PONTIANAK – Dalam upaya nyata mendukung target eliminasi Tuberkulosis (TBC) nasional, Sekolah Farmasi (SF) ITB bersama Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB menginisiasi program community development lintas sektor yang didukung oleh LPDP. Kegiatan yang berfokus pada penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan edukasi keluarga ini dipimpin langsung oleh Dr. apt. Pratiwi Wikaningtyas, M.Si., didampingi oleh tim ahli yang terdiri dari apt. Yangie Dwi Marga Pinanga, M.Sc., Ph.D., apt. Bhekti Pratiwi, M.Si., serta apt. Silma Aulia Rahmah, M.Si. Kolaborasi berskala besar ini turut menggandeng Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Layanan DOTS TB MDR Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Dinas Kesehatan Kota Pontianak, serta UPTD Puskesmas Pal III.
Program ini merupakan bentuk pertanggungjawaban dana publik melalui LPDP untuk memberikan dampak langsung bagi kesehatan masyarakat di daerah. Program yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini berlangsung pada 17–18 April 2026 di Puskesmas Pal Tiga, Sungai Jawi, Kota Pontianak. Mengingat Indonesia masih berada di peringkat kedua beban TBC dunia, intervensi ini hadir sebagai solusi komprehensif. Salah satu agenda krusialnya adalah Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan 15 apoteker dari seluruh puskesmas dalam cakupan Dinas kesehatan kota Pontianak. Diskusi ini menekankan transformasi peran apoteker; dari sekadar pengelola obat menjadi garda terdepan dalam pelayanan klinis, edukasi, dan pendampingan pasien guna mencegah putus obat serta memutus rantai penularan.
Tak hanya menyasar tenaga medis, program yang didanai oleh LPDP ini menyentuh akar rumput melalui tiga agenda utama yang komprehensif. Pertama, penguatan kapasitas melalui Focus Group Discussion (FGD) bagi para tenaga kesehatan (apoteker) untuk mentransformasi peran klinis mereka. Kedua, pelaksanaan penyuluhan edukatif yang menyasar orang tua dan kader TB di wilayah Sungai Jawi guna memperkuat deteksi dini dan pendampingan di tingkat keluarga.
Terakhir, tim melakukan sesi read aloud (membacakan nyaring) menggunakan buku cerita anak bertema TBC—hasil kolaborasi dengan KIBA ITB dan DKV ITENAS—khusus bagi anak-anak. Pendekatan tiga pilar ini bertujuan menghapus stigma negatif sekaligus menanamkan pemahaman bahwa kepatuhan pengobatan adalah kunci utama kesembuhan. Dengan integrasi antara penguatan profesi, edukasi keluarga, dan metode kreatif untuk anak, model intervensi ini diharapkan menjadi prototipe yang dapat direplikasi secara nasional demi tercapainya target eliminasi TBC pada tahun 2030.