Pelepah pisang dan jerami yang sebelumnya menumpuk di sekitar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, kini disulap menjadi lembaran bioleather. Di lokasi yang sama, warga mengolah sampah plastik jenis High-Density Polyethylene (HDPE) menjadi merchandise dan kartu identitas. Transformasi itu berlangsung dalam Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026 yang mempertemukan tiga perguruan tinggi dengan masyarakat, sekolah, dan pengelola bank sampah di Medan dan Aceh.
Di Medan, sebanyak 35 peserta dari 14 unsur atau institusi mulai dari perguruan tinggi, sekolah menengah kejuruan, dosen, mahasiswa, guru, bank sampah, hingga Perkumpulan Arta Jaya mengikuti rangkaian pelatihan di TPST USU. Di Aceh, kegiatan serupa digelar di TPST Universitas Syiah Kuala dengan 35 peserta lain, sebagian besar dari bidang Teknik Kimia, Teknik Lingkungan, dan Teknik Industri. Total, sedikitnya 70 peserta terlibat dalam program yang mengubah material sisa menjadi produk baru tersebut.
Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026 ini digagas sebagai kolaborasi lintas kampus yaitu Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berperan sebagai host sekaligus pelaksana utama melalui Dr. Cucu Sutianah, S.Pd., M.Pd., MCE. Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai Co-Host Deny Willy Junaidy, Ph.D., sedangkan Universitas Padjadjaran (UNPAD) diwakili Dr. Yosini Deliana, Ir., M.S., dan Dr. Muhammad Arief Budiman, S.E., M.E. juga sebagai Co-Host. Ketiga kampus membagi peran sesuai kepakaran masing-masing agar seluruh rangkaian, dari material hingga pasar, tertangani.
UPI berfokus mengembangkan biomaterial berbasis pelepah pisang dan jerami menjadi bioleather untuk aplikasi tas ramah lingkungan. ITB menangani aspek desain dan pengembangan produk. Adapun UNPAD memperkuat sisi green packaging dan kewirausahaan. Ketiganya membentuk satu rantai inovasi yang bertautan material biomassa dan limbah diolah melalui rekayasa material, masuk ke tahap desain, menjadi produk, dilengkapi kemasan ramah lingkungan, hingga akhirnya membuka peluang nilai ekonomi.
Rantai itu tidak berhenti pada satu institusi. Biomaterial yang dikembangkan UPI membutuhkan desain agar dapat berkembang menjadi produk yang layak pakai. Produk yang dihasilkan kemudian membutuhkan kemasan yang sesuai agar dapat sampai ke tangan konsumen. Sementara pengembangan produk berbasis material sirkular membutuhkan pemahaman terhadap kebutuhan pengguna serta kemungkinan penerapannya di pasar. Karena itu, PMKI 2026 dirancang bukan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan sebagai satu kesatuan proses dari hulu ke hilir.
Dalam rantai tersebut, posisi desain terbilang strategis. Sebuah material baru belum otomatis menjadi produk. Dibutuhkan proses untuk menentukan fungsi, bentuk, konstruksi, kenyamanan, dan keamanan, serta berbagai pertimbangan lain agar material tersebut layak dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Desain, dalam kerangka ini, bukan sekadar membuat sebuah produk terlihat menarik, melainkan menentukan bagaimana material dapat digunakan, bagaimana fungsi produk dibentuk, bagaimana proses produksinya dilakukan, hingga bagaimana produk tersebut dapat diterima dan digunakan masyarakat.
Kegiatan PMKI 2026 sangat relevan dengan pemulihan pascabencana di Medan dan Aceh karena pemulihan tidak cukup hanya dengan membangun kembali infrastruktur fisik, tetapi juga perlu memulihkan lingkungan, mata pencaharian, dan kapasitas produktif masyarakat. Melalui pengolahan sampah plastik HDPE serta biomaterial lokal seperti pelepah pisang dan jerami menjadi bioleather, furnitur, merchandise, dan kemasan ramah lingkungan, material yang semula menjadi beban ekologis diubah menjadi sumber daya baru yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Pendekatan kolaboratif yang melibatkan perguruan tinggi, bank sampah, sekolah kejuruan, dan masyarakat juga membangun ketangguhan jangka panjang, bukan sekadar memberikan bantuan sementara. Pengetahuan, keterampilan produksi, desain, dan kewirausahaan yang ditanamkan dapat terus dimanfaatkan setelah masa tanggap darurat berakhir. Dengan demikian, kegiatan ini menawarkan model pemulihan pascabencana yang lebih utuh, membersihkan lingkungan, membuka kembali peluang penghidupan, sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat dalam menghadapi risiko bencana pada masa mendatang.
Keberagaman latar belakang peserta menjadi bagian penting dari proses belajar tersebut. Pengelola bank sampah membawa pengalaman langsung soal persoalan sampah di masyarakat. Guru dan siswa sekolah kejuruan menyumbang perspektif pendidikan dan keterampilan. Sementara dosen dan mahasiswa memberi kontribusi pengetahuan akademik, teknologi, dan desain. Pertemuan berbagai perspektif itu membuat persoalan material tidak dilihat dari satu sisi saja material yang dikumpulkan masyarakat dipahami dari karakteristiknya, dipikirkan kemungkinan pengolahannya, dirancang menjadi produk, lalu dipertimbangkan nilai manfaatnya.
Pendekatan yang diterapkan pun mengutamakan praktik langsung atau learning by doing, bukan sekadar teori. Di Medan, peserta memperoleh pelatihan pengembangan bioleather dari pelepah pisang dan jerami, material yang dieksplorasi menjadi bahan alternatif untuk produk ramah lingkungan. Pemanfaatan material berbasis limbah juga dikembangkan melalui eksplorasi sampah organik dan anorganik. Sampah organik dari tumbuhan, seperti akar, batang, kulit batang, daun, biji, buah, dan bunga, dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami untuk menghasilkan batik hijau, sementara sampah anorganik seperti logam, kertas, plastik, dan karet dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai material untuk pembuatan canting cap. Selain itu, peserta memperoleh pengalaman mengolah sampah HDPE menjadi merchandise, mulai dari pengenalan dan pemilahan material hingga pengolahan dan pembentukan produk jadi. Praktik pembuatan ID card dalam kegiatan tersebut menjadi contoh sederhana bagaimana pelatihan diarahkan langsung pada pembuatan produk yang memiliki fungsi, sehingga peserta dapat melihat secara nyata hubungan antara bahan, proses, desain, dan produk akhir.
Dalam ekonomi sirkular, perjalanan sebuah produk tidak berhenti ketika keluar dari cetakan. Kemasan turut menentukan apakah produk tersebut benar-benar berkelanjutan atau sekadar terlihat ramah lingkungan. Jika produk daur ulang masih dibungkus dengan plastik sekali pakai, sebagian persoalan lingkungan hanya berpindah ke tahap akhir. Atas dasar itu, PMKI 2026 di Medan dan Aceh memperkenalkan pembuatan kertas dan green packaging dari pelepah pisang sebagai alternatif kemasan yang lebih bertanggung jawab.
Pelepah pisang yang selama ini dianggap sebagai limbah pertanian sebenarnya kaya akan serat selulosa. Melalui proses pelunakan, penghancuran menjadi pulp, pencetakan, dan pengeringan, serat tersebut dapat diolah menjadi lembaran kertas untuk kemasan suvenir dan berbagai produk rumah tangga. Selain lebih mudah terurai secara hayati dibandingkan plastik konvensional, pemanfaatan ini juga mengurangi limbah biomassa sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sumber daya lokal.
Kegiatan ini melengkapi rantai inovasi PMKI secara utuh, mulai dari pengolahan limbah menjadi material, pengembangan desain dan produk, hingga kemasan yang siap memasuki pasar. Minat peserta untuk melanjutkan produksi secara mandiri maupun berkelompok menunjukkan bahwa teknologi sederhana ini berpotensi tumbuh menjadi usaha berbasis ekonomi sirkular. Dengan demikian, green packaging bukan sekadar pembungkus, melainkan penghubung antara inovasi material, pemulihan lingkungan, kreativitas desain, dan penguatan ekonomi masyarakat.
PMKI 2026
PMKI 2026 tidak berhenti pada pelatihan. Sejumlah pihak di luar peserta langsung juga dapat mengambil peran agar hasil program berlanjut dan produk dari material sisa ini bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
Dampak kepada Masyarakat :
Fakta Program
Langkah yang Bisa Diambil Pihak Lain