Sebagai wujud kepedulian nyata terhadap pemulihan pascabencana gempa bumi yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026, tim ahli Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dikoordinasikan oleh Ir. Prasanti Widyasih Sarli, S.T., M.T., Ph.D. selaku PIC/ketua tim, bersama anggota tim Aditya Setiawandi, S.T., M.T. dan Efandi Nehe, S.T., M.T. dari Pusat Penelitian Mitigasi Bencana (PPMB) ITB serta Kelompok Keahlian Rekayasa Struktur, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB, terjun langsung ke lapangan melaksanakan kaji cepat kelayakan dan keamanan infrastruktur bangunan publik. Inisiatif tanggap bencana di bawah payung program ITB Peduli ini dijalankan melalui kolaborasi erat dan sinergi teknis bersama tim Kementerian Pekerjaan Umum (PU) guna memperluas jangkauan asesmen teknis terhadap fasilitas vital masyarakat terdampak di wilayah Manggarai dan sekitarnya.
Pascabencana gempa bumi, kekhawatiran terbesar masyarakat acap kali bersumber dari ketidakpastian kondisi fisik tempat mereka bernaung. Kaji cepat (rapid damage assessment) yang dilakukan tim gabungan ITB dan Kementerian PU ini memegang peranan krusial dalam menjawab pertanyaan fundamental warga: apakah bangunan tempat ibadah dan sarana belajar masih aman untuk dimasuki, hanya bisa digunakan sebagian, ataukah justru membahayakan jiwa sehingga harus segera dikosongkan?
Penilaian visual dan teknis awal ini memetakan kelayakan prasarana publik menjadi tiga tingkatan rekomendasi (tagging):
Informasi awal yang valid dan berbasis sains rekayasa ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah serta masyarakat untuk memutuskan kapan anak-anak dapat kembali bersekolah, kapan jemaah dapat beribadah tanpa rasa was-was, sekaligus menjadi pijakan prioritas penanganan, perbaikan darurat, hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi fisik pascabencana.
Tantangan asesmen di kawasan Flores pascagempa 2026 dipengaruhi oleh bentang geografis yang luas dan kontur wilayah kepulauan dengan aksesibilitas yang sangat bervariasi. Saat tim ITB tiba di lokasi sekitar tiga minggu setelah guncangan utama, tim Kementerian PU telah memetakan sebagian besar infrastruktur strategis di perkotaan dan kawasan yang mudah dijangkau kendaraan darat.
Melihat kondisi tersebut, tim ITB melengkapi dan memperluas jangkauan pemeriksaan dengan menyisir titik-titik prasarana yang belum tersentuh asesmen teknis mendalam. Tim menembus jalur-jalur darat dengan akses terbatas hingga menyeberangi perairan menggunakan moda transportasi laut demi mencapai pulau-pulau kecil di pesisir barat Flores.
Pada rangkaian inspeksi intensif tanggal 10 hingga 11 September 2026, tim ahli ITB telah menyelesaikan observasi mendalam pada empat fasilitas umum, yang mencakup tiga masjid dan satu kompleks Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS). Berdasarkan lembar hasil pemeriksaan kaji cepat yang dihimpun bersama Kementerian PU, tim ahli ITB mendokumentasikan kondisi teknis pada empat fasilitas publik tersebut: Masjid Desa Tanjung Boleng dikategorikan rusak ringan dengan temuan retak dinding di bawah 6 mm, delaminasi kolom tengah tanpa tulangan terbuka, serta pagar perimeter yang runtuh sehingga direkomendasikan perbaikan plesteran, injeksi mortar, dan pembangunan ulang pagar; Masjid Nurul Mujahidin di Dusun Pulau Boleng (Desa Batu Tiga) mengalami delaminasi keramik dinding dan kolom, retak rambut pada kolom tengah, serta retak dinding belakang mimbar melebihi 6 mm yang membutuhkan perbaikan bidang retak dan penataan ulang keramik; Masjid Al-Huda Rangko dinyatakan rusak berat dan dilarang digunakan karena retak dinding di atas 6 mm serta delaminasi balok dan kolom hingga besi tulangannya terekspos; sementara di kompleks MIS Al-Hidayah Dusun Pulau Kukusan (Desa Pasir Panjang), tiga massa bangunannya menunjukkan kondisi kontras, yakni Massa Bangunan I tidak rusak struktural namun terbengkalai tanpa perabot belajar, Massa Bangunan II berstatus penggunaan terbatas akibat deformasi kuda-kuda atap dan sambungan baut yang merenggang, serta Massa Bangunan III divonis rusak berat hingga ditutup total akibat amblasnya pondasi, retak dinding parah, deformasi atap, dan korosi tulangan.
Salah satu catatan terpenting dari temuan tim ITB di Flores adalah bahwa kerusakan yang terlihat pascagempa bukan semata-mata diakibatkan oleh besarnya magnitude getaran seismik, melainkan interaksi nyata antara beban gempa dengan kerentanan bawaan bangunan (pre-existing structural vulnerability).
Banyak fasilitas publik di kawasan pesisir mengalami penuaan material tanpa pemeliharaan berkala, pengerjaan sambungan tulangan yang belum memenuhi kaidah tahan gempa, penurunan pondasi akibat karakteristik tanah setempat, serta korosi tulangan akibat paparan udara laut berkadar garam tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa langkah mitigasi bencana ke depan harus berfokus pada audit kelaikan konstruksi secara rutin, penerapan standar Building Code bangunan ramah gempa, serta penguatan edukasi teknis bagi tukang dan masyarakat lokal.
Hingga saat ini, tim gabungan ITB dan Kementerian PU masih terus melanjutkan survei teknis ke berbagai pelosok wilayah terdampak di Nusa Tenggara Timur. Data komprehensif, dokumentasi kerusakan, dan pelabelan keamanan yang disusun di lapangan secara berkala diserahkan kepada pihak berwenang guna menjadi landasan kebijakan alokasi bantuan, desain perbaikan darurat, serta strategi rehabilitasi jangka panjang yang adaptif dan tangguh bencana.