Penulis:
Acep Purqon, S.Si., M.Si., Ph.D.
Fisika Bumi dan Sistem Kompleks
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Di balik lebatnya vegetasi Hutan Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, para petani rotan lokal bertahun-tahun menghadapi realitas ekologis yang pahit: bibit rotan muda di alam liar hampir tidak pernah bertahan hidup. Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) biji rotan yang jatuh di lantai hutan tidak pernah melebihi 5 persen. Kegagalan perkecambahan (germinasi), serangan hama serangga, perubahan suhu mikro, serta kelembapan yang tidak stabil menjadi dinding tebal yang menghalangi regenerasi alami tumbuhan pemanjat ini. Tanpa intervensi teknologi pada fase awal pembibitan, keterancaman vegetasi rotan tidak hanya merusak rantai pasok industri kerajinan, tetapi juga mengikis mata pencaharian warga desa yang menggantungkan hidup pada hasil hutan non-kayu tersebut.
Menjawab krisis regenerasi riil di tapak hutan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat lintas fakultas dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diketuai oleh Acep Purqon, Ph.D. (FMIPA ITB) bersama Deny Willy Junaidy, Ph.D. (FSRD ITB) dan Prof. Ramadhani Eka Putra, Ph.D. (SITH ITB) meluncurkan terobosan teknologi tepat guna: ITB Smart-Nursery Backpack atau Ransel Cerdas Persemaian.
ITB memandang penting membantu petani di lokasi ini karena kondisi rotan yang sangat penting. Sebagai informasi di dunia ini hampir 80% produk rotan berasal dari Indonesia. Menariknya hampir 56% dari indonesia itu berasal dari wilayah ini dari donggala sulawesi Tengah.
Inovasi ini diperkenalkan dan diimplementasikan secara langsung bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nupabomba, pemerintah desa setempat, serta mitra Industri Kecil Menengah (IKM) pada Jumat, 24 Juli 2026. Melalui model persemaian Forest-to-Home ("Hutan ke Rumah"), Ransel Cerdas mengubah pola konservasi konvensional yang pasif menjadi aksi partisipatif berbasis komunitas dari dalam rumah warga.
Menggunakan teknologi fabrikasi 3D printing di Furniture & Living Lab FSRD ITB ini didesain ringkas, fleksibel, namun memuat 50 hingga 100 bibit rotan sekaligus.
Di dalam ransel portabel ini, teknologi Internet of Things (IoT) bekerja secara terintegrasi:
Sistem otomatisasi ini memangkas tingkat kegagalan pembibitan secara drastis. Dengan proteksi fisik dari hama serta suplai nutrisi dan cahaya yang terjaga, survival rate bibit rotan yang sebelumnya berada di bawah 5 persen diproyeksikan melonjak pesat. Warga tidak lagi harus berjalan jauh merambah ke dalam hutan setiap hari hanya untuk mengecek persemaian awal; cukup memantau dari aplikasi di genggaman tangan.
Integrasi "Biophilic Co-Living": Mengubah Konservasi Menjadi Gaya Hidup
Inovasi ini tidak semata-mata menaruh perangkat elektronik di rumah warga, melainkan mengusung pendekatan rekayasa sosial berniat tinggi melalui konsep biophilic co-living. Pendekatan yang diusung oleh tim FSRD ITB ini memadukan fungsi ekologis alat dengan estetika hunian.
Unit Ransel Cerdas dirancang menyerupai elemen interior hijau yang menyatu secara harmonis dengan ruang tinggal warga. Ketika diletakkan di dalam atau teras rumah, unit persemaian ini menghadirkan elemen alam yang mempercantik hunian sekaligus mempererat ikatan emosional antara masyarakat lokal dengan ekosistem hutan mereka.
Masyarakat desa, termasuk anggota keluarga dan perempuan bisa terlibat aktif merawat calon benih hutan sambil menjalankan aktivitas harian di rumah. Konservasi hutan yang tadinya terasa berat dan berjarak kini bertransformasi menjadi gaya hidup keseharian yang inklusif dan memberdayakan.
Setelah bibit rotan melewati masa kritis 3 bulan pertama di dalam Ransel Cerdas dan kondisi fisiknya sudah cukup tangguh, bibit tersebut siap dibawa kembali (re-planting) ke kawasan Hutan Desa Nupabomba untuk tumbuh hingga usia panen.
Sinergi Hulu-Hilir: Dari Petani hingga Mitra Industri
Suatu inovasi teknologi di tingkat tapak sering kali berhenti di tengah jalan jika tidak dibarengi dengan ekosistem kemitraan yang kuat. Dalam aksi pengabdian di Nupabomba ini, ITB memosisikan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nupabomba sebagai garda terdepan penggerak program.
Implementasi di lapangan melibatkan jajaran kepemimpinan lokal secara langsung, mulai dari Kepala Desa Nupabomba Idral, Sekretaris Desa Iful Daud, Ketua LPHD Nupabomba Yen, hingga kelompok petani rotan lokal.
Lebih jauh lagi, program ini menarik rantai pasok industri dengan menggandeng Kamardin, S.T. selaku pimpinan PT Bamba Rattan Furniture, sebuah IKM pengolahan rotan terkemuka asal Palu.
|
Hulu |
Inkubasi |
Hilir |
|
Petani Rotan & |
ITB Smart-Nursery Backpack |
PT Bamba Rattan Furniture |
Transfer pengetahuan yang terjadi tidak hanya berjalan dari akademisi ke masyarakat, melainkan membentuk alih pengetahuan utuh (end-to-end) dari komunitas petani hingga pelaku bisnis furniture. Ekosistem ini memastikan bahwa upaya konservasi lingkungan berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi warga Nupabomba.
Melalui keberhasilan aksi lapangan pada 24 Juli 2026 ini, model persemaian Forest-to-Home berbasis Ransel Cerdas di Donggala diharapkan menjadi cetak biru (blueprint) baru bagi pengelolaan hutan rotan lestari di seluruh Indonesia.
5 Langkah Strategis Mengeskalasi Model Persemaian Rotan Cerdas di Skala Nasional
Inovasi Ransel Cerdas (ITB Smart-Nursery Backpack) di Desa Nupabomba, Kabupaten Donggala, telah membuktikan bahwa teknologi IoT terbukti ampuh menyelesaikan tantangan teknis pembibitan rotan. Namun, untuk menjamin keberlanjutan program jangka panjang serta memperluas dampaknya ke kawasan penghasil rotan lain di Indonesia, diperlukan dukungan sistemik dari berbagai pihak.
Berikut adalah lima langkah strategis dan rekomendasi dukungan yang perlu diakselerasi oleh pemerintah daerah, kementerian terkait, dan pemangku kepentingan industri:
1. Replikasi & Distribusi Masal Perangkat oleh Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Donggala dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dapat mengintegrasikan pengadaan unit Ransel Cerdas ke dalam skema anggaran alokasi Dana Desa atau Program Pemberdayaan Ekonomi Lingkungan.
2. Penguatan Kapasitas Digital & Literasi IoT Masyarakat Lokal
Keberhasilan pengoperasian sensor kelembapan dan pemantauan berbasis aplikasi sangat bergantung pada pemahaman warga pengguna di lapangan.
Pengembangan program berbasis masyarakat ini memerlukan dorongan regulasi dan pendanaan dari tingkat pusat.
|
Instansi/Kementerian |
Bentuk Dukungan Strategis yang Diperlukan |
|
KLHK |
Penguatan hak kelola Hutan Desa serta alokasi bibit unggul rotan nasional. |
|
Kementerian Perindustrian |
Bantuan mesin pengolahan rotan setengah jadi untuk IKM lokal agar nilai tambah produk meningkat sebelum dikirim keluar daerah. |
|
Kemendesa PDTT |
Penetapan teknologi tepat guna berbasis persemaian desa sebagai program prioritas penggunaan Dana Desa. |
|
Kemenparekraf |
Pengembangan kawasan Nupabomba sebagai destinasi Eko-Eduwisata Pembibitan Rotan Cerdas berbasis komunitas. |