Semangat Maitara untuk Cegah Malaria

Malaria masih menjadi masalah serius di Maluku Utara. Data Kementerian Kesehatan 2024 mencatat lebih dari 500 ribu kasus di Indonesia. Kasus ini ditularkan oleh Plasmodium falciparum sebagai vektor pembawa penyakit malaria terbanyak di Indonesia. Kondisi pesisir Maitara, yang lembab dan memiliki genangan air, memperbesar risiko penularan.

Hal ini yang melatarbelakangi Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Universitas Khairun bersinergi melalui program Pengabdian Masyarakat Skema Top-Down menggelar kegiatan edukasi dan aksi nyata pencegahan malaria di Aula Pasimayou Desa Maitara Selatan. Kegiatan ini merupakan wujud nyata sinergitas perguruan tinggi dan tenaga kesehatan untuk mengeliminasi prevalensi penyakit malaria di Maitara.

Kolaborasi tim dari ITB, yang melibatkan Dr. Elsa Silvia Nur Aulia, M.Pd (Fakultas Seni Rupa dan Desain); Dr. Epin Saepudin, M.Pd.; Dr. apt. Hubbi Nashrullah Muhammad, S.Farm.; M.Si.; Dr. apt. Defri Rizaldy, S.Si., M.Si (Sekolah Farmasi); Dr. Indra Wibowo, S.Si., M.Sc (Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati); dan Dr. Wahyudin Noe, S.Pd., M.Pd.(Perwaklian dari Universitas Khairun).

Dalam upaya memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat di wilayah pesisir dan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui tim pengabdian masyarakatnya menyelenggarakan program edukasi dan pencegahan malaria bertajuk “Edukasi Digital dan Intervensi Preventif untuk Kesehatan Pesisir”. Program ini dilaksanakan di Desa Maitara Selatan, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, yang selama ini menjadi salah satu wilayah dengan kasus malaria yang cukup tinggi dan terbatasnya akses terhadap informasi kesehatan yang tepat dan berkelanjutan.

Ketua tim pengabdian masyarakat ITB, menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat merupakan fondasi penting dalam membangun generasi sehat di masa depan. Menurutnya, pencegahan malaria tidak bisa hanya berfokus pada pengobatan setelah terjadi infeksi, tetapi harus mencakup perlindungan jangka panjang, edukasi yang berkelanjutan, dan pembentukan kebiasaan hidup sehat di masyarakat. “Keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci dalam menekan angka penyebaran malaria. Edukasi harus dimulai dari keluarga, kader kesehatan, hingga sekolah-sekolah, sehingga upaya pencegahan dapat berjalan mandiri, tidak hanya bergantung pada tenaga medis,” ungkapnya.

Program pengabdian ini dirancang secara komprehensif dengan memadukan pendekatan ilmiah dan edukatif. Kegiatan utama meliputi sosialisasi gejala malaria, cara penularan, pencegahan melalui penggunaan kelambu, kebersihan lingkungan, serta pentingnya deteksi dini. Selain penyuluhan, tim juga memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang mencakup pengecekan tekanan darah, pemeriksaan kadar gula darah, serta konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan profesional. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mengenali kondisi kesehatan pribadi sejak dini agar dapat segera mendapatkan penanganan jika ditemukan gejala awal penyakit.

Mahasiswa ITB dari berbagai fakultas—mulai dari Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Teknik Lingkungan, hingga Sekolah Bisnis dan Manajemen—turut berperan aktif dalam kegiatan ini. Mereka tidak hanya membantu pelaksanaan pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan, tetapi juga mendampingi para kader kesehatan lokal dalam proses pelatihan. Tujuannya adalah agar setelah program selesai, para kader mampu melanjutkan edukasi secara mandiri kepada warga lainnya. “Kami ingin intervensi ini berdampak jangka panjang melalui kader yang siap menjadi agen perubahan di masyarakat,” ujar Dr. Elsa Silvia Nur Aulia, perwakilan tim ITB.

Acara ini juga mendapat dukungan dari banyak pihak. Perwakilan Universitas Khairun Ternate dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan hadir langsung untuk memberikan dukungan moral dan memastikan program ini selaras dengan kebijakan kesehatan daerah. Kehadiran tokoh masyarakat, perangkat desa, serta pemuka agama di Desa Maitara Selatan semakin memperkuat komitmen bersama dalam menghadapi persoalan kesehatan masyarakat.

Suasana kegiatan menjadi semakin interaktif ketika sesi edukasi dipandu oleh dua dosen Sekolah Farmasi ITB, yaitu Dr. Apt. Hubbi Nashrullah, M.Si., dan Dr. Apt. Defri Rizaldy, M.Si. Mereka menghadirkan metode penyampaian materi yang berbeda dari biasanya—melalui permainan edukatif, diskusi terbuka, dan simulasi terkait pencegahan malaria. Pendekatan ini membuat masyarakat lebih antusias dan mudah memahami informasi yang diberikan. “Kami ingin menjadikan edukasi kesehatan sebagai kegiatan yang menyenangkan, tidak menegangkan, sehingga masyarakat terbuka untuk bertanya dan berbagi pengalaman,” jelas Dr. Hubbi Nashrullah.

Partisipasi warga terlihat sangat tinggi. Anak-anak, remaja, ibu rumah tangga, hingga nelayan setempat berkumpul sejak pagi untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan dan mendengarkan penyuluhan. Bahkan beberapa warga secara sukarela berbagi cerita tentang pengalaman mereka menghadapi malaria, yang kemudian dijadikan bahan diskusi dalam sesi edukasi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek yang aktif dalam kegiatan.

Arafik Sabtu, Kepala Desa Maitara Selatan, menyampaikan apresiasi yang besar kepada tim ITB dan seluruh pihak yang terlibat. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bentuk perhatian nyata terhadap kesehatan masyarakat pesisir. “Kegiatan ini sangat bermanfaat. Bukan hanya teori, tetapi juga langsung memberikan perlengkapan, pemeriksaan kesehatan gratis. Antusiasme warga sangat tinggi, mereka merasa diperhatikan dan diberdayakan,” ujarnya.

Selain edukasi dan pemeriksaan kesehatan, tim pengabdian juga membagikan kelambu anti-nyamuk, brosur edukasi, poster gejala malaria, serta modul pelatihan kader. Mahasiswa ITB juga membuat konten edukasi digital berupa video pendek dan infografis dalam bahasa lokal yang dapat diakses melalui media sosial desa. Hal ini dilakukan agar informasi kesehatan tidak hanya disampaikan secara luring, tetapi juga dapat dijangkau secara daring oleh generasi muda dan masyarakat yang memiliki akses internet.

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Desa Maitara Selatan diharapkan tidak hanya terbebas dari ancaman malaria, tetapi juga memiliki kapasitas mandiri dalam menjaga kesehatan warganya. Program ini dirancang agar dapat direplikasi di desa-desa pesisir lainnya, khususnya wilayah 3T yang memiliki karakteristik serupa—minim fasilitas kesehatan, keterbatasan tenaga medis, dan risiko tinggi terhadap penyakit tropis.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen ITB sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada kontribusi nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat menjadi salah satu implementasi Tridharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Juga, melalui program ini ITB juga ingin menekankan bahwa pembangunan kesehatan tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakat. Teknologi, pengetahuan medis, dan kebijakan yang dibuat di tingkat pusat tidak akan efektif jika tidak diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dipahami dan dipraktikkan oleh warga di tingkat desa. Karena itu, kehadiran mahasiswa dan dosen di lapangan menjadi wujud nyata dari ilmu pengetahuan yang berpihak pada kemanusiaan dan kebutuhan masyarakat.

Selain fokus pada pencegahan malaria, kegiatan ini juga membuka ruang diskusi mengenai tantangan kesehatan lainnya seperti gizi anak, kebersihan air, dan kesehatan ibu. Hal ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pengembangan program lanjutan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan di wilayah pesisir. Tim pengabdian masyarakat ITB menyatakan bahwa mereka siap mendampingi desa dalam merancang inovasi kecil berbasis lokal, seperti pemetaan genangan air, bank data kesehatan warga, hingga edukasi melalui sekolah dan posyandu.

Dengan demikian, kolaborasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian penting dari perjalanan panjang menuju desa yang lebih sehat, mandiri, dan berdaya. Semangat ini diharapkan terus hidup di tengah masyarakat, menjadi inspirasi bagi daerah lain, dan menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat bermula dari langkah kecil yang dilakukan bersama.

Ke depan, diharapkan kolaborasi ini terus berlanjut melalui program monitoring dan evaluasi berkala, pendampingan kader secara daring, serta pemberdayaan masyarakat melalui inovasi teknologi sederhana seperti aplikasi pencatatan kesehatan atau pemetaan wilayah rawan malaria. Dengan upaya yang konsisten dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, cita-cita untuk menciptakan wilayah pesisir yang sehat, mandiri, dan bebas malaria bukanlah hal yang mustahil.

SDGs : #SDG3

140

views

30 December 2025