Program pengabdian masyarakat bertajuk Program Ekspedisi Patriot Tahun 2026 ini diselenggarakan oleh Tim Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Bandung (ITB) 2026 Lokus Barelang melalui kemitraan strategis bersama Kementerian Transmigrasi di kawasan pesisir Batam, Kepulauan Riau. Rangkaian kegiatan terpadu ini dipusatkan langsung di dua titik simpul interaksi warga pesisir, yakni fasilitas Rumah Budidaya Rumput Laut Tim Ekspedisi Patriot ITB serta Balai Nelayan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kelurahan Sembulang, Kecamatan Galang, Kota Batam. Pelaksanaan inisiatif ini dinakhodai langsung oleh Dr. Susanna Nurdjaman selaku Ketua Tim Ekspedisi Patriot ITB Lokus Barelang, dengan didukung oleh barisan anggota tim periset ITB yang meliputi Syalwa Putria Kurniawati, S.Si., Ahmad Faujan, S.Si., Gian Tadeo Hutapea, S.Si., Sriyana, S.Si., serta Trinitaty Bulan M. Hutabarat, S.T., M.Si.. Sinergi lintas pemangku kepentingan ini dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau Dr. Nyanyang Haris Pratamura, S.E., M.Si. yang bertolak dari Tanjung Pinang, Direktur Perencanaan Teknis Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Dr. Andi Wijaya, S.T., M.M., M.AP. yang mewakili Kementerian Transmigrasi dari Jakarta, serta Staf Khusus (Ad Hoc) Pengembangan Kawasan Transmigrasi Rempang Eco City Kol. CPM. Yudo Pramono, S.E., S.H., CHRMP., bersama jajaran pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, dan para nelayan serta warga Kelurahan Sembulang.
Di balik debur ombak dan lanskap perairan Barelang, denyut perekonomian masyarakat pesisir di Kelurahan Sembulang selama ini sangat bergantung pada hasil tangkapan laut tradisional. Fluktuasi cuaca ekstrem, perubahan musim tangkap, dan ketidakpastian pasar sering kali menempatkan keluarga nelayan pada posisi rentan secara ekonomi. Berangkat dari rasa empati mendalam terhadap perjuangan para nelayan setempat, Tim Ekspedisi Patriot ITB melangkah membawa pendekatan teknologi tepat guna yang berakar pada pemanfaatan komoditas lokal, yakni rumput laut hijau jenis Ulva lactuca. Tanaman laut yang selama ini kerap terabaikan disulap menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi melalui sentuhan sains ramah lingkungan.
Rangkaian kegiatan peresmian dan pelatihan hari pertama yang digelar pada Senin, 26 Oktober 2026, disambut hangat oleh warga kampung. Suasana kekeluargaan di Balai Nelayan KNMP berpadu khidmat saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dan doa bersama dilantunkan sebagai pembuka ikhtiar. Kehadiran para pimpinan daerah dan kementerian di tengah-tengah warga menjadi suntikan moral yang besar, menegaskan bahwa masyarakat Sembulang tidak berjalan sendirian dalam membangun masa depan pesisirnya.
Langkah nyata pengabdian ini diwujudkan melalui peresmian fasilitas Rumah Budidaya Rumput Laut berbasis daratan (land-based). Dalam peninjauan fasilitas, Dr. Susanna Nurdjaman bersama tim memperkenalkan sistem sirkulasi tertutup atau Recirculating Aquaculture System (RAS). Teknologi ini dirancang secara khusus untuk menjawab kerentanan budidaya laut terbuka. Melalui sistem RAS, parameter kualitas air, aerasi oksigen, serta pemenuhan nutrisi dapat dikendalikan secara presisi dan terjaga dari pencemaran lingkungan laut lepas. Para nelayan dan pemuda kampung diajak membedah tahapan teknis budidaya, mulai dari sterilisasi wadah, pemilihan dan penebaran bibit unggul Ulva lactuca, pemantauan kualitas media air, hingga teknik pemanenan yang higienis.
Kemandirian ekonomi masyarakat pesisir tidak akan terwujud tanpa lompatan nilai tambah pada penanganan pascapanen. Menyadari hal tersebut, tim ITB turut memperkenalkan mesin dehidrator sebagai instrumen pengeringan modern yang efisien. Di iklim pesisir yang lembap, metode pengeringan konvensional di bawah sinar matahari kerap menurunkan mutu rumput laut akibat paparan debu dan jamur. Pemanfaatan dehidrator mampu memangkas kadar air secara optimal sehingga bahan baku rumput laut kering memiliki masa simpan lebih lama dan higienitas tinggi. Lebih dari itu, warga diperkenalkan pada aneka produk diversifikasi pangan bernilai jual, seperti keripik Ulva, bumbu tabur gurih, serpihan rumput laut (flakes), taburan nasi ala Jepang (furikake), hingga olahan bergizi tinggi berupa bakso ikan Ulva dan nugget Ulva. Demonstrasi produk ini memantik binar semangat baru, khususnya bagi ibu-ibu pesisir untuk merintis usaha rumahan berbasis olahan hasil laut.
Program pengabdian ini dirancang tumbuh secara organik dan berkelanjutan bersama masyarakat. Tim periset ITB menjadwalkan rangkaian pendampingan langsung di lapangan, mulai dari agenda penaburan nutrisi pupuk pada 28 Oktober 2026, penggantian media air teratur pada 29 Oktober 2026, hingga agenda panen perdana dan praktik pengolahan produk hilirisasi bersama warga pada 2 November 2026 yang ditandai dengan penyerahan sertifikat kompetensi. Rumah Budidaya Rumput Laut di Sembulang kini berdiri kokoh bukan semata sebagai instalasi fisik, melainkan ruang belajar bersama (living laboratory) yang merekatkan ilmu pengetahuan kampus dengan keteguhan masyarakat pesisir dalam menjemput kemakmuran yang mandiri dan berkelanjutan.