Respons Cepat ITB di Lamba Leda Utara: Bangun Puskesmas Darurat dan Latih Relawan

Sebagai bentuk kepedulian nyata dan respons tanggap darurat pascabencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur, Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Rumah Amal Salman (RAS) dan Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITB (IA ITB) menerjunkan tim relawan dan tenaga ahli langsung ke Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Tim perwakilan ITB yang turun ke lapangan terdiri atas Dr. Ing. Andry Widyowijatnoko, S.T., M.T. (Dosen Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB) selaku mentor teknis konstruksi darurat dan Dr. apt. Tomi Hendrayana, S.Si., M.Si. (Dosen Sekolah Farmasi ITB) untuk asesmen sektor kesehatan dan farmasi, didampingi oleh Ferdyansyah sebagai perwakilan dari Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat dan Pelayanan Kepakaran (DPMK) ITB. Tim berkolaborasi erat dengan pemerintah kecamatan setempat, pengelola puskesmas, serta relawan lokal untuk mendampingi pemulihan warga di 11 desa terdampak yang berpusat di Dampek, Desa Satar Padut.

Gempa bumi yang mengguncang kawasan pesisir Lamba Leda Utara menyebabkan kerusakan parah pada seluruh fasilitas kesehatan di wilayah tersebut, termasuk dua puskesmas utama. Saat ini, penanganan rujukan medis intensif sempat terbantu oleh keberadaan Rumah Sakit Terapung Universitas Airlangga yang telah dialihkelolakan di bawah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Namun, operasional kapal rumah sakit tersebut dijadwalkan berakhir pada 12 September 2026, bertepatan dengan berakhirnya masa tanggap darurat. Menjawab ancaman terputusnya layanan medis, tim kolaborasi ITB, RAS, dan IA ITB mempercepat pembangunan satu fasilitas puskesmas darurat di Dampek (Desa Satar Padut). Fasilitas medis yang disiapkan mencakup:

  • Ruang ICU darurat
  • Ruang persalinan
  • Ruang nifas
  • Ruang laboratorium
  • Ruang farmasi
  • Poli gigi
  • Matras medis untuk pasien dan area istirahat tenaga kesehatan

Guna membentuk kemandirian jangka panjang dan mempermudah replikasi bangunan darurat di 11 desa, tim ITB mengadakan pelatihan konstruksi selama dua hari bagi para pemuda dan relawan lokal. Di bawah bimbingan Dr. Ing. Andry Widyowijatnoko, para relawan dilatih merancang dan mendirikan tenda serta struktur bangunan darurat dengan memanfaatkan potensi material kayu dan bambu yang melimpah di sekitar lokasi bencana. Keterampilan ini disiapkan agar masyarakat dapat mandiri membangun fasilitas penunjang tanpa terus-menerus menunggu bantuan material pabrikan dari luar daerah.

Hasil asesmen kesehatan Dr. apt. Tomi Hendrayana menyoroti risiko serius akibat terputusnya terapi penyakit kronis, khususnya hipertensi, diabetes melitus, dan tuberkulosis (TBC), yang berpotensi fatal bila tidak ditangani secara berkelanjutan. Selain itu, faktor cuaca buruk, tinggal di tenda pengungsian komunal, serta minimnya akses air bersih dan sanitasi mulai memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan diare.

Di sisi lain, trauma psikologis masih membayangi warga, tenaga kesehatan, hingga perangkat desa akibat gempa susulan yang masih kerap terjadi. Meskipun RS Kupang, Pemerintah Kabupaten Bima, TNI, dan Kompas telah sempat menggelar sesi psikososial, jangkauannya masih perlu diperluas karena banyak warga yang masih memilih tinggal di tenda darurat kendati rumah mereka relatif aman.

Ketersediaan logistik dasar saat ini berada dalam level kritis dan diperkirakan hanya mencukupi untuk 7 hari ke depan, meliputi beras, tenda/terpal, serta Makanan Pendamping ASI (MPASI). Melalui hasil koordinasi langsung, pihak Camat Lamba Leda Utara dan Kepala Puskesmas menyampaikan kekhawatiran mendalam mengenai keberlanjutan pasokan setelah masa darurat berakhir dan relawan ditarik, terutama terkait:

  • Risiko Stunting: Ketiadaan program intervensi gizi terpadu dikhawatirkan memicu lonjakan angka stunting pada balita pascabencana.
  • Tingginya Angka Kelahiran: Puskesmas lokal mencatat rata-rata 10 proses persalinan per bulan yang tetap berlangsung di tengah kondisi serba darurat.
  • Sanitasi dan Pengelolaan Sampah: Urgensi pengadaan fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) darurat dan tata kelola limbah di posko pengungsian guna mencegah wabah penyakit.

Selain sektor kesehatan, tim ITB melakukan pendataan dan penggalian data teknis terkait rencana rancang bangun kembali Masjid Al-Istiqomah (Masjid Kubah Merah Putih) di wilayah Ronting yang rusak akibat gempa. Tim juga membagikan skema teknis untuk penjajakan pembangunan ruang kelas darurat di atas tanah wakaf Pesantren Pancasila di wilayah Reo agar anak-anak tidak kehilangan akses belajar.

Sebagai strategi pemulihan ekonomi mandiri pascabencana, tim merumuskan beberapa potensi unggulan lokal yang siap dikembangkan:

  1. Hilirisasi Aren: Optimalisasi pengolahan buah kolang-kaling dan pemanfaatan serat pelepah aren menjadi produk bernilai ekonomis.
  2. Teknologi Pengairan Sawah: Penerapan sistem irigasi efisien guna meningkatkan indeks panen petani setempat dalam setahun.
  3. Sistem Pertanian Tumpang Sari: Edukasi diversifikasi tanaman di lahan persawahan guna menjamin ketahanan pangan dan memaksimalkan pendapatan petani.

SDGs : #SDG3 #SDG4 #SDG6 #SDG8 #SDG9 #SDG11 #SDG17

1235

views

08 September 2026