AGAM - Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menegaskan komitmennya dalam aksi tanggap bencana dan pemulihan pascabencana di Sumatera Barat. Melalui program ITB Peduli Sumatera yang telah kembali turun ke lapangan sejak 18 Februari 2026, tim berfokus pada penanganan di Desa Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan. Wilayah ini tercatat sebagai salah satu lokasi terdampak bencana paling parah di Kabupaten Agam.
Langkah konkret ini diwujudkan melalui acara silaturahmi dengan Pimpinan Sumatera Barat dan jajaran Pemerintah Kabupaten Agam, yang dilaksanakan bertepatan dengan momen Safari Ramadhan di desa tersebut. Kehadiran tim ITB bertujuan untuk menindaklanjuti secara langsung krisis air bersih yang sempat melumpuhkan aktivitas warga dan operasional fasilitas kesehatan.
Kerja keras tim di lapangan membuahkan hasil yang sangat positif. Hal ini dikonfirmasi melalui laporan keberhasilan pemulihan infrastruktur air yang menyatakan bahwa krisis air di fasilitas kesehatan dan pemukiman telah teratasi dengan baik, didukung pula oleh peran serta RAS dan Ikatan Alumni (IA) Sumbar.
Pencapaian ini tidak lepas dari dedikasi tim tanggap bencana yang dipimpin oleh Ketua Tim Sumatera Barat dari ITB, yaitu Prof. Dr. apt. Ilma Nugrahani, S.Farm., M.Si. Tim lapangan ini juga diperkuat oleh para pakar lintas disiplin, di antaranya Dr. Eng. Ir. Febri Zukhruf, S.T., M.T. (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB), Dr. Muhammad Yudhistira Azis, M.Si. (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB), Syarif Hidayat, S.T., M.T. (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB), serta Dr. Hendhy Nansha, S.Ds., M.Sn., M.H. (Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB).
Gerakan pemulihan ini merupakan wujud nyata dari sinergi besar antar perguruan tinggi yang melibatkan ITB, Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Andalas (UNAND), dan UIN Imam Bonjol Padang. Program kolaborasi ini juga mendapatkan dukungan penuh dari Kemendiktisaintek, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Layanan Kesehatan ITB.
Menatap fase selanjutnya, pemulihan wilayah akan bergeser pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Pemerintah daerah saat ini tengah mematangkan program relokasi warga terdampak ke Hunian Tetap (Huntap) dan sedang dalam proses pencarian lahan seluas 6 hektare untuk pembangunan 150 unit rumah. Bupati Agam, Bapak Benni, menyambut baik progres ini dan menyatakan kesiapannya untuk terus menjalin silaturahmi serta membahas kolaborasi strategis guna mempercepat proses pemulihan bagi masyarakat.