Cisarua, Bandung Barat, 25 Januari 2026. Bencana longsor besar yang disertai banjir bandang terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, di wilayah Desa Pasirlangu dan sekitarnya, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, akibat hujan deras berkepanjangan dan kondisi topografi perbukitan yang curam. Peristiwa ini menyebabkan aliran material tanah, lumpur, batu, dan kayu bergerak cepat menimpa permukiman di daerah aliran sungai.
Sebagai tindak lanjut respons bencana, pada Minggu, 25 Januari 2026, sejumlah dosen dan tim relawan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan kunjungan langsung ke lokasi bencana untuk meninjau kondisi nyata di lapangan, melakukan pemetaan geospasial menggunakan drone, serta mengevaluasi kebutuhan pengungsi.
Tim yang terlibat dalam kegiatan ini:
- Prof. Dr.-Ing. Ir. Zulfiadi Zulhan, S.T., M.T., IPU – Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB
- Ir. M. Agus Kariem, S.T., M.T., Ph.D., IPM – Deputi Bidang Layanan Kepakaran DPMK
- Dr.rer.nat. David Prambudi Sahara, S.T., M.T. – Deputi Bidang Pengabdian Masyarakat DPMK
- Dr. apt. Tomi Hendrayana, S.Si., M.Si. – Dosen Farmasi ITB
- Dr. Edi Riawan, S.Si., M.T. – Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB
- Dr. Astyka Pamumpuni, S.T., M.T. – Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB
- Ferdyansyah, A.Md. – Kepala Seksi Program Pengabdian Masyarakat DPMK
- Tim Fly for Humanity
- Rumah Amal Salman ITB
Tim melakukan survei lokasi terdampak serta peninjauan titik-titik pengungsian.
Bencana ini telah menyebabkan dampak signifikan bagi masyarakat setempat:
- Puluhan rumah tertimbun material longsor dan banjir bandang, sejumlah permukiman rusak parah akibat aliran tanah, lumpur, dan batu.
- Berdasarkan data sementara, sekitar 113 jiwa atau 34 keluarga terdampak langsung oleh bencana tersebut.
- Sebanyak 23 warga berhasil diselamatkan dan dievakuasi ke tenda pengungsian, sementara proses pencarian masih terus berlangsung.
- Korban yang ditemukan meninggal dunia berkisar antara 8 hingga 12 orang menurut data sementara dari tim SAR gabungan.
- Puluhan warga sekitar 79–82 orang masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan TNI, Polri, Basarnas, BPBD, dan relawan.
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah menetapkan status darurat bencana untuk mempercepat proses penanganan dan pencarian korban.
Berdasarkan hasil awal survei lapangan, Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun, S.T., M.T., pakar geologi longsoran dari Institut Teknologi Bandung, menganalisis bahwa kejadian di Cisarua bukan sekadar longsor lereng biasa, tetapi merupakan peristiwa aliran lumpur (mudflow) yang dipicu oleh longsoran di bagian hulu sistem sungai yang menutup alur sungai dan membentuk semacam bendungan alami.
Dr. Imam menjelaskan bahwa wilayah ini memiliki lapisan tanah hasil pelapukan tebal di atas batuan dasar yang relatif kedap air, sehingga saat hujan intensitas tinggi berlangsung lama, pori-pori tanah jenuh dan kekuatan geser material lereng menurun drastis, memicu longsor dan aliran lumpur.
Ia juga menekankan potensi bahaya susulan yang masih tinggi, terutama jika hujan deras kembali terjadi dan sumbatan di bagian hulu sungai yang belum hilang jebol kembali, sehingga aliran lumpur baru bisa terjadi lagi. Masyarakat di sempadan sungai dan sepanjang jalur aliran diminta terus waspada terhadap perubahan debit air sungai dan tanda-tanda alami lain seperti surutnya aliran sungai saat hujan masih berlangsung.
Berdasarkan hasil survei awal oleh tim ITB, relawan, dan aparat setempat, kebutuhan pokok yang paling mendesak untuk warga terdampak antara lain:
1. Sembako (minyak, telur, beras, gula, dll.)
2. Peralatan mandi (handuk, hygiene kit, sabun, dsb.)
3. Pakaian dalam
4. Pembalut
5. Alat ibadah, terutama mukena
6. Obat-obatan standar serta suplemen untuk mencegah masuk angin
7. Alat ultrafiltrasi penjernih air siap minum
8. Toilet portable