikarag tidak sekadar diposisikan sebagai penerima manfaat pasif, melainkan sebagai mitra dialog dan pemilik bersama atas keberlanjutan sumber daya air di desanya.

Dalam rangka mewujudkan transfer pengetahuan yang inklusif, tim pelaksana menggelar forum musyawarah, sosialisasi, dan diskusi interaktif di balai desa. Forum ini didesain santai dan komunikatif agar konsep-konsep geologi dan geofisika yang kompleks dapat dipahami dengan mudah oleh masyarakat lintas generasi. Tim pengabdi memaparkan hasil rekaman geofisika bawah permukaan menggunakan visualisasi penampang warna yang komunikatif. Warga diajak melihat langsung "peta tembus pandang" dari lapisan tanah tepat di bawah pekarangan dan ladang mereka.

Langkah ini bertujuan mendemokratisasi data sains agar tidak berhenti di arsip laporan akademis. Melalui dialog interaktif ini, masyarakat memahami:

  1. Keberadaan Akuifer Alami: Mengetahui dengan pasti zona batuan dan pasir pembawa air (akuifer) yang selama ini menyuplai sumur-sumur galian maupun bor milik keluarga mereka.
  2. Urgensi Pelestarian Daerah Resapan: Menyadari bahwa keberadaan air tanah sangat bergantung pada bagaimana permukaan tanah di sekitarnya dirawat, termasuk mencegah pencemaran dan tutupan beton berlebihan di zona resapan kritis.
  3. Akurasi Pengeboran Sumur Masa Depan: Memberikan dasar pertimbangan teknis agar rencana penambahan sumur baru di kemudian hari tidak lagi mengandalkan perkiraan spekulatif yang berisiko gagal atau menghabiskan biaya besar tanpa hasil optimal.

Eksplorasi ilmiah lapangan dijalankan melalui metode geolistrik resistivitas. Cara kerja metode ini didasarkan pada injeksi arus listrik berkekuatan rendah ke dalam tanah melalui elektroda-elektroda khusus, lalu mengukur respons tahanan jenis (resistivitas) dari susunan lapisan batuan dan fluida di dalamnya. Karena air tanah memiliki sifat penghantar listrik yang jauh lebih baik dibandingkan batuan keras atau tanah kering, variasi nilai resistivitas ini dapat diterjemahkan menjadi pemetaan penampang dua dimensi.

Hasil pencitraan geofisika disajikan dalam gradasi warna penampang bawah permukaan:

  • Biru hingga Biru Tua: Mengindikasikan zona resistivitas rendah yang menandakan lapisan tanah jenuh air atau akuifer dengan volume fluida melimpah.
  • Hijau hingga Kuning: Menggambarkan material tanah lempung atau batuan dengan kelembapan sedang hingga menengah.
  • Merah hingga Ungu: Menunjukkan formasi batuan masif, keras, padat, atau lapisan lempung kering yang tidak mampu menyimpan maupun meloloskan air dalam jumlah berarti.

Sebanyak 11 lintasan pengukuran geolistrik dibentangkan secara sistematis melintasi wilayah Desa Cikarag. Data ini kemudian ditumpangsajikan (overlay) secara presisi dengan koordinat sumur-sumur eksisting yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Analisis data lapangan menunjukkan korelasi yang sangat kuat antara fenomena geologi bawah permukaan dengan kondisi air masyarakat:

  • Sebaran Akuifer Utama: Lintasan 3, 6, 8, 9, dan 11 memperlihatkan anomali warna biru tebal pada interval kedalaman tertentu. Area ini mengonfirmasi keberadaan kantung cadangan air bawah tanah utama yang potensial menopang kebutuhan domestik kawasan permukiman Desa Cikarag.
  • Validasi Posisi Sumur Eksisting: Sebagian besar sumur warga terbukti berdiri tepat di atas atau berhimpitan langsung dengan koridor akuifer yang terdeteksi. Temuan ini secara ilmiah memvalidasi bahwa pasokan air masyarakat selama ini bersumber dari formasi pembawa air tersebut, sekaligus menegaskan pentingnya proteksi ketat pada zona-zona ini.
  • Karakteristik Geologi Berlapis: Pada beberapa lintasan pengukuran lainnya, seperti Lintasan 1, 2, 5, dan 10, formasi atas didominasi oleh batuan keras dan lapisan kering (anomali hijau hingga merah) sebelum menembus zona air yang berada di lapisan batuan yang lebih dalam. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa titik sumur di area tersebut memerlukan kedalaman ekstra atau memiliki karakteristik debit yang berbeda.

 

 

Agar hasil eksplorasi geologi ini berdaya guna jangka panjang, tim Bestari Saintek merumuskan tiga rencana tindak lanjut terpadu:

  1. Penetapan Kawasan Konservasi dan Resapan: Bekerja sama dengan pemerintah desa dan pemangku kebijakan lokal untuk menandai zona resapan utama. Upaya ini memastikan tata ruang desa terlindungi dari alih fungsi lahan yang merusak kapasitas infiltrasi air hujan.
  2. Penyusunan Panduan Teknis Pengeboran: Menyediakan data kedalaman target akuifer dari 11 lintasan sebagai rujukan baku bagi warga maupun program bantuan sarana prasarana desa. Dengan panduan kedalaman optimal, pengeboran sumur baru menjadi presisi, hemat biaya, dan minim risiko kegagalan.
  3. Edukasi Tata Kelola Sumber Daya Air Berkelanjutan: Mengembangkan pendampingan berbasis komunitas agar pola pemanfaatan air sumur dilakukan secara bijak. Program ini juga membuka jalan bagi integrasi teknologi monitoring digital berbasis sensor cerdas untuk memantau fluktuasi muka air tanah di masa mendatang.

Kehadiran program Bestari Saintek di Desa Cikarag membuktikan bahwa kolaborasi antara kepakaran perguruan tinggi dan partisipasi aktif warga mampu melahirkan solusi ketahanan air yang kokoh. Dengan bekal wawasan geologi bawah permukaan, masyarakat Desa Cikarag kini memiliki pijakan ilmiah yang kuat untuk menjaga, merawat, dan mengelola sumber daya air tanah secara mandiri demi ketahanan hidup generasi hari ini dan masa depan.

SDGs : #SDG6 #SDG11 #SDG15 #SDG17

50

views

07 October 2026